Bisakah RASA TAKUT menjadi kekuatan untuk TAMPIL di depan umum?

Bisakah RASA TAKUT menjadi kekuatan untuk TAMPIL di depan umum?

Manusia terlahir dengan ragam rasa yang memenuhi relung hidupnya. Secara alamiah, manusia memiliki emosi dasar seperti takut, senang, marah dan bahagia.

Suatu luapan rasa yang tak mungkin dihilangkan bukan?

Hanya saja, jika tak mampu mengendalikan rasa tersebut, terkadang membuat diri menjadi tak berdaya. Misalnya rasa takut.

Ada orang yang sering mengatakan bahwa dirinya takut untuk tampil di depan banyak orang?

Rasa takut tersebut akhirnya melemahkan dan membuat dirinya enggan untuk tampil.

Haruskah rasa takut dihilangkan?

Takut tidak untuk dihilangkan guys. Kenyataannya memang tak bisa hilang, karena itu adalah perasaan yang akan senantiasa muncul.

Menurut psikolog dari lembaga psikologi terapan Universitas Indonesia, Ceti Prameswari, “rasa cemas (takut) dalam diri seseorang terkadang perlu ditimbulkan agar lebih waspada dan siap menghadapi masalah”.

Jadi, takut tidak dihilangkan. Justru diarahkan dan diberdayakan agar rasa takut yang muncul menjadi satu kekuatan untuk berlatih.

Misal dalam konteks public speaking.
Rasa takut justru menguatkan.

Adanya rasa takut akhirnya membuat kita melakukan persiapan sebelum tampil untuk presentasi.

Adanya rasa takut akhirnya membuat kita berlatih berulang kali agar presentasi nanti optimal.

Pada akhirnya, rasa takut itu bisa berdaya saat cara pandang terhadap takut kita ubah.

Jadi siapkah Anda menjadikan rasa takut untuk semakin berdaya dalam public speaking Anda?

Oia, kalo Anda dalam posisi takut, sementara dalam waktu dekat Anda akan tampil untuk presentasi, apa yang akan Anda lakukan untuk mengatasinya?

Yuk berbagi cerita 😊

Kindly regards,
Fauzi Noerwenda
www.gpssbandung.com

Perjalanan Cinta Bersama Sahabat

“Sahabat itu seperti KACA, iya KACA. Kamu adalah cerminan aku

Menjelang berkahirnya bulan februari, entah kenapa ada rasa yang tak biasa dalam diri. Rasa yang mencabik-cabik diri dengan berbagai macam kejutannya.

Arghhh, dari pada dipendam dan menjadi penyakit, mending saya menulis dan mengungkapkan setiap untaian rasa dalam tarian kata.

Sahabat….

Itulah tajuk yang akan saya tulis pada episode kali ini.

Sebagai orang “feeling”, saya adalah orang yang suka berinteraksi dengan manusia. Hal itu terbukti dengan banyaknya komunitas yang saya ikuti. Bahkan profesi yang saya geluti pun bersinggungan dengan manusia.

Ada banyak hal yang saya dapatkan dari perjalanan bersama sahabat di berbagai tempat.

Namun untuk kali ini, saya akan menceritakan sahabat-sahabat yang saya temukan di Gerakan Husnuzhon.

Gerakan Husnuzhon merupakan gerakan yang mengajak orang-orang untuk belajar berhusnuzhon dan menjadikan husnuzhon sebagai gaya hidup.

Untitled-1-02

Orang pertama yang akan saya kenalkan adalah guru saya.

Saya mengenal husnuzhon dari guru saya di pesantren miftahul khoir, yaitu Pak Hilman Miftahurojak. Beliau seorang ustadz yang tidak mau dipanggil ustadz. Panggilan akrabnya Pak Imen atau Kang Imen.

IMG-20150924-WA0002

Pak Hilman, Founder Gerakan Husnuzhon

Pak Hilman adalah guru yang luar biasa. Sosoknya yang humble membuat beliau mampu menjadi sahabat yang baik bagi murid-muridnya.

Melalui beliau saya belajar tentang mengenal diri, sahabat dan cinta.

Ketiga komponen itu membuat saya mengalami akselerasi dalam kehidupan dengan begitu nyaman.

Bagaimana saya mampu menjadi diri sendiri tanpa topeng apa pun dalam setiap keadaan.

