Teruslah Melangkah, Teruslah Berjalan…

Pantai Sawarna

“Perjalanan adalah rangkaian indah untuk saling mengenal antara diri dan lainnya”

-Fauzi Noerwenda-

Canda, tawa, haru, sedih bahkan marah senantiasa menjadi bumbu-bumbu dalam satu perjalanan. Tanpa sadar, hal itu menjadi kenangan indah yang selalu ingin terulang.

Awal bulan mei, saya dan teman – teman kelas inspirasi sukabumi mendapatkan perjalanan indah ke Pantai Sawarna, Banten. Kami melakukan perjalanan dengan asas dan tujuan yang sama, bersenang-senang sambil menikmati alam ciptaan Sang Maha Kuasa.

Toyota Avanza menjadi saksi riangnya kami saat perjalanan berlangsung. Bagaimana tidak, hampir 8 jam kami bersama melewati waktu dalam kendaraan.

Tak ayal, banyak hal yang kami lakukan sepanjang perjalanan. Ngobrol masalah karir hingga jodoh, mendengarkan lagu, ngemil makanan sampai habis dan pastinya tidur. Sungguh tak disadari, ternyata momen inilah yang semakin mendekatkan kami berenam.

Saat itu kami pergi berlibur bersama 6 orang tim kelas inspirasi dan 1 orang supir yang mendampingi. Keenam orang itu adalah A Rismat, Angga, Siluth, Adita, Nur Septi dan saya sendiri.

A Rismat, seorang guru matematika yang juga sosok tertua diantara kami berenam. Orangnya tangguh dan penuh perjuangan. Kesuksesan kelas inspirasi sukabumi 1 tak bisa lepas dari perannya yang sangat efektif. Berjuang seorang diri untuk survei sekolah, tempat refleksi dan hal lainnya. Kini beliau pun masih berjuang untuk melepaskan masa lajangnya. Ada yang berminat?

Angga Ferdian, seorang bankir di sebuah bank swasta. Hampir 15 tahun saya mengenal Angga. Dari SD sampai kuliah kami selalu bersama. Sosoknya dari dulu tetaplah sama. Konyol, Koclak dan pastinya selalu dengan kejutan-kejutan yang membuat kami selalu terhibur.

Siti Luthfah, seorang guru SD di Jakarta. Siluth ini adalah orang yang visioner dan oportunis. Beliau lah sosok dibalik terselenggaranya kelas inspirasi sukabumi 1. Kini selain mengabdi sebagai pengajar, beliau pun sedang mempersiapkan diri melanjutkan studi pascasarjana.

Adita, seorang guru SD yang juga wali kelas dari keponakan lucu saya. Cewek lulusan UPI ini banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak. Wow, sudah terbukti deh kualitasnya sebagai ibu. Ketulusan cintanya sudah teruji. Eitsss, cewek yang satu ini punya hobi yang unik. Hobinya itu gemar pake lipstick. So, buat Anda yang tertarik tolong siapkan lipstick yang banyak yah. ^_^

Nur Septi, seorang ahli IT yang bekerja di Jakarta yang akrab disapa Teh Eti. Sejak SMP saya sudah mengenal eti. Sosoknya yang ramah, kalem dan penyabar membuat beliau menjadi pribadi yang sangat dewasa. Semakin berumur, kepribadiannya semakin dewasa. Arghh, ibu banget dah.

Well, itulah kelima orang yang membersamai saya dalam perjalanan ke pantai sawarna. Yes, mereka semua adalah orang – orang hebat. Maka dapat dipastikan bahwa perjalanan yang dilakukan pun adalah perjalanan hebat.

Pantai Sawaran

Ini dia keenam cowok dan cewek kece Kelas Inspirasi Sukabumi. Dari kanan ke kiri. A Rismat, Angga, Fauzi, Siluth, Adita dan Nur Septi.

Sekarang waktunya cerita Sawarna. Tulisan diatas hanyalah awalan saja. Kalo di film perkenalan tokohnya. Jadi sudah siap menyimak cerita Sawarna?

Siapkan uang yang banyak yah karena khawatir kamu jadi mupeng pengen main ke sawarna. ^_^

Pantai Sawarna merupakan pantai yang berada di wilayah Banten. Suasananya masih ramah lingkungan bersih dan pantainya pun berpasir putih. Hingga saat ini, sawarna belum terlalu terjamah banyak orang. Jadi akses menuju kesana masih akan melewati banyak jalan yang kurang baik. Well, semuanya menyenangkan kok.

