#11.Formais Effect – Luailush Sholihah

formais effect

Assalammu’alaikum. Wr., Wb.

Salam semangat, salam sukses untuk kita semua…..

Oh iyah, sebelum saya masuk menjadi salah satu keluarga di FORMAIS, saya tipe orang yang pendiam dan tak mau banyak tanya padahal dalam benak saya banyak banget pertanyaan-pertanyaan yang ingin saya lontarkan, dan satu hal lagi saya orangnya susah untuk merangkai kata baik dalam obrolan, semangat dan jawaban untuk orang-orang yang buat orang kurang paham kalau ngobrol sama saya.hehehheh

Awal saya terjebak dalam organisasi ini ketika perkenalan setiap UKM ketika OSPEK, kalau di tanya kenapa saya minat di FORMAIS karena saya suka dengan semua semangat kakak-kakak itu sendiri dalam menjelaskan kegiatan singkat yang memberi manfaat yang besar. Dan akhirnya saya bisa bergabung menjadi salah satu keluarga di FORMAIS.

Banyak perubahan yang muncul dalam kehidupan saya diantaranya semangat, berwawasan dan sikap optimis dan sikap positifnya dalam berpikir dari kakak-kakak semua melekat juga dalam diri saya. Pokoknya banyak sekali yang berubah dalam diri pribadi saya.

Organisasi ini memberikan dampak yang positif dalam diri saya, karena banyak juga ilmu yang saya miliki selain ilmu tentang keislaman juga ilmu yang lainnya yang memberikan pengaruh positif terhadap diri saya. Pokoknya semuanya seimbang dech…

Itulah diri saya sekarang semoga dengan berjalannya waktu saya dapat berubah lebih baik lagi, baik untuk diri saya maupun orang lain.

Untuk semua rekan-rekan betapa senangnya jika kita bisa bergabung di LDK selain memberikan manfaat bagi individual tapi juga untuk orang-orang banyak ketika ilmu yang kita dapat dari LDK, sehingga  kita bisa berbagi ilmu dengan orang banyak. Semoga apa yang kita kerjakan mendapat Ridho dari Allah SWT.

Amin

Wassalammu’alaikum Wr., Wb

#10.Formais Effect – Fauzi Noerwenda

muda mulia

Apa kabar sahabat-sahabat semua ? Semoga selalu berada dalam rahmat dan lindungan ALLAH SWT.

Saya Fauzi Noerwenda. Perjalanan hidupku dilalui dengan manis. Saya tumbuh menjadi anak kebanggan keluarga. Namun semua berubah saat saya memasuki bangku SMP. Disini saya mulai terjebak dengan dunia pacaran. Hingga akhirnya selama SMP waktuku hanya dihabiskan dengan pacaran, main-main, nongkrong, begadang, bahkan sering
juga judi bola dengan teman-teman. Memasuki SMA pun tetap sama. Saya terus mengenal dunia pacaran lebih dekat. Perlahan saya terus tergoda dan membuat saya terus melakukan dosa.

Perjalanan menjadi semakin berliku saat memasuki dunia perkuliahan. Secara umum sih saya mampu berprestasi di kampus, IPK selalu diatas 3.5, aktif di organisasi pula, bahkan dapat juga berbagai kejuaran mulai dari futsal, lomba cerdas cermat, hingga business plan.

Singkat cerita, awal-awal masuk kuliah saya sudah berniat untuk masuk LDK. Saat itu saya sudah mengisi form pendaftaran Forum Mahasiswa Islam (FORMAIS). Namun setelah mendaftar saya tidak langsung gabung ikut kegiatannya, karena masih ada rasa canggung dengan yang lain. Hingga akhirnya saya dipertemukan dengan Kang Wildan yang merupakan ketua umum FORMAIS saat itu. Pertemuan terjadi secara tidak sengaja. Saat itu saya selesai sholat ashar lalu bertemulah dengan beliau. Dari situ akhirnya saya mulai gabung bersama teman-teman FORMAIS.

