Husnuzhon Aja

Husnuzhon Campagin
HusnuzhonAja

Bani Aji Pratama

Mempertemukan untuk satu alasan.
Entah untuk belajar atau mengajarkan.
Entah untuk ditolong atau menolong.
Entah untuk menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik diwaktu tersebut.
Lakukan yang terbaik dari apa yang kamu bisa lakukan di waktu tersebut.
Tidak peduli apakah kau pemeran utama atau hanya figuran.
Lakukan dengan tulus.

Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan.
Yakinilah tidak ada yang sia-sia karena Allah yang mempertemukan, karena Allah selalu punya alasan.
Maka berprasangka baiklah…

– Bani Aji P –

HusnuzhonAja

Nisa’ul Fithri Mardani Shihab

Menjadi sakit hati akan perbuatan manusia lain atas kita adalah tanda kita kurang jatuh cinta. Kurang jatuh cinta kepada Allah, Sumber Semurni-Murninya Cinta.

Tau rasanya kasmaran kan? Mabuk. Tak sadar akan apa-apa kecuali yang dijatuh-cintai. Benak melulu tentang sosok yang digilai. Segenap indra kita sibuk minta ditunaikan si jantung hati. Ia tak pernah meminta, tapi satu-satunya semesta yang kita tau seolah hanya dirinya. Tak ambil pusing orang lain bilang apa, jatuh cinta ya jatuh cinta; “Aku yang merasakan, kau tau apa?”

Tidakkah demikian jika yang kita jatuh cintai adalah Allah? Dengan keras kepala kita menjadikan Ia sebagai satu-satunya pendebar dada, penunai tiap-tiap indra hingga yang kita dengar, lihat, kecap, raba, dan hirup adalah manifestasi keberlimpahan Cinta-Nya kepada kita, hamba-Nya.

Tahulah kita betapa tak terdefinisi Cinta-Nya pada kita. Makinlah kita jatuh cinta pada-Nya habis-habisan. Sehingga perbuatan buruk manusia lain atas kita tidak pernah jadi soal. Mana peduli. Yang Maha Pengasih dan Penyayang adalah satu-satunya yang dapat memelihara kita dari semua bentuk patah hati. Maka terserah orang mau bilang apa, kita terlalu sibuk menjadi kasmaran akan sumber semurni-murninya Cinta yang ada.

“Carilah [pihak] yang nggak perlu meminta apa-apa, tapi kamu mau memberikan segala-segalanya.” (Dee, 2009: 427)

-Nisa’ul Fithri Mardani Shihab-

HusnuzhonAja

Fauzi Noerwenda

Pelangi hadir memberikan keindahan tatkala hujan turun.

Ada jeda yang harus kita tunggu untuk menantikan pelangi keindahan.

Pencapaian prestasi dalam hidup pun memerlukan jeda waktu. Ada perjuangan yang harus kita lewati demi menanti pencapaian tersebut.

Hal terbaik dalam mengisi jeda adalah dengan selalu berhusnuzhon.

Husnuzhon membuat jeda waktu semakin berarti dan proses perjuangan semakin bermakna.

Teruslah berhusnuzhon dan nantikan pelangi keindahanmu.

-Fauzi Noerwenda-

Advertisements

Kampanye Husnuzhon!

HusnuzhonAja

‪#‎HusnuzhonCampaign‬
‪#‎HusnuzhonAja‬

Kawan – kawan, yuk ganti foto profilnya dengan frame #HusnuzhonAja.

Ini merupakan salah satu upaya untuk menyebarkan virus Husnuzhon pada banyak orang.

Caranya sederhana.

1. Download gambar / frame husnuzhon.
2. Masukan fotomu
3. Gabungkan dengan aplikasi foto, seperti photo grid, photo college, dll.
4. Selamat mencoba.

“Karena hidup adalah seni menyikapi takdir Allah, maka sebaik – baik sikap adalah HUSNUZHON”

Follow Us
Facebook: https://web.facebook.com/GerakanHusnuzhon/?fref=photo
Instagram: @GerakanHusnuzhon
Line: http://line.me/ti/p/%40exy7794s

Perjalanan Mengenal Tuhan

Perjalanan Mengenal Tuhan

“Sejatinya, perjalanan mengenal diri adalah rangkaian perjalanan untuk mengenal Tuhan”

-Fauzi Noerwenda-

Satu pertanyaan yang selalu hadir dalam kehidupan kita adalah hal yang berkaitan dengan kebahagiaan. Siapa orang yang tak ingin bahagia? Pasti semua orang ingin bahagia. Bahkan cita-cita tertingginya adalah bahagia dunia akhirat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara meraihnya?