Karena waktu terbatas, kami hanya sempat mengunjungi goa langir dan tanjung layar. Padahal masih banyak tempat indah yang bisa dikunjungi di wilayah pantai sawarna.

Sebenarnya saya gak akan cerita banyak soal pantai. Kalo bahas pantai pasti gampanglah, ada air asin, pasir, karang, ombak dan lainnya. Iya kan?

Kali ini, saya ingin menceritakan pembelajaran yang kami dapatkan dari alam dan kebersamaan kami.

Perjalanan ini menyadarkan kami tentang arti pentingnya diri dalam kehidupan. Pada dasarnya, setiap orang punya perannya masing – masing. Setiap peran itu berfungsi sesuai dengan tugasnya. Semua saling berkolaborasi.

Mentari berperan untuk terbit setiap pagi dan terbenam setiap senja. Mentari menjadi pertanda sebagai tumpuan aktivitas manusia.

Ombak berperan untuk memberikan tumpahan air yang sangat deras sehingga orang – orang bisa bermain surfing dengannya.

Pasir putih berperan sebagai pijakan lembut yang membuat orang tergerak untuk melangkah lebih jauh ke pesisir pantai.

Biota laut berperan sebagai permata yang membuat laut menjadi lebih indah dan cantic.

Semua hal dalam kehidupan memiliki perannya masing – masing. Manusia pun sama, terlahir dengan peran mulia yang boleh jadi berbeda –beda. Sudahkan kita menyadarinya?

Dibalik peran berbeda, sesungguhnya kita melangkah dengan tujuan yang sama, meraih ridho Allah. Jadi mengapa masih sering mengeluh dengan peran yang kita dapatkan?

Kalian yang menjadi guru, jadilah guru yang mampu menjadi teladan bagi murid – muridnya.

Kalian yang menjadi karyawan, jadilah karyawan yang mampu berkontribusi untuk perusahaannya.

Kalian yang menjadi pelajar, jadilah pelajar yang selalu rajin belajar sehingga kelak mampu menjadi generasi pelopor bangsa ini.

Maka, peran mana yang tidak berharga? Setiap orang sangat berharga.

Jangan berhenti melangkah. Perjalanan masih panjang kawan. Bumi ini menantikan karya – karya indahmu yang sangat luar biasa. Hanya satu kuncinya, jalani dengan penuh kesyukuran.

Bagiku, perjalanan ke sawarna bukan sekedar perjalanan. Didalamnya, terdapat cinta yang menguatkan. Layaknya pantai yang selalu mempesona, mari buat diri kita mempesona dengan karya – karya untuk bangsa ini.

Pantai Sawarna

Teruslah melangkah, Teruslah berjalan!

 

Kindly regards,

Fauzi Noerwenda

Perjalanan

image

Membangun kekuatan tim dibutuhkan racikan indah agar setiap insan yang berbeda mau untuk bersatu.

Perjalanan menjadi salah satu metode agar setiap insan mau mengenal lebih dekat agar senantiasa bersama.

#quotes #traveling #learning

Kutemukan Cinta Dalam Perjalanan

image

“Lakukanlah perjalanan dalam hidupmu agar engkau mampu menjadi pribadi yang bijaksana dan selalu berhusnuzhon”
–Hilman Miftarojak-

Perjalanan adalah hal yang sangat menyenangkan dalam hidup. Sebagian besar orang pun sangat senang apabila melakukan perjalanan, tak terkecuali bagi saya sendiri. Setiap rangkaian perjalanan yang ditempuh, ternyata membuat saya mampu terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mengapa?

Sesuai quotes yang disampaikan guru saya, Pak Hilman Miftahurojak bahwa perjalanan bisa membuat kita menjadi pribadi yang lebih bijaksana dan selalu berhusnuzhon. Orang yang selalu melakukan perjalanan tentu akan menemui berbagai hal baru dalam setiap waktunya. Hal baru tersebut membuat wawasan dan pemikiran semakin terbuka.

Lain halnya dengan orang yang hanya diam di satu tempat. Maka pikirannya pun hanya sebatas tempat tersebut. Ternyata hal tersebut berdampak pada proses kehidupan seseorang, terutama dalam bersikap. Saat ada masalah, orang dengan pemikiran luas mampu berpikir matang dan bersikap lebih bijak. Bagaimana tidak, orang dengan pemikiran yang luas mempunyai banyak referensi dalam setiap proses pengambilan keputusan.