  • Kisah bersama FORMAIS

          Cerita baru dimulai. Saya kini mulai menghabiskan banyak waktu bersama FORMAIS. Berbagai kegiatan saya ikuti, salah satunya adalah kajian umum yang merupakan acara rutinan FORMAIS. Hari demi hari terus berjalan membuat saya semakin betah berada di FORMAIS. Walaupun anggota FORMAIS saat itu hanya sedikit, hal itu tak membuatku untuk keluar dari FORMAIS. Yang ada perasaan saya semakin senang. Kekeluargaan yang begitu erat membuat saya merasa memiliki keluarga baru di Bandung. Hal yang membuat saya semakin senang karena saya bisa belajar islam lebih baik. Bahkan dari FORMAIS, saya bisa mengenal banyak orang dari berbagai kampus di Bandung. Adalah Kang Wildan yang memperkenalkan itu semua. Suatu ketika saya diajak ta’lim oleh Kang Wildan di Darusy Syabab. Disitulah saya mengalami perubahan yang sangat besar. Saya bertemu Kang Rendy dan orang-orang yang kini menjadi sahabat-sahabat saya. Fase perubahan terus saya alami waktu demi waktu. Waktu yang akhirnya membuat saya lebih nyaman berada di Bandung.

Keberadaan saya di FORMAIS ternyata tak membuat saya benar-benar aman dari berbagai macam godaan. Entahlah mengapa itu terjadi. Mungkin keimanan saya yang belum benar. Akhirnya saya kembali terjebak dengan dunia yang selama ini membuat saya hancur, yaitu pacaran.

Saya kembali terjebak tepatnya memasuki awal-awal tahun 2011. Saat itu saya seperti buih-buih yang diterbangkan oleh angin. Terbang ke tempat jauh yang tak diinginkan. Satu tahun inilah yang akhirnya membuat saya menjadi jauh dengan Allah.

 

  • Masalah-masalah di FORMAIS

          Waktu terus berjalan seakan menjauh. Tak ada yang menyangka, saya harus naik menjadi ketua FORMAIS masa amanah 2011-2012. Tidak adanya calon dari angkatan 2009 membuat saya yang merupakan angkatan 2010 harus naik menjadi ketua. Inilah awal cerita yang penuh dengan drama.

Saya menjalani amanah sebagai ketua sambil meraba-raba karena organisasi tentang keislaman jarang sekali saya ikuti. Disamping itu saya harus menutupi suatu aib didepan teman-teman semua. Ingin sekali rasanya saya ungkapkan, namun belum juga ada kesempatan yang pas.

Hingga akhirnya teman-teman FORMAIS tahu bahwa saya pacaran. Satu tahun pertama saya menjabat penuh dengan tekanan. Bahkan kajian pernah tidak jalan karena saya sedang pacaran. Saya terus ditekan agar segera putus. Saat itu diri saya masih dikendalikan oleh nafsu, sehingga saya masih menolak dengan hal itu. Kejadian terus berlangsung begitu lama. Semua itu berdampak pada keharmonisan keluarga FORMAIS yang semakin rawan. Akhirnya yang terjadi adalah perdebatan, dihujat, dicerca, dan sebagainya. Sedih rasanya saya melihat keluarga FORMAIS seperti ini terus. Hati ini ingin menangis. Saya sangat sayang dengan FORMAIS dan tidak ingin melihat ini semua terus terjadi pada generasi selanjutnya.

  • Hadirnya hidayah

Teringat akan kata-kata guru saya, Kang Rendy, bahwa hidayah Allah itu ada dimana-mana, tinggal bagaimana kita mau meraihnya atau tidak. Ternyata hal itu benar, memasuki akhir tahun 2011. Teman-teman ikhwan FORMAIS secara tidak direncanakan menginap dikampus dan kemudian melakukan muhasabah. Kang Yudi merupakan tokoh dibalik itu semua. Kami berlima bersama Kang Yudi, Kang Deki, Singgih, dan Iqbal akhirnya melakukan muhasabah.