Bahagia merupakan hasil yang kita harapkan. Maka caranya adalah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sesederhana itu sebetulnya konsep dasarnya. Hanya dalam pelaksanaannya akan muncul berbagai macam tantangan.

Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya merupakan sebuah aturan yang kita lakukan untuk mencapai satu tujuan yaitu ridho Allah SWT. Artinya kebahagiaan akan diperoleh tatkala Allah memberikan ridho-Nya kepada kita sebagai manusia.

Dalam berkegiatan, kita selalu diingatkan agar selalu meniatkan sebagai ibadah. Alasannya sederhana, hal itu dilakukan untuk menggapai ridho Allah SWT. Maka niat harus selalu diluruskan karena seringkali belok seiring berjalannya waktu.

Dari beberapa pernyataan diatas, dapat diambil benang merah bahwa kebahagiaan berasal dari aktivitas yang kita kerjakan dengan niat ibadah demi menggapai ridho Allah SWT. Lalu bagaimana bahagia bisa tercipta, sementara dalam setiap waktu yang kita lewati selalu ada kesedihan dan kekecewaan?

Kesedihan atau kekecewaan biasanya hadir karena harapan yang kita inginkan tidak terwujud. Secara manusiawi tentu kita akan merasa sedih. Maka terima itu karena memang kita manusia. Namun jangan biarkan itu terjadi berlarut. Ingat konsep dasarnya, harapan kita tidak terjadi belum tentu itu gagal dan buruk. Boleh jadi justru itu yang terbaik yang Allah berikan untuk kita yang serba tidak tahu ini.

Allah itu Maha Tahu. Maka percaya dan terima setiap ketetapan-Nya. Saat segala apapun kita sandarkan kepada Allah SWT, kegagalan pun akan berakhir bahagia. Mengapa? Lah hasil akhirnya kan bukan tercapainya harapan, namun tercapainya ridho Allah SWT. Asik kan?

Manusia terlahir ke muka bumi adalah bagian dari perjalanan untuk mengenal Tuhan. Sudah jelas bahwa dunia adalah tempat singgah dimana manusia akan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Kebaikan-kebaikan itulah yang nantinya akan diakumulasikan sebagai tiket pulang ke kehidupan yang abadi.

Berkebaikan itu perlu cara. Berkerbaikan itu perlu usaha. Sumber kebaikan adalah Allah. Bagaimana kita bisa berbuat baik sementara kita sendiri tidak mengenal siapa Tuhan kita. Jika direnungkan, apa yang sebetulnya kita lakukan adalah jalan untuk mengenal Allah lebih dekat. Pada akhirnya, manusia menemukan berbagai macam cara untuk mengenal siapa Tuhannya.

Orang yang pernah berbuat kesalahan lalu bertobat akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pengampun. Orang yang diuji dengan kemiskinan namun ia masih bisa bertahan hidup akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Orang yang kaya raya namun rajin sedekah akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pemurah. Orang yang mendapat hal yang tak disangka-sangka akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Kuasa.

Begitu banyak cara yang akhirnya membuat manusia bisa mengenal dengan Tuhannya. Kehidupan singkat inilah yang akhirnya menjadi rangkaian perjalanan dengan tajuk mengenal Tuhan. Perjalanan mengenal Tuhan tak bisa dilepaskan dari perjalanan mengenal diri. Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengena siapa Tuhannya. Maka kenali dirimu agar bisa mengenali Tuhan.

Permasalahan orang-orang saat ini adalah bingung dengan dirinya sendiri. Kebingungan ini yang membuat ia tidak mengenal dirinya. Gampangnya ia tidak tahu apa kelebihan dan kekurangannya, tidak tahu apa cita-citanya, bahkan boleh jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup.

Ketidak tahuan inilah yang menjadi langkah awal dalam rangka mengenal diri dan Tuhan. Dari proses tidak tahu menjadi tahu dan dari proses tidak kenal menjadi kenal.

Ada sebuah pengalaman menarik tatkala saya diajak oleh guru saya untuk melakukan perjalanan mengenal diri dan mengenal Tuhan ke sebuah pantai di daerah Garut bernama Rancabuaya.