Bumi ini terhampar begitu luasnya. Rasanya usia kita pun tak akan pernah cukup untuk mengarungi isi dunia ini. Berbagai macam perbedaaan tercipta begitu banyak. Maka perjalanan dilakukan untuk memahami setiap perbedaan yang ada sehingga kita bisa menjadi pribadi yang bijaksana.

Perjalanan bagi setiap orang pun memiliki banyak versi. Bagi saya, perjalanan terindah adalah perjalanan dari satu daerah ke daerah lain dengan berbagai macam keragaman yang telah Tuhan ciptakan. Bahasa lainnya adalah mengarungi keindahan alam di dunia ini.

Menjelang akhir tahun 2015 berakhir, saya bersama teman-teman melakukan perjalanan ke satu daeah di pedalaman Kabupaten Sukabumi bernama “Geopark Ciletuh”. Georpark ciletuh merupakan kawasan wisata yang lokasinya berdekatan dengan ujung genteng. Disana terdapat pantai, air terjun, bukit dan masih banyak lagi.
Hingga kini, kawasan geopark masih jarang dijamah orang banyak karena baru akhir tahun 2014 lalu diresmikan oleh gubernur. Akses jalan menuju lokasi pun masih sangat jelek. Saya dan tim berangkat dari Sukabumi Kota ke lokasi menempuh hingga 7 jam perjalanan menggunakan mobil pribadi.
Perjalanan asiknya memang saat sedang dijalan. Saya pergi ke lokasi bersama 7 orang teman dari Bandung. Disinilah awal mula hadirnya cinta dalam perjalanan. Bayangkan saja, kami melakukan perjalanan bersama hingga 7 jam perjalanan untuk sampai ke lokasi.

Hal utama yang menjadi fondasi awal perjalanan adalah niat. Tentu perjalanan dilakukan bukan untuk sekedar bersenang-senang, namun perjalanan dalam rangka belajar sehingga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dengan mengenal alam ciptaan-Nya.

Niat menjadi pilar utama kami saat berpetualang. Alhasil banyak pelajaran yang kami dapatkan selama perjalanan berlangsung. Kebersamaan menjadi hal yang tak terelakan lagi. Hampir 14 jam perjalanan pergi dan pulang berlangsung, luar biasanya kami habiskan bersamaan di mobil.

Rasa saling mengerti tentu menjadi bumbu dalam perjalanan. Ada orang yang pendiam, cerewet dan sifat lainnya. Kebersamaan terasa semakin kental tatkala perjalanan memasuki jalan yang terjal dan sulit dilewati. Alhasil ada yang harus turun dorong mobil, jalan sampai jalannya memungkinkan dilewati sampai menjaga ibu hamil agar tetap terjaga. Wih pokoknya sesuatu deh.

Perjalanan menuju Geopark memang sangat terjal. Satu hal yang paling saya syukuri adalah semangat teman-teman yang selalu ceria. Tak ada sedikit pun rasa untuk mengeluh dan menyerah. Kebersamaan kami yang sudah terbentuk sejak lama membuat kami semangat untuk menuju lokasi. Dengan tagline “my trip my adventure”, membuat perjalanan kami semakin berwarna.

Peribahasa lama memang betul juga, “bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”. Untuk mendapatkan sesuatu yang indah, perlu ada perjuangan yang dilewati. Rasanya kurang greget juga kalo kita mendapat sesuatu tanpa perjuangan yang keras. Betul kan?

Taraaaaa, bahagia begitu membuncah saat kita sudah sampai di tempat tujuan. Sungguh indahnya alam ciptaan Sang Pencipta. Kagum, haru, sedih, sungguh indah alam ini.
Satu pelajaran penting yang membuat diri ini berpikir adalah tentang rasa syukur. Begitu seringnya diri ini mengeluh tatkala dihadapkan dengan masalah. Malu rasanya,padahal begitu banyak keindahan di sekitar yang kita abaikan.

Geopark ciletuh memang membuat kita terpedaya. Selain pantai, ada banyak air terjun yang mengelilingi ciletuh. Kalo dihitung, bisa lebih dari 5 air terjun. Selain itu, kita bisa melihat seluruh panorama ciletuh dari puncak tertinggi bernama bukit pandawa dan panenjoan.

Saat melihat ciletuh dari panenjoan, seluruh pesona ciletuh terlihat sangat indah. Begitu jelasnya pemandangan bila dilihat dari atas. Hal ini pun menyadarkan saya tentang sudut pandang. Pernah saya merasakan bahwa masalah yang saya hadapi begitu sulit. Ternyata setelah dihadapi. Bukan masalahnya yang sulit, melainkan sudut pandang melihat masalahnya yang tidak tepat. Tidak ada yang sulit di dunia ini jika kita hadapi dengan baik.