Malam itulah proses hadirnya cahaya baru dalam hidup saya. Kang Yudi mengajak kami bersama untuk melakukan perenungan diri. Beliau terus memberikan inspirasi. Dan yang paling mengerikan saat Kang Yudi mengeluarkan kain kafan lalu kami disuruh untuk mencium kain tersebut satu persatu dan kain tersebut kami simpan diwajah masing-masing. Tersontak kami semua. Menjerit, menangis mengalir tak tertahan. Kami takut tak bisa kembali ke jalan yang benar. Dosa-dosa kami sangat bertumpuk. Ya Allah, ampuni kami. Ampuni dosa-dosa kami. Ampuni kami yang selama ini telah mengingkari-Mu. Astagfirullahal adzim.

Hari-hari terus berlalu. Setelah kejadian itu ada yang berbeda dari kami, khususnya saya pribadi. Diri ini menjadi lemas tak berdaya. Takut akan segala dosa yang selama ini telah kami himpun. Kami mencoba untuk menjauh dari akhwat, bahkan kalo bisa langsung putus. Tapi disinilah iman kami diuji. Nafsu ini terus mengendalikan dengan sangat kuat. Tak berdaya saya dibuatnya. Hingga keputusan untuk putus pun belum terlaksana.

Cahaya kembali hadir saat saya mengikuti training UTHB. Lagi-lagi Kang Yudi yang mengajak saya untuk ikut training tersebut. Disinilah hati saya kembali dicabik-cabik. Saat itu kami ikut training bersama teman-teman saat muhasabah, kecuali Kang Deki yang tidak bisa hadir. Selesai program itu selesai, saya memutuskan untuk menjaga jarak dengan pacar saya. 1, 2, 3 bulan saya berhasil. Namun setelah itu saya kembali menjadi diri saya yang dulu. Bahkan saya semakin dekat. Saya terus terjebak bahkan semakin parah. Ya Allah ampuni hamba-Mu ini. Ampuni Ya Allah.

Saya terus berdoa kepada Yang Maha Pengampun. Terus memohon hidayah dan terus memohon ampunan. Ternyata Allah memang Maha Mendengar. Tanggal 4-5 Februari 2012 menjadi titik balik hidupku. Saya ikut training muda mulia gratis. Kang Yudi, beliau yang kembali mengajak saya ikut training. Jasa beliau begitu besar dalam hidup saya. Terima kasih Kang Yudi.

Training muda mulia benar-benar menyadarkan diri saya. Akhirnya saya bulatkan tekad, luruskan niat, dan sempurnakan ikhtiar. Tepat tanggal 4 Februari, saya mengakhiri hubungan pacaran saya. Inilah start awal kehidupan baruku dimulai.

  • Fase perubahan

FORMAIS. Inilah tempat dimana saya banyak belajar. Tentang kebersamaan, pengambilan keputusan, ketegasan, bahkan tentang hal lain diluar islam. Semua menjadi pelajaran buat saya. Singkat cerita saya kembali terpilih sebagai ketua masa amanah 2012-2013.

Perjalanan yang baru dimulai. Kini kapal harus benar-benar kokoh untuk menuju samudra yang benar-benar deras nantinya. Perubahan memang membutuhkan waktu. Awal-awal kembali saya menjabat, memang banyak hal yang harus saya benahi. Dan itu membutuhkan waktu, pikiran, tenaga, bahkan uang sekalipun. Tapi tetap luruskan niat untuk hanya mendapatkan ridho-Nya.

Armada perang FORMAIS kini semakin banyak. Hadirnya anggota baru angkatan 2011 menjadi angin segar buat segar. Saya sangat senang dengan kehadiran mereka semua. Karena nantinya merekala yang akan meneruskan tongkat estafet dakwah ini.

Banyak hikmah yang terus saya ambil dari berbagai kejadian yang saya lewati. Semua itu membuat saya semakin dewasa. Tersenyum sendiri saat saya kembali mengenang masa-masa itu.