Bagaimana arti penting sahabat dalam kehidupan.

Dan bagaimana peran cinta yang agung sehingga kehidupan yang kita lalui menjadi penuh makna.

Pesan yang selalu terngiang untuk saya adalah,

“hidup adalah seni bagaimana cara kita menyikapi sesuatu. Dan sikap terbaik untuk menyikapi adalah dengan husnuzhon”.

Orang kedua yang akan saya kenalkan adalah seorang guru dan juga kaka bagi saya, yaitu Teh Natisa.

IMG-20151001-WA0008

Teh Nati sajidah

Teh Nati Sajidah atau yang akrab di panggil Natisa ini adalah seorang penghapal qur’an, penulis buku “Crayon untuk pelangi sabarmu” dan juga seorang konsultan.

Sosoknya yang tangguh membuat beliau menjadi panutan bagi sahabat lainnya. Teh Nati ini adalah orang yang selalu mengingatkan saya tatkala ada hal yang salah dalam diri saya.

Setiap masukannya selalu membuat saya tergerak untuk terus bertumbuh. Yes, Teh Nati ini adalah orang yang pandai dalam membuat orang untuk terus berubah menjadi lebih baik.

Menurutnya, setiap orang punya potensi yang kalo dikembangkan akan menjadi hal luar biasa. Salah satu proses untuk mengembangkannya adalah dengan mengenal diri.

Beliau pernah mengatakan satu kalimat yang terngiang-ngiang dalam benak saya, “perjalan terjauh dalam kehidupan adalah perjalanan untuk mengenal diri”.

Terima kasih Teh Nati atas kesabarannya untuk selalu membantu saya dalam berbagai persoalan.

Yuhuuu, sudah dua orang saya kenalkan. Sejujurnya bakal banyak orang yang saya ceritakan kalo mau semua. Hahaha.

Hanya kali ini saya random aja yah. Tenang guys, yang belum diceritakan tunggu aja tanggal mainnya. ^_^

Taraaaa, ini dia geng THREE IDIOTS.

IMG-20150704-WA0026

Ini foto saya lagi ga KOBE. wkwkw. Btw, yang sebelah kiri pake kemeja biru namanya OPIK. Lalu sebalah kanan saya yang BULET wajahnya bernama BANI.

Well, kami bertiga sering disebut THREE IDIOTS. Entah karena kami keren atau apalah ngga tahu. Yang jelas kami bertiga memang aktif dan selalu menghandle beberapa acara Gerakan Husnuzhon.

Nah karena sering barengan, istilah THREE IDIOTS pun disematkan.

Sekarang OPIK udah kerja di Jakarta di perusahaan IT, sementara Bani sedang berjuang mendapatkan karir terbaiknya. Saya? Seperti biasa dengan rutinitas panggungnya. Hahaha.

Dari mereka berdua pula saya belajar tentang arti sahabat. Jadi kalo minta jemput di tengah malem pun mereka siap sedia. Arghhh, pokoknya thankyu kawan.

Oke, lumayan juga yah nulis beberapa kata. Tarik nafas dulu ah…..

Lanjutin yah…

Eittsss, tapi sekarang mau cerita momen-momen kecenya.

Banyak sekali momen luar biasa yang saya dapatkan. Kalo langsung saya ceritakan disini khawatir kalian yang baca nangis (padahal saya yang nangis). Jadi gak semua dulu.

Sekarang saya mau cerita tentang satu perjalanan kece yang membuat saya makin sadar tentang arti SAHABAT.

Perjalanan cinta bersama sahabat yang akan saya ceritakan adalah saat momen perjalanan ke Yogyakarta.

Kami pergi berempat dari Bandung bersama Pak Imen, Teh Nati dan Nurul dengan menggunakan kereta.

Pergi di malam hari membuat kami terlelap di kereta hingga akhirnya pagi menyapa kami di Yogyakarta.

Lantas apa yang kami lakukan di Yogya? Sederhana saja, kami BELAJAR sambil melakukan PERJALANAN. Hal itu terbukti dari banyaknya hal yang saya dapatkan selama perjalanan.

Dari obrolan santai di kereta, dari obrolan di warung makan sampai obrolan malam di penginapan. Semua hal menjadi hikmah dan pelajaran.