Niat, kebersamaan, perjuangan, rasa syukur menjadi nilai lebih yang kami dapatkan. Satu hal lagi yang membuat saya semakin sumringah adalah silaturahmi. Alhamdulillah, saya punya teman SMA yang tinggal di ciletuh. Alhasil, kami bisa mendapat penginapan yang sangat murah. Bahkan bisa dapat free lunch dan dinner. Wuahaha

Hampir 5 tahun saya tak jumpa dengan teman SMA saya, Mudrikah. Alhamdulillah Allah pertemukan kami sembari berwisata ke geopark ciletuh. Sungguh banyak makna dan hikmah saat melakukan perjalanan.
Ini bukan lagi soal bersenang-senang dalam perjalanan. Jika hanya mencari kesenangan, bisa jadi kita tidak mendapatkannya. Namun ini soal cinta. Cinta pada dasarnya tidak kami temukan dalam perjalanan, namun cinta membersamai kami dalam perjalanan. Cinta itulah yang akhirnya membuat kami selalu senang dan bahagia.

Dan sesi paling romantis terjadi saat perjalanan pulang. Kalo biasanya dijalan sambil ngakak dan dengerin lagu, kali ini kami tampil beda. Dalam perjalanan pulang kami mengadakan “talk show at the car” dengan pemateri pasangan muda yaitu Ibay dan Imas.

Oia lupa diceritakan bahwa, 8 orang yang ikut dalam perjalanan ini 2 diantaranya sudah menikah yaitu Ibay dan Imas, 2 orang sudah lulus kuliah yaitu saya dan Galih dan 4 sisanya masih kuliah yaitu Vidy, Bastiar, Hasna dan Hilda.

Kembali ke perjalanan pulang, akhirnya kami sepakat mengadakan talk show dengan tema “Keajaiban Nikah Muda”. Wih, temanya membuat semangat kami kembali bangkit. Sontak kami menjadi melek dan siap mendengar ceritanya.
Ibay dan Imas pun menceritakan keajaiban yang mereka hadapi saat menikah. Perjuangannya membuat kami terharu. Dari awal mula proses lamaran, akad hingga menikah.

Semuanya tak ada yang mudah. Selalu ada tantangan dan halangan. Namun itu semua akan menjadi hal biasa saat kita mampu menyikapinya dengan baik.
Satu pesan yang selalu terngiang bagi saya dari obrolan itu adalah tentang niat. Ya, lagi-lagi masalah niat. Saat niat sudah tertancap kuat, maka akan hadir berbagai macam keajaiban.

Alhamdulillah, perjalanan ini memang penuh dengan cinta. Cinta yang hadir dari awal hingga akhir perjalanan.
Bagi saya, perjalanan adalah hal yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan kualitas diri. Sebagai orang yang berprofesi sebagai trainer, wawasan dan pengalaman hidup yang luas menjadi bumbu tersendiri dalam setiap sesi pelatihan.

Apa yang saya sampaikan sebagian besar diantaranya berasal dari pengalaman pribadi saat mengarungi berbagai macam perjalanan.
Pada akhirnya saya semakin menyadari bahwa cinta tak akan pernah bisa dilepaskan dalam hidup. Cinta itu anugerah dari Sang Pencipta. Cinta menghadirkan kekuatan dalam setiap perjalanan.

Saat perjalanan dilakukan dengan cinta, maka perjalanan akan semakin penuh dengan keindahan.

Hanum Salsabiela Rais dalam film “99 cahaya di langit eropa”, mengatakan “Pergilah, jelajahilah dunia, lihatlah dan carilah kebenaran dan rahasia – rahasia hidup ; niscaya jalan apa pun yang kaupilih akan mengantarkanku menuju titik awal” 

Siapa pun Anda yang membaca tulisan ini. Mari mulai keluar dari tempat Anda saat ini dan mulailah melakukan perjalanan agar kita semakin memahami makna kehidupan ini.

Bersiaplah untuk menemukan berbagai macam keajaiban dari perjalanan yang kau lakukan.

Selamat melakukan perjalanan dengan cinta.

Kindly Regards,
Fauzi Noerwenda

Kenalan Sama Istana Siak yuk!