Roda dakwah tak akan pernah berhenti. Tentunya akan terus ada generasi-generasi pengganti selanjutnya. Waktu terus berdetak. Tak terasa waktuku di FORMAIS akan segera habis. Artinya saya akan memberikan nahkoda kapal FORMAIS kepada generasi selanjutnya. Ada sebuah harapan besar. Sebuah harapan yang nantinya akan membuat FORMAIS terus berkibar dan yang paling penting adalah berkibarnya bendera islam menandakan inilah kejayaan islam. Kejayaan yang sesungguhnya. Semangat Ikhwanul United dan Rangers Akhwat FORMAIS. Kalianlah punggawa selanjutnya. Kalianlah yang akan mewujudkan cita-cita kami. Allahu Akbar.

Petualanganku bersama LDK FORMAIS akan segera berakhir. Namun perjuangan dakwah ini akan terus saya kibarkan dimanapun saya berada. Sungguh suatu perasaan yang sangat bahagia bisa bergabung bersama FORMAIS. Disinilah saya banyak belajar. Disinilah saya berubah. Dari orang yang belum benar menjadi orang yang benar. Dari orang yang belum baik, menjadi orang yang baik. Inilah saya sekarang, menjadi seorang pembelajar akan semakin dekat denga ridho-Nya.

Bersama FORMAIS pula saya mampu mengasah berlian saya. Kini saya telah menjadi seorang trainer. Inilah yang selanjutnya yang akan menjadi ladang dakwah saya. saya berharap mampu memberikan inspirasi kepada mereka yang belum meliki tujuan hidup. Kepada mereka yang masih tak jelas kehidupannya. Saya tak hanya akan menginspirasi di Indonesia, tapi juga untuk seluruh dunia. Dengan begitu akan semakin banyak orang-orang yang terlahir untuk menerangi dunia ini.

Pesan untuk seluruh aktivis dakwah di Indonesia, khusunya FORMAIS. Teruslah berjuang dijalan Allah. Walaupun kalian letih, lelah, sakit, tak dibayar bahkan banyak yang menghujat. Tapi yakinlah, Allah melihat segala perjuangan kita. Dan Allah pula yang akan membayar kita semua. Mungkin tidak hari ini, tapi suatu saat ini kalian akan merasakan bahwa keajaiban Allah itu ada dan benar-benar terjadi.

Luruskan niat, bulatkan tekad, dan sempurnakan ikhtiar. Allahu Akbar.

 

#9.Formais Effect – Gina Noviana Yuniar

stie ekuitas bandung

Gumpalan tipis lembut bagai kapas nan putih itu terus turun perlahan lalu menempel di aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan menyepuh kota Bandung menjadi serba putih. Kota Van Java itu seolah diselimuti jubah ihram orang-orang suci. Dalam suasana serba putih, Bandung seolah memamerkan keindahan sihirnya di musim dingin.

Jalan-jalan yang putih dan bangunan-bangunan yang disepuh kabut. Pohon-pohon  yang menjelma hamparan permadani serba putih. Tetesan-tetesan air  yang jatuh dari ranting pohon membeku menciptakan keindahan ukiran kristal.

 

Aku adalah seorang remaja yang terhempas dalam kenyataan hidup ditengah arus globalisasi. Mungkin lebih tepatnya bukan seorang remaja lagi, dengan usiaku  yang  sudah  19 tahun ini sudah saatnya aku menghilangkan predikat remaja itu menuju masa-masa dewasa.

Kini aku sudah tidak menikmati lagi dunia yang semu dan putih abu-abu itu, semuanya berubah menjadi dunia yang penuh warna setiap harinya. Predikat siswa yang aku sandang pun seketika berubah menjadi “mahasiswa” ya sekali lagi “mahasiswa” ! hiruk pikuk perjalananku sebagai mahasiswa pun dimulai dari sini, seolah aku mendapat dunia baru. Terlebih ketika aku mulai aktif bergabung dengan salah satu organisasi kampus yang berbau islami, seketika itu juga gejolak-gejolak dan euporia dunia kampus sesungguhnya aku rasakan.