Bagi saya, perjalanan ke Yogya adalah salah satu perjalanan terbaik yang pernah saya lalui. Lalu apa lagi yang kami lakukan? Yes, pastinya kami belajar dari beberapa tempat wisata di Yogya.

DSC_3802

Candi Borobudur menjadi tempat pertama yang dikunjungi.

Ada perasaan bahagia tatkala diri mampu mengekspresikan siapa diri kita yang sebenarnya. Tak ada lagi topeng yang menutup wajah. Semua berjalan indah dengan luapan emosi diri yang sesungguhnya.

Terima kasih Borobudur telah menjadi tempat untuk luapan ekspresiku.

DSC_0200

Sesi kedua belajar di Gua Pindul

Oia, ada dua orang cowok yang belum saya kenalkan. Mereka berdua adalah tuan rumah yang menyambut kami setibanya di Yogyakarta.

Orang yang berbadan besar paling kanan bernama Rangga dan sebelahnya bernama Nizar. Ceritanya mereka menjadi guide selama kami di Yogyakarta.

Mau tau soal Gua Pindul?

Tapi kalo diceritakan khawatir kalian mupeng pengen ke Gua Pindul. Nanti kabur dari rumah terus cabut ke yogya kan bahaya.

Intinya di Gua Pindul saya merasa lebih rileks karena bisa merasakan suasana gua yang begitu tenang. Hal itu menyadarkan saya bahwa dalam hidup akan ada episode yang menenangkan. Tinggal kita nikmati setiap dinamika yang terjadi.

IMG_20160117_184405

Malam romantis di Malioboro

Nah ini malam terakhir sebelum kami pulang kembali ke Bandung. Lah kok sebentar amat di yogyanya?

Memang! Kami pergi jum’at malam dan pulang minggu pagi. Jadi seharian di hari sabtu kami optimalkan untuk jalan-jalan.

Malioboro memang selalu menyenangkan. Setiap study tour, baik SMP maupun SMA selalu saja ke Malioboro. Kalo dulu pas bocah hanya tau jajan dan oleh-oleh, sekarang pastinya berbeda.

Malioboro menjadi tempat yang mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang PEKA.

Yes, PEKA!

Sebagai seorang makhluk sosial, ternyata saya adalah sosok egois yang terkadang kurang peka dengan sekitar. Alhasil banyak orang sebel karena tingkah sepele itu.

Hal itu kembali terjadi. Nurul, menjadi orang yang sempat kesal karena tingkah aneh saya. Entah apa yang saya lakukan sehingga membuat orang tidak nyaman. Padahal diri seolah merasa melakukan hal-hal yang baik saja.

Namun, Nurul mengatakan bahwa saya kurang PEKA. Ya, lagi-lagi tentang PEKA.

Berulang kali saya mendapat masukan tentang PEKA. Barulah kini saya menyadari hal tersebut. Btw, PEKA seperti apa yang dimaksud?

Ternyata hal yang sederhana. Misalnya membantu membawakan barang, mengucapkan terima kasih, mengatakan tolong jika minta bantuan dan lainnya.

JLEBBB!

Ternyata betul. Itu hal sepele yang terkadang saya abaikan. Arghhh, mungkin banyak juga orang yang sakit hati karena kelakuan saya. Maafkan saya kawan, please!

Hidup memang untuk BELAJAR.

Maliboro mengajarkan saya untuk PEKA. Terima kasih Nurul telah membantu menyadarkan saya.

Akhirnya tibalah di penghujung tulisan indah ini.

“Tak penting berjalan kemana kita, yang penting bersama siapa kita berjalan”.

Entah kutipan darimana itu. Yang jelas saya bahagia bisa melakukan perjalana cinta bersama sahabat.

Ada banyak kisah indah yang terjadi. Ada banyak pelajaran yang didapatkan.

Terima kasih untuk Pak Imen, Teh Nati, Nurul, Rangga dan Nizar telah membersamai saya selama perjalanan cinta di Yogyakarta.

Semoga kelak akan ada lagi edisi perjalanan bersama kalian.

DSC_3794

Ini dia 4 turis dari Bandung

Alhamdulillah, berhasil juga mengungkapkan rasa melalui kata.

Semoga kawan-kawan berkenan membaca dan memberikan masukan untuk saya yang sedang belajar ini.