Indonesia memang kaya akan sejarah. Kaya akan pemandangan serta alam yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Tanggal 13 Juli 2014 lalu saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi daerah Pekan Baru. Saya pergi bersama tim TELKOM PDC yaitu Bu Hendrati dan Mas Dani untuk memberikan training bagi karyawan Telkomsel area Pekan Baru.

Kami tiba di Pekan Baru satu hari sebelum training dimulai. Oleh karenanya kami gunakan untuk jalan-jalan di Pekan Baru. Ternyata supir mengajak kami ke Istana Siak. Ada yang pernah dengar Istana Siak? Saya jelasin dulu yah sejarahnya.  Berdasarkan informasi Om Wikipedia, Istana Siak Sri Inderapura merupakan kediaman resmi Sultan Siak yang mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893. Kini istana yang juga dijuluki Istana Matahari Timur ini, masuk wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Siak.

Istana Siak memiliki arsitektur bercorak MelayuArab, dan Eropa. Bangunannya terdiri dari dua lantai. Lantai bawah dibagi menjadi enam ruangan sidang: Ruang tunggu para tamu, ruang tamu kehormatan, ruang tamu laki-laki, ruang tamu untuk perempuan, satu ruangan di samping kanan adalah ruang sidang kerajaan, juga digunakan untuk ruang pesta. Lantai atas terbagi menjadi sembilan ruangan, berfungsi untuk istirahat Sultan serta para tamu istana. Di puncak bangunan terdapat enam patung burung elang sebagai lambang keberanian Istana. Sementara pada halaman istana masih dapat dilihat delapan meriam menyebar ke berbagai sisi-sisi halaman istana, kemudian di sebelah kiri belakang istana terdapat bangunan kecil yang dahulunya digunakan sebagai penjara sementara. (http://id.wikipedia.org/wiki/Istana_Siak_Sri_Inderapura)

Berdasarkan informasi dari kunci, keturunan Sultan Syarif Hasim kini tinggal di Eropa sehingga tak ada lagi yang meneruskan kerajaan. Sayang bangetlah, padahal kerajaannya itu indah banget. Kental akan budaya islamnya. Banyak juga benda unik peninggalana kerajaan yang masih tersimpan disana loh. Mau tahu? Yuk sekarang kita lihat ada apa aja yah didalam kerajaannya.

Istana Siak

Tampak Depan Istana Siak

Foto pertama itu tampak keseluruhan Istana. Kokoh banget loh guys. Lalu ada apa lagi sih?

Istana Siak

Ruang Tamu Istana

Istana Siak

Ruang Sidang Istana

Istana Siak

Replika Sultan dan Ajudan Istana

Nah itu baru sebagian ruangan aja gus. Asik kan lihat Istana? Wah udah jarang lah kita bisa lihat momen kayak gitu. Eh masih ada foto yang lebih menarik loh. Siap yah lihat lagi.

Istana Siak

Kursi Emas Sultan

Kursi emas tersebut merupakan singgasana Sultan. Foto kursi tersebut ternyata hanya replika. Kursi emas asli tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Istana Siak

Mahkota Sultan

Nah yang diatas kepala saya itu Mahkotanya sultan. keren kan?

Istana Siak

Cermin Ratu

Cermin ajaib gak hanya di negeri dongeng loh? Istrinya Sultan juga punya loh. Tapi emang gak ajaib sih. Cermin ini udah ratusan tahun loh. Ajib banget kan..

Istana Siak

Tangga Istana

Ini dia tangga yang menjadi akses untuk menuju lantai 2 istana. Sekarang kembali ke luar istana yuk. Ada 2 lagi tempat yang mau saya tunjukin.

Istana Siak

Makam Sultan

Istana Siak

Mesjid Istana

Makam Sultan dan Mesjid Istana merupakan 2 tempat yang terpisah ada diluar. Dan itu artinya juga perjalana kami di Istana berakhir.

Banyak sekali ilmu dan hikmah yang kami dapatkana. Betapa hebatnya Indonesia di zaman dulu sehingga gaumnya sampai ke luar sana. Kini bagaimana?

Kitalah sebagai generasi muda yang harus membuat Indonesia kembali mengaum di mata dunia. Sekian dulu perjalanan saya kali ini di Istana Siak Pekan Baru. Sampe jumpa lagi di perjalanan selanjutnya.

 

Keganasan Bumi Perkemahan Ranca Upas

Setiap waktu adalah cerita. Setiap cerita selalu menghadirkan momen-momen indah yang selalu kita kenang sebagai bagian dari kehidupan kita. Hari ini aku kembali teringat sebuah momen indah yang terjadi dua tahun yang lalu. Kejadian dan cerita indah yang bertajuk latihan kepemimpinan.