Saya pergi bersama 11 orang teman termasuk guru saya. Kami pergi menggunakan sepeda motor. Perjalanan menuju kesana pun sudah menjadi bagian dalam rangkaian perjalanan mengenal diri dan mengenal Tuhan.

Dalam perjalanan yang terdiri dari 6 motor, kami berupaya untuk saling melindungi agar bisa selamat sampai tujuan. Medan yang cukup sulit serta jarak yang lumayan jauh sekitar 100 KM membuat kami harus berhati-hati dan saling bergantian dalam berkendara, apalagi ada 4 orang perempuan yang juga ikut.

Dalam perjalanan selalu ada hal yang tak pernah diduga. Sesuai dugaan, kami pun tak melewatkan hal tersebut. Dari mulai ada motor yang remnya blong, ada yang jatuh sampai ada ban yang pecah. Bumbu perjalanannya makin terasa pokoknya.

Disaat kejadian seperti itulah muncul sikap asli dari masing-masing orang. Ada yang bersikap perhatian, penolong, khawatir, takut, stay cool dan lainnya. Perpaduan sikap itu yang ternyata membuat kami semakin kompak dan yakin melanjutkan perjalana ke Rancabuaya yang memakan waktu hingga 3 jam perjalanan. Oia, waktu itu kami memulai perjalanan dari ciwidey.

Sepanjang perjalanan, rasa takjub kami tak terbendung. Begitu indahnya alam ciptaan Sang Kuasa. Kami melewati kebun teh, bukit, hutan hingga akhirnya sampailah di pantai tujuan. Keyakinan kami semakin bertambah karena keindahan ini tak mungkin hasil karya manusia, namun inilah maha karya Sang Pencipta.

Momen kali ini benar-benar saya manfaatkan untuk merenungi tentang siapa saya dan apa yang saya inginkan. Beberapa menit setelah sampai, saya berinisiatif untuk pergi sendiri ke tepi pantai sembari duduk dan mendengarkan musik.

Deburan ombak terdengar jelas oleh telinga saya. Kapal berlayar serta masyarakat yang sedang memancing pun terlihat jelas dalam pandangan saya. Iringan musik membuat saya semakin terlarut dalam kesendirian itu. Argh, rasanya begitu tenang dan damai.

Ada satu hikmah yang saya dapatkan ketika sedang berada di pantai. Pada dasarnya, Allah sudah menciptakan setiap makhluk dengan perannya masing-masing. Peran tersebut akan diketahui saat kita mampu mengenal siapa diri kita.

Ombak tak henti menggulung lautan, ikan terus berenang di lautan, gunung pun dengan kokohnya terus berdiri. Ya, mereka semua sedang menjalankan peran dari Tuhan. Semua makhluk itu sedang bertasbih memuji setiap kekuasan-Nya. Lalu bagaimana dengan kita manusia? Ah rasanya saya masih jauh dari itu.

Semakin lama terdiam, semakin menikmati pula setiap suasana di pantai rancabuaya. Namun waktu yang terus bergulir membuat kami harus mengakhiri perjalanan di pantai rancabuaya ini.

Pencarian diri akan terus berlangsung dalam kehidupan. Seyogyanya pencarian diri adalah jalan untuk mengenal lebih dekat Allah SWT. Pencarian itu butuh ilmu. Maka hakikat kita pada akhirnya adalah belajar dan akan terus belajar. Semakin dalam belajar, maka kita akan semakin menyadari siapa kita dan mengenal siapa Tuhan kita.

Jangan sedikit pun berhenti untuk belajar. Kuatkan diri agar memiliki semangat pembelajar sehingga kelak saat durasi waktu di bumi ini habis, kita punya bekal untuk kembali pulang ke kehidupan abadi. Selamat belajar. Selamat mengenal diri dan mengenal Tuhan.

Momen Hijrah

Husnuzhon Hijrah

“Jika hijrah adalah pergerakan atau perubahan, maka satu komponen paling penting dalam menyukseskannya adalah NIAT”

-Natisa-

Pergantian tahun selalu menghadirkan harapan baru bagi setiap orang. Semua orang termasuk kita biasanya selalu mengawali tahun baru dengan sebuah perubahan. Tak ayal hal itu pun terjadi saat pergantian tahun baru islam atau dikenal dengan tahun baru hijriyah.