Namaku Gina Noviana Yuniar, teman-teman biasa memanggilku dengan berbagai macam sebutan. Ada yang manggil Gina, Enggin, Ginong, dll semua sebutan itulah yang membuatku kini dikenal banyak orang dan bisa lebih dekat dengan teman-temanku. Aku salah satu mahasiswa STIE Ekuitas Bandung, jurusan S1 Manajemen. Keberadaanku di kampus ini juga memang awalnya bukan harapanku, karena sama sekali aku tidak pernah terbesit untuk masuk kampus ini. Kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keberadaan aku di kampus ini mungkin karena “korban kekejaman SNMPTN” hehe..

Impianku saat aku masih duduk di bangku SMA yaitu bisa kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan salah satu universitas Negeri di Bandung yaitu UNPAD, tapi ternyata aku masih belum di beri kesempatan untuk bisa menikmati impianku itu (Allah sinis banget ya sama aku.. hehe) segala jerih payahku dan usaha-usahaku saat itu sudah aku kerahkan semaksimal mungkin, sampai kedua orang tuaku pun ikut andil merasakan jerih payahnya bersamaku. Tetap saja hasilnya masih belum sesuai harapan, dan kesimpulannya (Allah itu masih sinis sama aku) hingga akhirnya aku dilemparkan (terjebak) masuk di kampus STIE Ekuitas. Dengan segala kerendahan hati aku pun berusaha menerima semua keputusan (takdir) ini, karena mungkin dibalik semua ini Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik dan indah untukku di kampus ini.

——ooo0^_^0ooo——

Setelah kurang lebih 1 bulan aku menikmati masa-masa menjadi seorang mahasiswa aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Aku sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan kampus yang hampir 83% mayoritas mahasiswanya “gaya/modis”. Tapi itu tidak menjadi masalah untukku. Saat itu aku masuk di kelas manajemen 7, aku mulai punya teman dekat, saat itu Intan, Putri, Dian, dan Ghaini. Mereka berempat adalah teman dekatku saat itu.

Pada saat awal semsester pertama, kami berempat memutuskan untuk ikut aktif di organisasi kampus yang sama. Karena saat itu memang hubungan pertemanan kami sangat erat sekali. Suatu hari, temenku Dian sedang asyik ngobrol dengan seorang laki-laki yang kelihatannya lebih tua dari kita. Ternyata benar saat itu Dian sedang ngobrol dengan Kak Rizky (nama laki-laki itu). Kak Rizky itu adalah salah satu pengurus FORMAIS. Ketika ku hampiri Dian yang sedang asyik ngobrol di loby, langsung ku tanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Dan Dian pun langsung menceritakannya kepada kami bertiga tentang obrolannya dengan Kak Rizky tadi.

Ternyata Kak Rizky mengajak kami berempat untuk ikut gabung di FORMAIS. Apa sih itu FORMAIS ? (sempat terbesit pertanyaan itu di pikiranku). FORMAIS adalah salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa) di kampusku. Atau sering disebut Forum Mahasiswa Islam. Tentunya UKM yang mungkin berkecimpung di dunia keislaman. Kalau di SMA ku dulu mungkin lebih dikenal dengan sebutan ROHIS, aku pun dulu sempat ikut ROHIS tapi hanya setengah jalan, selebihnya aku keluar. Hehe.. Lalu apa yang aku lakukan setelah tau maksud dari Kak Rizky ?

Untuk masuk ke FORMAIS aku masih harus berfikir 1000 kali, karena apa ? yah mungkin karakter atau kepribadianku yang takut tidak cocok dengan situasi dan kondisi di FORMAIS. Terlepas karena pengetahuanku tentang Islam masih sangat jauh dari kata “sempurna”. Shalat saja masih suka bolong, puasa sunah pun jarang, ngaji juga kalau lagi rajin aja, yah pokoknya segala jenis aktivitas yang menyangkut keislaman masih belum tertanam di diriku. Lantas bagaimana jadinya kalau aku sudah masuk di FORMAIS ? Apakah aku akan dipaksa untuk bisa khatam 30 juz? Dipaksa untuk bisa mengaji dengan lafal tajwid yang fasih? Bla bla bla… semua pemikiran-pemikiran itu muncul seketika dalam pikiranku.  Memang aku sendiripun mempunyai penilaian yang tinggi terhadap organisasi yang berbau islami itu, terlebih mungkin dari tujuan-tujuannya yang mulia dan berniat baik untuk perubahan islam. Akan tetapi yang jadi masalah, aku takut orang-orang yang berada di FORMAIS tidak bisa menerima keberadaanku dengan kondisiku saat ini. Yang masih selengean, belum faham tentang islam.