Tanggal 03-04 Desember 2011 BEM STIE EKUITAS mengadakan latihan kepemimpinan mahasiswa atau yang disingkat LKM untuk calon aktivis yang akan terlibat di organisasi mahasiswa. Saat itu aku terlibat sebagai panitia dan menjadi inspektur atau kordinator lapangan.

Pelaksanaan LKM sebetulnya sama saja dengan latihan kepemimpinan pada umumnya. Namun ada kejadian yang tidak akan bisa kita lupakan. Kejadian yang terjadi di daerah Ranca Upas, Ciwidey.

Hari kedua LKM, 04 Desember 2011 dilaksanakan di bumi perkemahan ranca upas. Ini merupakan hari terakhir yang akan diisi dengan kegiatan lapangan. Jalur yang kita gunakan menggunakan gunung Ranca Upas yang puncaknya kurang lebih mencapai 2000 kaki.

Sebelum kami putuskan jalur tersebut, seluruh panitia melakukan survey terlebih dahulu. Dan setelah beberapa kali survey, maka kami nyatakan jalur itu bisa kita lewati dengan aman.

Akhirnya kami matangkan rencana. Kuatkan tim dan saling memberi semangat. Namun ternyata rencana manusia tidak seindah yang dibayangkan. Allah punya rencana lain. Semua prediksi kita meleset jauh.

Saat hari H tiba, hujan deras lumayan lama. Sementara peserta sudah berada di tengah jalur dan harus turun gunung. Masih ingat, sekitar pukul 3 sore waktu itu. Kondisi peserta semakin lemah. Banyak yang pingsan, hipotermia, dan lainnya. Tanpa memikirkan apa pun, para panitia dengan sigap mencoba mengatasi hal ini dan membawa korban ke rumah sakit terdekat.

Buper Ranca Upas

Beberapa panitia saat berada di puncak gunung Ranca Upas, Ciwidey

Sungguh pelajaran yang sangat mahal kita dapatkan. Ada rasa penyesalan mendalam, namun ini semua sudah terjadi. Kawan-kawan semua, seindah apapun rencana kita, sesungguhnya lebih indah rencana Allah. Beruntung semua korban yang sakit dapat terselamatkan dan pulih kembali. Alhamdulillah.

Pesan untuk kawan-kawan semua, saat kita mengadakan sebuah acara. Jangan hanya memikirkan keberhasilan acaranya, tapi pikirkan juga orang lain. Hidup bukan hanya untu kita, bukan hanya untuk prestasi, tapi hidup juga untuk orang lain. Selamt belajar dan selamat menikmati kehidupan.

Inspirasi Malam Para Pedagang

Romantic Bandung at Night

Keindahan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Keindahan itu membuat semua panca indera kita berasa dimanjakan. Mata kita bisa melihat hijaunya alam ciptaan Sang Maha Kuasa. Telinga bisa mendengar sayup-sayup penuh harapan. Mulut bisa mengungkapkan segala perasaan yang dilihatnya. Sungguh suatu keindahan yang nyata. Dan pembaca semua, tahukah dimana keindahan itu bisa kita dapatkan? Yah, tempat kita dilahirkan yaitu negara Indonesia.

Tak dapat disangsikan lagi jika kita berbicara keindahan negeri ini. Semua serba ada. Termasuk dengan salah satu kota yang menjadi dambaan semua orang yaitu Bandung.

Jika kita berbicara Bandung, maka akan muncul banyak deskripsi yang bermunculan. Mulai dari surganya kuliner, tempat liburan yang asyik, surga belanja dan lainnya. Deskripsi itu muncul karena memang nyatanya Bandung menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia. Dan faktanya setiap akhir pekan Bandung selalu padat pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang berlibur untuk melepas penat dari pekerjaan yang dilakukannya. Wahh, benar-benar luar biasa Bandung itu.

Namun apakah benar Bandung seperti yang orang bayangkan? Seindah dan segemerlap itukah? Memang perlu kita yang membuktikan sendiri.

Tiga tahun sudah aku tinggal di Bandung. Lingkungan baru yang membuat aku terus mengalami kehidupan yang berbeda. Bicara deskripsi tadi, memang betul Bandung itu hampir seperti yang orang bayangkan. Sungguh saat indah.

Namun kali ini, aku akan ceritakan sebuah keindahan Bandung dari sudut pandang yang berbeda. Keindahan ini jauh dari kata gemerlap, mewah, atau modis. Namun keindahan ini akan membuat kita lebih merasakan bagaimana Bandung menjadi tempat bagi banyak orang untuk menyambung hidupnya.