Momen tahun baru islam selalu dikaitkan dengan momen hijrah. Maka banyak orang berdoa agar ke depannya mengalami fase hijrah dalam kehidupannya. Ngomong-ngomong soal hijrah, saya pribadi awalnya mengira hijrah adalah fase berpindah dari kondisi jelek ke kondisi yang baik.

Ternyata apa yang selama saya anggap benar itu kurang tepat. Banyak orang mengartikan hijrah seperti halnya diatas. Padahal makna hijrah tidak seperti itu. Di suasana malam yang begitu romantis, Pak Hilman seorang guru yang saya cintai menjelaskan makna hijrah kepada santri PPM Miftahul Khoir di area lapangan pondok.

Beliau menyampaikan bahwa hijrah adalah fase berpindah dari kondisi yang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Maka hijrah itu terjadi dengan kondisi yang sudah baik. Sementara makna berpindah dari kondisi jelek ke kondisi yang baik namanya adalah insaf.

Pergeseran makna ini seringkali cepat tersebar, padahal sangat disayangkan. Makna tentu harus sesuai dengan kondisi aslinya. Rasul pun ketika melakukan hijrah bersama sahabat sedang dalam keadaan baik. Hijrah pun dilakukan untuk menghimpun kekuatan agar memiliki kondisi yang lebih baik.

Masih membahas mengenai hijrah, Pak hilman menyampaikan lebih dalam bagaimana seorang santri memaknai hijrah. Hal yang patut disyukuri oleh santri adalah keadaannya yang berada dalam posisi baik. Mengapa? Saat memutuskan untuk jadi santri, maka sudah ada pergeseran posisi menjadi kondisi yang baik. Artinya makna hijrah itu betul bagi santri. Kini santri harus hijrah dari kondisi yang baik menjadi kondisi yang lebih baik. Lantas bagaimana caranya? Sederhananya adalah dengan melakukan perbaikan ibadah semisal sholat berjamaah dan ta’lim.

Satu pelajaran yang bisa kita ambil dari hijrah adalah tentang perubahan. Perubahan berawal dari kesungguhan yang tulus. Kesungguhan hadir dari niat yang tulus. Maka bicara hijrah artinya bicara mengenai niat.

Perbaiki niat kita dan rasakan momen hijrah terbaik dalam hidup Anda.

@FauziNoerwenda

Kenali Dirimu

Kenali Dirimu

“Perjalanan terjauh adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri”

-Natisa-

Dalam sesi training motivasi yang saya ikuti, bab “kenal diri” selalu menjadi pembahasan utama. Salah satu poin kunci utama untuk meraih kesuksesan adalah dengan mengenal diri. Semakin kenal dengan diri, tentu akan semakin tahu kekuatan yang ada pada diri. Kekuatan itulah yang akhirnya menjadi modal untuk mengembangkan setiap kemampuan yang kita miliki.

Berbagai macam metode yang disampaikan dalam sesi training ternyata tak cukup untuk mengenal siapa diri kita yang sesungguhnya. Pada saat itu, kita baru memahami diri dari cangkangnya saja, Perlu ada sesi khusus untuk mendalami isi dirinya.

Sesi khusus tersebut ada dalam kehidupan nyata. Berbagai macam aktivitas mempertemukan kita dengan ragam hal yang kita sukai atau tidak. Secara tidak sadar, kita sedang melakukan seleksi tentang hal apa yang kita sukai. Proses kenal diri pun dimulai.

Sayangnya, proses kenal diri membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akan banyak pengorbanan yang kita hadapi, seperti sakit hati, kecewa, bingung, bahagia sampai letih pun dirasakan. Mengapa? Karena memang perjalanan terjauh dalam kehidupan adalah perjalanan untuk mengenal diri sendiri.

Ada sebuah metode yang dilakukan guru saya untuk membantu murid-muridnya mengenali diri. Dalam sebuah gerakan yang beliau dirikan, metode tersebut menjadi gaya khas beliau dalam berkomunikasi.

Beliau tak pernah melarang apapun yang muridnya lakukan. Satu pesan yang beliau sampaikan adalah menjadi orang gila. Iya, orang gila! Artinya apa?

Artinya, mumpung usia kita masih muda, lakukanlah hal-hal yang luar biasa dalam hidup. Jangan sampai hidup kita dibatasi oleh satu kondisi. Jadilah orang gila yang tak berpikir apapun. Proses itulah yang akhirnya akan menjadi sebuah pijakan hingga kita menemukan “Aha momennya”, INILAH DIRIKU.