The Last…

“Berjalanlah bersama sahabatmu untuk saling mengenal dan saling mencintai. Bangunlah kekuatan agar terjalin ikatan kokoh sehingga bisa selalu bersama”

Teruntuk semua sahabatku. Aku cinta kalian karena Allah.

Kindly Regards,

Fauzi Noerwenda

Valuable Attitude “Sang Dokter”

Sikap Ketulusan Sang Dokter

“Lakukanlah pekerjaanmu dengan penuh ketulusan agar semakin banyak orang merasakan cinta dan manfaat dari pekerjaanmu”

Setiap hal yang kita lakukan selalu menghadirkan berbagai macam resiko. Resiko bisa kecil atau besar tergantung dengan aktivitas yang dikerjakan. Resiko yang mungkin terjadi dari perjalanan adalah kecelakaan baik terjatuh ataupun tabrakan dengan kendaraan lain.

Masih teringat saat perjalanan pulang dari Kuningan ke Bandung, waktu itu saya dan sahabat saya bernama Erwin mengalami kecelakaan karena jalan berlubang dan licin karena pasir di daerah Tomo, Sumedang, apalagi waktu itu kondisi sudah cukup malam. Beruntung karena tempat kejadian kecelakaan dekat dengan pusksesmas. Alhamdulillah kami diantar warga sekitar ke puskesmas untuk diperiksa.

Di puskesmas inilah saya mendapat satu pelajaran berharga. Ternyata ada juga yah puskesmas yang sampai buka 24 jam. Sesampainya disana kami disambut sangat ramah. Tampak seorang dokter dan perawat mempersilahkan kami masuk. Hingga kami pun diperiksa dengan sangat baik. Jujur, pelayanan yang diberikannya top abis deh.

Padahal banyak pandangan yang sering saya dengar bahwa pelayanan puskesmas itu kurang baik. Lagi-lagi saya belajar bahwa setiap orang itu berbeda. Dan kali ini saya mengetahui bahwa masih banyak juga dokter dan perawat bekerja dengan penuh ketulusan. Mereka berdua bekerja larut malam, di daerah terpencil, namun ketulusan mereka begitu terasa oleh saya pribadi.

Alhamdulillah berkat pertolongan yang didapatkan di puskesmas, kondisi kami berdua membaik dan memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan ke Bandung. Terima kasih untuk Sang Dokter dan perawat yang telah membantu kami. Semoga Allah membalas kebaikan kalian berdua. Aamiin.

Sebuah pemadangan yang menyejukan hati. Untuk itu, siapapun dan apapun kita, marilah kita bekerja dengan penuh ketulusan. Tunjukan dengan sikap yang berdedikasi tinggi. Tunjukan dengan sikap yang bernilai sehingga apa yang kita kerjakan bermanfaat bagi banyak orang.

Valuable Attitude adalah kunci agar kita mampu mempunyai sikap yang bernilai poisitif untuk setiap hal yang kita kerjakan. Jadilah orang yang mampu bersikap dengan nilai yang tinggi seperti kisah Sang Dokter.

@FauziNoerwenda

Bendera Kuning MENANTIKANMU!

SIKAP- Bendera Kuning

“Hal yang selalu mengintaimu setiap saat adalah KEMATIAN”

Sabtu, 16 Mei 2015 adalah saat yang menyesakan tatkala salah seorang sahabat saya dipanggil Sang Maha Kuasa. Sungguh tak ada yang menduga, dengan usia yang terbilang muda sahabat saya bernama Hermina meninggal karena menderita sakit yang ternyata sudah cukup lama.

Sejak kabar itu hadir, perasaan menjadi tak karuan, antara sedih dan juga takut. Anehnya sejak kejadian itu banyak sekali bendera kuning yang saya lihat di sepanjang jalan yang saya lewati. Terdiam dan terpaku, apakah maksud dari semua hal yang telah saya lihat ini?

Jadwal yang paling pasti terjadi adalah kematian. Hanya saja, tidak ada seorang pun tahu kapan waktunya tiba. Semua datang secara tiba-tiba. Entah dalam keadaan yang baik atau malah sebaliknya. Peristiwa itu benar-benar mengingatkan saya pribadi agar senantiasa bersiap dan melakukan yang terbaik dalam setiap episode yang dilalui.