Malam itu tanggal 10 September 2013 aku berjalan di sebuah pelataran daerah Simpang Dago. Aku berjalan sendiri dengan ditemani dinginnya udara kali itu. Detak jam seakan terdengar kencang, semakin kencang dan semakin kencang. Ternyata saat itu sudah pukul 22.00 WIB. Mungkin ada yang bertanya, apa yang sedang aku lakukan di waktu malam ini? Memang inilah keindahan yang ingin aku ceritakan pada pembaca semua.

Namun keindahan ini tidak seindah saat kita bisa melihat lampu kota dari atas bukit seperti di bukit bintang atau lainnya. Juga tidak seindah seperti saat kita berada di puncak gunung, pantai atau alam lainnya. Karena memang keindahan ini bukan hanya untuk dilihat oleh mata melainkan dengan ketulusan hati.

Malam itu aku melihat daerah Simpang Dago masih ramai dengan para pedagang. Mereka tampak masih semangat untuk terus berjualan. Juga dengan para pembeli yang menikmati hidangan yang ada. Angin semilir kala itu membuat suasana malam menjadi lebih romantis. Aku terus berjalan sambil melihat banyak kumpulan pedagang yang terus ceria menantikan waktu malamnya.

Para pembaca semua, adakah yang hatinya mulai mengerti dengan keindahan yang dimaksud? Yah, ini semua tentang perjuangan hidup yang dilakukan para pedagang kecil di daerah Simpang Dago.

Berangkat pagi dan pulang malam. Itulah sebagian aktivitas yang dilakukan oleh beberapa pedagnag disana. Dinginnya udara malam bukanlah menjadi halangan bagi mereka. Malah, malam menjadikannya sebagai romantisme yang selalu indah. Demi keluarga tercinta, mereka rela untuk bekerja hingga larut malam. Sungguh suatu pemandangan yang jarang sekali orang perhatikan. Rasa ngantuk terpaksa harus ditahan karena harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Inilah yang namanya perjuangan kehidupan. Sudah sampai mana perjuangan yang kita tempuh?

Salah satu dari mereka ternyata ada yang merantau jauh-jauh dari Jawa. Datang ke Bandung memang berniat untuk berjualan dan memang dagangannya cukup ramai dikunjungi. Coba saja datang dan cari pecel lele di Simpang Dago. Salut deh untuk mereka semua.

Dari segi penghasilan memang tidak sebesar yang diharapkan. Namun malam ini aku mendapat keindahan yang penuh dengan romansa serta dibalut dengan pelajaran kehidupan yang luar biasa. Kita doakan siapapun mereka yang punya niatan baik untuk berjualan mendapat kemudahan dari Allah.

Bandung dengan sejuta keindahannya telah membuat orang terpesona. Aku yang salah satu korbannya telah merasakan keindahan malam di paris van java ini. Perjalanan malam yang menyenangkan. Sepertinya setiap malam Bandung mempunyai cerita tersendiri yang mengagumkan. Mungkin lain kali perlu datang ke daerah lainnya untuk merasakan romansa malam Kota Bandung.

Pembaca semua, pergi keluarlah sejenak dan ternyata tersimpah sejuta hal yang belum kita ketahui. Itulah sekilas perjalan malamku yang penuh dengan pesona. Pesona Bandung dengan kesederhanaannya namun penuh dengan cinta yang tulus.

Serangan Pacet Curug Kembar

Curug Kembar Sukabumi

Liburan semester ganjil kini telah tiba. Sebagian besar kampus di Bandung pun ternyata sama, hanya satu kampus yang bisa dibilang aneh yaitu ITB. Saat kampus lain libur, ITB malah sudah masuk kuliah. Libur ini aku manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman tercinta, Sukabumi.

Liburan kali ini seakan menjadi harapan yang menyenangkan bagiku. Ketika di Bandung harus berkutat dengan berbagai macam persoalan, kini saatnya waktu yang tepat untuk refreshing.

            Akhirnya aku pun bisa berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga. Ku coba memanfaatkan momen yang ada untuk semakin dekat dengan keluarga. Selain itu, ternyata sahabat karibku, Ibay pun ada di rumah. Kami akhirnya bisa bertemu kembali setelah sekian lama tak jumpa.