Pencarian jati diri memang penuh tantangan. Awalnya akan terbentuk pola dimana kita merasa malu dalam berbuat. Bahkan tak tahu apa yang akan dilakukan dalam hidupnya. Namun apa yang terjadi saat kita mengenal siapa diri kita?

Orang yang mengenal dirinya akan menemukan kebebasan dirinya Ibarat burung yang terbang di angkasa dan ikan yang berenang di lautan. Pada akhirnya ia akan bahagia dengan segudang aktivitas yang ia lakukan.

Proses mengenal Tuhan pun diawali dengan mengenal diri. Maka orang dengan tingkat keimanan yang begitu kuat sudah sangat kuat pula dalam mengenal dirinya. Kenal diri pun menjadi landasan dalam kehidupan. Semua akan bermuara dari mana kita berasal dan akan kemana kita pulang. Sejatinya, mengenal diri adalah proses agar persinggahan kita di bumi ini agar kita menemukan makna hidup sebelum kembali pulang ke negeri abadi.

Jadi, siapkah Anda berusaha untuk mengenal siapa diri Anda? Mulailah dengan merenungi mengapa Anda diciptakan di bumi ini dan kemana langkah kaki Anda nantinya berjalan. Teruslah berbaik sangka dalam setiap perenungannya, karena hakikat kehidupan yang sedang kita jalani adalah kehidupan terbaik dari Sang Pencipta.

 

Dakwah itu panggilan jiwa

Dakwah itu panggilan jiwa

“Berdakwah itu bukan profesi, tapi panggilan jiwa”

-Bambang Triyono-

Rasa syukur terbesar yang harus kita panjatkan adalah nikmat iman dan islam. Kedua hal itu menjadikan kita makhluk dengan posisi yang benar. Mengimani Allah SWT sebagai Tuhan yang esa serta menjalankan syariatnya sebagai upaya untuk kembali pulang ke tempat yang Allah ridhoi.

Sampainya islam pada diri kita melalui proses yang sangat panjang. Rasulullah SAW menjadi sosok pertama yang Allah utus untuk menyampaikan islam sebagai rahmattan lil ‘alamin. Rasulullah melewati berbagai macam rintangan demi mendakwahkan islam kepada umat manusia. Perjuangannya yang penuh cinta berdampak dengan berubahnya kehidupan menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut kini dirasakan oleh setiap manusia.

Namun apa jadinya saat penerus dakwah Rasulullah tak ada lagi? Sementara arus roda keburukan tak pernah henti mengancam banyak orang. Akankah kita tergilas oleh roda-roda hitam keburukan? Untuk itu, kini saatnya kita ambil bagian dalam meneruskan dakwah Rasulullah SAW.

Lantas bagaimana cara untuk memulai dakwahnya? Sementara diluar sana begitu banyak orang yang sulit untuk ditaklukan. Bahkan terkadang kita sudah ciut duluan dengan kondisi yang begitu menyeramkan. Satu kunci yang saya dapatkan dari guru saya adalah cinta. Hadirkan cinta saat kita melakukan kegiatan dakwah.

Ingat, yang kita hadapi adalah manusia. Manusia bukanlah malaikat yang selalu benar. Bukan pula setan yang selalu salah. Manusia adalah makhluk yang mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Maka saat kita melihat manusia berbuat hal yang melanggar agama, ingatlah bahwa mereka pun pasti punya sisi baiknya. Maka berhusnudzhanlah.

Cinta adalah komponen yang membuat dakwah terasa ringan. Jangan dipusingkan apakah setelah dakwah mereka akan berubah atau tidak, karena hasil adalah ranahnya Allah. Tugas kita adalah berusaha untuk menyampaikan. Maka sampaikanlah dengan usaha terbaik, dengan cinta terbaik dan dengan niat terbaik.

Hati akan tersentuh dengan hati pula. Maka lakukanlah dakwahmu dengan hati yang tulus. Percayalah dengan pertolongan Allah dalam setiap dakwah kita. Rasakan keajaiban yang hadir. Ingat, preman aja bisa pension. Artinya, saat dakwah disampaikan, Insya Allah akan banyak orang yang merasakan jalan yang benar sehingga pada akhirnya panggilan cinta itu akan mereka ikuti untuk akhirnya kembali pada Allah Sang Maha Cinta.