Kalo kita lihat di berita, begitu banyak peristiwa meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Maka dari itu, orang tua pun sering mengingatkan agar selalu hati-hati ketika dalam perjalanan. Gambaran tentang bendera kuning terus terlintas dalam pikiran, hingga hari senin kemarin 18 Mei 2015 saya mengalami kecelakaan bermotor di daerah Tomo, Sumedang.

Kondisi jalanan yang rusak dan berlubang serta kondisi yang tidak jelas karena malam hari membuat saya dan seorang kawan saya mengalami kecelakaan. Bersyukur saat itu jalanan sepi sehingga tak ada kendaraan yang siap menerjang dari belakang.

Sungguh syukur kami panjatkan, karena ketika kami kecelakaan banyak orang yang menolong hingga mengantarkan kami ke Puskesmas yang rupanya hanya beberapa ratus meter dari tempat kejadian. Lagi-lagi terdiam, Allah masih menolong kami berdua. Hanya luka ringan di kaki yang kami dapatkan serta pelajaran berharga betapa Allah masih memberi saya kesempatan untuk hidup.

Bendera kuning itu terus membayangi setiap langkah yang saya pijakan. Entah hari ini, lusa, minggu depan atau kapan, yang jelas semua akan terus mengintai setiap pergerakan kita.

Kawan-kawan semua, mari kita jaga diri kita dengan SIKAP yang positif agar kapanpun kita dipanggil selalu dalam keadaan yang baik. Semoga kawan-kawan pembaca selalu dalam keadaan sehat wal’afiat.

By the way, saya nulis dalam keadaan kaki luka. Namun semangat untuk menulis sedang membara, jadi langsung saya posting. Semoga bermanfaat yah ^_^.

@FauziNoerwenda

Dimanakah cinta ini berlabuh?  

Arti Cinta

Cinta…

Sebuah kata sederhana namun syarat makna.

Cinta…

Sebuah kata yang mampu mengubah pecundang menjadi jagoan.

Cinta…

Sebuah kata yang acapkali membuat kita menangis, bahagia bahkan marah.

Lantas apa itu cinta?

Cinta adalah sebuah rasa yang hadir mengalir dan tulus. Layaknya cinta Allah kepada makhluknya. Cinta orang tua kepada anaknya. Bukankah itu sebuah bentuk cinta yang tulus?

Namun kini banyak orang yang mengkerdilkan arti cinta. Cinta yang kita pahami hanya sebatas cinta kepada lawan jenis. Maka konteksnya, cinta seperti itu hanya akan terwujud dengan sebuah kata yang bernama pacaran.

Sejujurnya saya sengaja menulis artikel ini karena diri sedang merasa gundah. Maka menulis adalah salah satu cara agar kegundahan itu mengalir dan berganti dengan energi positif.

Jika waktu kembali diputar, banyak sekali penyesalan yang saya rasakan hanya karena salah mengartikan arti cinta. Beruntung Allah masih membimbing saya dan membantu saya hingga mengalami titik balik kehidupan. Tak bisa kita pungkiri, gejolak kawula muda dengan kata cinta sangatlah membara. Sehingga pandangan kita tak akan asing lagi saat banyak kaum muda yang menghabiskan waktunya dengan pacaran.

Sejujurnya saya pun menyadari, salah satu kemaksiatan yang secara sadar saya lakukan yaitu berkaitan dengan nafsu terhadap lawan jenis. Akhirnya diri ini terus berjuang agar hawa nafsu ini dapat saya kendalikan. Entah mulai dari mana, namun akhirnya saya menemukan sebuah solusi. Inilah solusi jitu agar kita bisa menjaga kemurnian kata cinta, solusi tersebut bernama PERNIKAHAN.

Sejak MOVE UP di tahun 2012, saya berniat untuk menemukan pasangan hidup saya di bulan November 2014. Dalam diam saya mencoba mengungkapkan sebuah rasa dan doa kepada Sang Pemilik Cinta. Seiring berjalannya waktu, ternyata niat saya itu belum terwujud. “Kok kamu belum menikah zi? Bukannya targetmu  tahun 2014?” Tanya salah seorang sahabat saya.