Satu bulan yang kunikmati ini rasanya tidak memberika kesan yang fanatic tentang dunia perkuliahan. Yang aku lakukan saat ini hanya “kupu-kupu” – “kuliah-pulang-kuliah-pulang”. Bosan rasanya jika setiap hari yang aku lakukan hanya seperti ini, dan sayang rasanya jika uang kuliah yang sudah orang tua ku berikan kepada kampus ini hanya digunakan sebatas untuk kuliah saja. Seseorang yang sukses dan berhasil ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan hardskill saja, akan tetapi ada unsure yang lebih penting yang akan menunjang seseorang bisa sukses yaitu kemampuan softskill yang harus dimilikinya untuk menunjang semua kemampuan hardskill yang sudah dia dapatkan dibangku kuliah. Dengan kata lain, kita tidak hanya harus jago dalam menguasai teorinya saja tapi kita harus mampu mengaplikasikan semua yang sudah kita dapat itu.

Renungan-renungan itu terkontaminasi ke dalam otakku, sempat ku menelan dalam-dalam ludahku sendiri. Atas dasar renungan itu kini pikiranku lagi-lagi teringat akan ajakan Kak Rizky untuk ikut bergabung di FORMAIS.

Dulu dari mulai aku SMP sampai SMA, aku memang tipekel orang suka aktif di organisasi. Semua ekstrakulier yang ada di sekolahku hampir ku ikuti. Dari mulai aku aktif di PMR dan menjadi coordinator organisasi tersebut (SMP), menginjak SMA aku ikut aktif di PRAMUKA dan menjadi coordinator bagian Litbang (penelitian dan pengembangan), menjadi Ketua MPK OSIS (Majelis Permusyawaratan Kelas), menjadi anggota salah satu ekskul islami yaitu ROHIS, aktif di komunitas-komunitas ilmiah di sekolah, dan sampai aktif di organisasi luar yang cakupannya saat itu adalah se-kabupaten Kuningan yaitu menjadi anggota DKC (Dewan Kerja Cabang) PRAMUKA Kuningan. Segudang pengalaman dan ilmu aku dapatkan disana, kini menjadi seorang aktivis dan organisatoris telah menjadi sebuah kewajiban. Karena aku ingin kelak hasil pemikiran-pemikiranku nanti berguna untuk orang lain dan mampu memberikan inspirasi serta aspirasi untuk dunia.

“ apa aku ikut FORMAIS saja?” tanyaku dalam hati.

“ setidaknya dengan aku ikut FORMAIS, sebagian dari waktuku tidak terbuang sia-sia. Aku bisa ikut melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat disana, aku juga bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang mungkin belum pernah aku dapatkan sebelumnya.” Pikirku saat itu.

Dengan kondisiku yang seperti ini, masih jauh dari kata “sempurna” sebagai makhluk Allah dalam mengenal Islam, tidak ada salahnya aku mencoba memperbaiki semua itu dari sekarang. Mungkin inilah jalan yang Allah berikan untukku, dengan masuk di organisasi FORMAIS, aku berharap, aku bisa menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya apa ? terlebih kodrat ku sebagai wanita, yang pasti menginginkan diri ini menjadi seorang wanita shalehah di mata Allah dan orang lain. Serta seberapa bermanfaatnya diriku ini untuk orang lain ?

——ooo0^_^0ooo——

 

Tidak perlu waktu setengah jam dan berfikir 1000 kali lagi untukku menemukan tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu-waktu yang bermanfaat. FORMAIS, ya FORMAIS jawabannya. Saat itu langsung aku dan teman-teman mengisi formulir pendaftaran yang di kasih Kak Rizky waktu itu, segera ku isi form itu dengan yakin dan penuh harapan.