@FauziNoerwenda

Ngaji bareng wanita PSK

Ngaji bareng wanita PSK

“Berdakwah di masjid sudah biasa karena berisi orang-orang baik, tapi kalo dakwah di kawasan marginal baru luar biasa”

-Zuhair Badruzzaman-

Sudah tak asing dalam pandangan mata bahwa orang-orang marginal selalu terpinggirkan. Mereka yang sering dijalanan, anak-anak terbuang sampai wanita PSK jarang sekali terjamah dalam hal kebaikan. Orang enggan untuk mendekat kepada mereka. Kebanyakan diantara kita menganggap bahwa mereka adalah manusia yang tidak baik.

Lantas bagaimana kebaikan akan sampai kepada mereka jika tak ada orang yang menyampaikannya? Berulang kali saya sampaikan dalam beberapa tulisan saya bahwa setiap orang itu baik. Hanya saja selalu ada kejelekan yang manusia perbuat. Boleh jadi apa yang mereka lakukan adalah sedikit kejelekan dari kebaikan yang tersembunyi mereka lakukan. Dari pada berprasangka buruk, lebih baik berprasangka baik sajalah.

Suatu ketika saya bertemu dengan kawan-kawan dari komunitas pecinta al-qur’an atau yang lebih sering disebut KOMPAQ. Mereka adalah kawan-kawan pecinta al-qur’an yang juga mengajarkan al-qur’an kepada orang-orang dikawasan marginal ibu kota. Catat, kawasan marginal!

Salah seorang pengurus kompaq yaitu Mas Zuhair mengatakan bahwa berdakwah di masjid itu sudah biasa. Di masjid sudah pasti berisi orang-orang baik yang akan atau sedang belajar. Bahkan begitu banyak orang-orang yang mengajarkan dan membagikan ilmunya di mesjid. Jadi sangat wajar perkembangannya begitu baik.

Berbeda di kawasan marginal yang jarang sekali dijamah oleh kebanyakan orang. Lalu kalo tak ada satu pun orang yang menyampaikan kebaikan kepada mereka, bagaimana kebaikan itu sampai? Harus ada yang memulainya. Itulah alasan mengapa Kompaq lebih memilih berdakwah di kawasan marginal daerah ibu kota.

Ternyata cerita dakwah di kawasan marginal lebih menantang adrenalin loh. Bagaimana tidak, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang “kurang baik”. Dibutuhkan mental kuat untuk terjun kesana. Tentu niat yang tulus menjadi modal utama bagi para penggiat kompaq. Alhasil mereka pun terjun ke jalanan, menjamah anak-anak sampai wanita tunasusila atau wanita PSK.

Gaya dakwah yang dilakukan pun berbeda dengan dakwah pada umumnya. Ustadz Hilman menceritakan pengalamannya saat ngaji dengan wanita PSK di Jakarta. Uh rasanya memang beda. Namun saat hati tulus untuk menyampaikan kebaikan, maka mereka pun siap untuk menerima dengan baik pula.

Sejenak mari kita kembali renungi mengapa Rasul mulia Nabi Muhammad SAW diturunkan di Mekah? Pada waktu itu Mekah sedang ancur-ancurnya, masyarakatnya begitu jelek sampai dikatakan kaum jahiliyah. Untuk itulah Rasul hadir ditengah-tengah mereka untuk menyempurnakan akhlak. Dengan penuh perjuangan Rasul berhasil merubah kaum jahiliyah menjadi salah satu kaum terbaik di muka bumi.

Dakwah butuh perjuangan. Dakwah butuh proses. Lebih dari itu, dakwah membutuhkan mental dan niat yang tulus. Masih banyak diantara kita yang lebih nyaman berbuat maksiat. Maka dekati dan cintai mereka. Bukan sebaliknya, malah kita jauhi dan benci. Tebarkanlah cinta kepada siapapun.

Saat cinta hadir dalam dakwah kita, maka orang-orang akan lebih mudah menerima. Ingat, setiap orang pada dasarnya baik. Maka gunakan husnudzhan sebagai modal utama dalam dakwah dan rasakan kebaikan dari setiap orang yang kita temui.

Selamat bertemu dan berbagi kebaikan dengan orang-orang yang jarang kita jamah. Berhusnudzhanlah!