Saya berpikir dalam diam mengapa belum terjadi juga. Akhirnya ada seseorang yang memberitahu bahwa wajar saja saya belum menikah, toh target di bulan November 2014 itu adalah MENEMUKAN bukan menikah. Haha ia juga sih, memang ucapan adalah doa.

Tapi tahukah yang terjadi dengan target saya? Ternyata tepat di akhir tahun 2014 saya MENEMUKAN seseorang yang saya harapkan. Dialah sosok yang selalu ada dalam doa-doa saya. Apakah dia jodoh yang Allah berikan? Belum tentu juga, hal itu hanya akan terbukti saat akad sudah terucap.

Pelabuhan cinta terus ku cari. Berat rasanya menjaga diri agar senantiasa taat. Ya Allah diri ini hanya ingin menjadi hamba yang taat. Diri ini hanya ingin menjaga kemurnian cinta ini. Maka saya berdoa Ya Rabb, semoga impian saya untuk memurnikan cinta dapat terwujud dengan bahtera pernikahan di tahun 2015 ini. Aamiin.

Sambil menunggu hal itu tiba, saya akan senatiasa memantaskan diri agar calon bidadari yang datang nanti adalah seseorang yang memang pantas untuk kulabuhkan cintaku padanya.

Saya percaya, siapapun bidadari surga yang akan mendampingi saya kelak adalah dia yang mempunyai visi hidup yang sama dan selalu meniatkan dirinya hanya untuk ibadah kepada Allah.

Saya pun ikut mendoakan agar niat kawan-kawan semua yang ingin menikah di tahun 2015 ini dapat terwujud. Aamiin.

Lantas dimanakah cintaku akan berlabuh? Mari kita sama-sama tunggu dalam ketaatan kepada Allah sehingga kita bisa meraih ridho illahi. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Follow me at twitter @FauziNoerwenda

Kisah Sang Petani Jagung

Cara-Menanam-Jagung

            Di suatu daerah antah berantah, ada suatu perkampungan yang setiap rumahnya memiliki kebun jagung. Mereka setiap harinya berjibaku untuk membuat jagungnya terus bertumbuh baik. Karena perkampungan tersebut semuanya memiliki kebun jagung, maka setiap tahunnya di kampung tersebut rutin diadakan kontes jagung terbaik untuk mengetahui siapakah yang memiliki jagung terbaik.

Uniknya, setiap diadakan kontes ternyata selalu hanya ada satu pemenang. Sebut saja namanya Pak Erwin. Akhirnya datanglah media dari sebuah koran yang ingin mewawancarai Pak Erwin. Mulailah mereka bertanya, “Pak, apa sih yang bapak lakukan sehingga jagungnya selalu menjadi yang terbaik?” Pak Erwin lalu menjelaskan bahwa di setiap musim tanamnya ia selalu memberikan benih jagungnya kepada para tetangganya.

Lalu mereka bertanya kembali,”mengapa bapak malah memberikan benih jagungnya? Bukankah itu akan membuat para tetangga memiliki jagung yang baik pula?” Dengan tegas Pak erwin menjawab,” justru dengan diberikannya benih jagung ini maka jagung saya akan menjadi terbaik. Hal ini karena serbuk sari yang terbang dari jagung tetangga saya baik pula. Bayangkan kalo seandainya serbuk sari yang terbang dari tetangga saya itu buruk? Mungkin jagung saya pun akan ikut buruk.

Dan benar saja sahabat, walaupun Pak Erwin memberikan benihnya pada tetangga, tetap saja jagung Pak Erwin itu yang terbaik. Lantas apa hikmah dari kisah tersebut?

Sahabat, kisah tersebut sebetulnya erat kaitannya dengan prinsip berbagi. Saat kita berbagi dengan yang lain, entah itu ilmu, materi, atau yang lainnya, sesungguhnya yang terjadi pada diri kita bukanlah berkurangnya hal yang kita bagi itu. Tetapi sebaliknya justru akan terus bertambah dan bertambah.

Sudah banyak orang yang membuktikan hal ini. Kita lihat guru-guru kita yang dengan ikhlas mengajari kita. Mereka terus berbagi dan yang terjadi mereka semakin bahagi dengan kehidupannya.

Sahabat semua, semoga kita diberikan kekuatan untuk senantiasa berbagi dengan yang lain walaupun hanya sedikit senyuman untuk mereka.