Seperti biasa, pertemuanku dengan Ibay selalu melahirkan ide-ide yang cemerlang. Salah satu yang selalu ku tunggu yaitu petualangan. Ibay akhirnya merekomendasikan tempat ke curug kembar di wilayah kawasan wisata Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi. Tanpa pikir panjang, akhinya kami setuju untuk pergi kesana.

Tanggal 23 Januari 2013 adalah terjadinya momen manis tersebut. Selama 21 tahun aku tinggal di Sukabumi baru tahu ternyata ada yang namanya curug kembar. Hhmmm, kemana aja selama ini aku ? Kami mulai petualangan pukul 09.00 WIB. Bersama Ibay dan Abhe, kami siap untuk bertualang ke Curug.

Perjalanan menuju kawasan situ gunung kami tempuh menggunakan kendaraan umum. Barulah kami start berjalan ke curug dari pintu gerbang Cinumpang. Terpukai aku saat itu melihat kondisi alam yang sangat segar, jarang sekali aku merasakan ini di Bandung. Langkah demi langkah kami terus menuju curug. Di perjalanan, Ibay memberi tahu suatu tanaman yang bisa dimakan, namanya begonia. Setelah dicoba, rasanya memang segar dan masam. Recomended buat teman-teman yang suka survival.

            Ternyata perjalanan hingga ke curug bukan hitungan menit, melainkan jam. Serunya, perjalanan kami ini ditemani oleh puluhan pacet. Alhasil perjalanan kami terus tersendat karena harus membuang pacet-pacet terlebih dahulu. Salahnya, kami tidak membawa logistik yang lengkap. Persediaan air hanya 1 botol, sedangkan makanan hanya membawa enam gorengan.  Namun semangat kami sangatlah tinggi untuk mencapai curug yang ternyata masih banyak orang yang belum tahu dengan curug ini.

Perjalanan kami kian dekat. Gemuruh air terjun itu semakin terasa dekat. Waaaw, menambah rasa semangat kami. Rupanya perjalanan kesana tidaklan mudah. Ada satu track menurun yang tajam dan harus dilalui dengan tali. Untungnya ada akar dan tali yang sangat kuat. Perlahan satu persatu dari kami menuruni bukit itu. Akhirnya sampai juga dibawah. Kami tambah kecepatan hingga suara gemuruh air itu kian terasa dekat. Akhirnya, petualangan ini sampai. Ternyata membutuhkan waktu 2 jam untuk berjalan menuju curug nan indah ini.

Subhanallah. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Dua buah air terjun kembar. Udara yang sangat segar, gemuruh air yang sangat besar, menambah kenyamanan kami saat tiba di curug. Apalagi kecepatan air di curug kembar ini sangat besar. Hingga pakaian kami semua basah kuyup. Inilah ciptaan Sang Maha Kuasa, tak mungkin hal ini diciptakan oleh tangan-tangan manusia yang tak luput dari dosa. Ya Allah aku bersyukur pada-Mu atas segala nikmat yang telah Engkau berikan.

Momen ini tentunya tak akan kami lepaskan begitu saja. Dokumentasi harus selalu ada di setiap petualangan yang kami lakukan. Sisa waktu itu kami gunakan untuk berfoto. Sayangnya tanda-tanda rintik hujan mulai turun. Artinya kami harus segera meninggalkan tempat ini lebih cepat.

Jika saat perjalan menuju curug kami bersantai ria, untuk pulang ini kami memutuskan untuk maraton. Cuaca yang tidak mendukung membuat kami mendadak bergerak sangat cepat. Kami berlari sangat cepat. Tak memperdulikan lagi pacet atau hujan, terus kami bergerak menuju pos awal. Bahkan tebing pun kami hajar dengan sangat lihai. Akhirnya kami melihat sebuah gubuk dan memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.

Badan kami sudah basah kuyup. Parahnya kami terkena serangan pacet. Abhe terkena dibagian dada ke atas, Ibay terkena dibagian perut, sementara aku sendiri diserang bagian kaki. Walhasil kami disibukan untuk menjauhkan pacet-pacet ini. Hampir setengah jam kami di gubuk itu, saat cuaca mulai membaik kami meneruskan perjalanan pulang dengan agak santai.

Kondisi pakaian yang basah, membuat kami bertiga sangat kedinginan. Akhirnya kami pun tiba di pos awal. Kembali kami beristirahat sejenak sambil menghangatkan badan dengan makan mie dan minum kopi.

Suatu perjalanan yang menantang. Inilah bagian kehidupanku yang sangat indah. Kami bertiga akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Teman-teman inilah kisah kami di Curug Kembar. Tunggu kisah kami selanjutnya.