Meski rasa yakin itu kini sudah tumbuh dalam benakku, tapi rasa yakin itu masih jauh lebih kecil dibanding dengan niat awalku yang hanya sebatas ikut-ikutan masuk FORMAIS. Hanya mengikuti teman-temanku yang kebetulan mereka juga memilih FORMAIS, entah apa yang akan terjadi nanti. Keputusanku ini tentunya akan menghasilkan risiko dan aku siap untuk menerima risiko itu.

Hari demi hari terus berjalan. Pergantian waktupun tidak dapat dielakan. Perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi. Sebagai konsekwensi logis atas akhir dari setiap langkah. Paradigma hidup merupakan acuan dalam melangkah. Sebagai barometer dalam menjalani hidup. Menuju sebuah wujud misteri.

Ibarat seekor anak burung yang habis terbang kesana kemari lalu masuk sangkar dan disambut induknya dengan hangat. Itulah yang menggambarkan kondisiku selama satu tahun di formais. Segudang pengalaman baru, ilmu-ilmu yang luar biasa yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan, pelajaran-pelajaran sederhana tentang kehidupan aku dapatkan disini.

Pertama berawal dari keikutsertaan aku jadi panitia Gebyar Islami, disana untuk pertama kalinya aku merasa menjadi orang yg berguna bagi orang lain. Rasa kekeluargaan dan kebersamaan antara panitia sangat erat sekali. Aku seperti mendapatkan keluarga baru, aku belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain, aku belajar mengatur waktu.

Kedua, pengetahuanku tentang aqidah, fiqih, dan ilmu-ilmu tentang keislaman bertambah. Semenjak aku rajin mengikuti kajian-kajian keislaman di formais. Selain itu, aku mendapat teman baru dari berbagai universitas yang ada di bandung. Seperti upi, unpad, uin, itb. Loh kok bisa ? ya iyalah bisa, karena kajian-kajian yang aku ikuti itu ternyata berkerjasama dengan LDK-LDK dari universitas lain. Kadang aku dan teman-temanku di formais yang berkunjung ke universitas mereka dan itu adalah hal yang luar biasa untukku.

Selanjutnya, di formais aku belajar menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap suatu hal, menjadi orang yang bisa memilih mana yang lebih penting dan mana yang mendesak, belajar bagaimana memilih sesuatu yang menjadi suatu prioritas. Yaa, itu lah dunia organisasi sesungguhnya yang aku rasakan. Ketika segala sesuatunya kita korbankan demi sebuah komitmen dan loyalitas. Terbukti ketika aku dan teman-temanku di formais melaksanakan proker Qurban. Saat itu yang biasa aku pulang ke kampong halamanku untuk melaksanakan idul adha disana, tetapi untuk pertama kalinya aku justru melaksanakan idul adha itu di bandung bersama formais. Apa saja yang aku lakukan ? bagaimana bisa aku sampai meninggalkan moment penting itu bersama keluargaku ?

Tepat pada hari itu aku melaksanakan shalat id di bandung bersama formais, dan untuk pertama kalinya pula aku melaksanakan qurban bersama formais. Yang biasanya aku hanya melihat hewan-hewan qurban di potong di lapangan, tapi sekarang justru aku terlibat langsung dalam pelaksanaan qurban itu. Dari mulai pemotongan hewannya, pembagiaan hewan qurban ke suatu desa terpencil di daerah bandung, dari sana aku belajar berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.

Lain halnya dengan pengalamanku yang satu ini, ini pun pengalaman pertama yang paling berkesan selama aku di formais. Dimana ketika aku dan pengurus formais melaksanakan salah satu proker yaitu “Tebar Kebahagiaan bersama Kaum Dhuafa” proker yang dilaksanakan setiap bulan ramadhan itu membuatku sedikit tersentuh. Saat itu kami mengundang 350 orang kaum dhuafa dan anak yatim untuk hadir ke kampus dan disana aku dan teman-temanku berbagi sembako dan uang untuk mereka. Lalu apa yang sampai membuat hatiku tersentuh ? aku tersentuh dengan seorang nenek tua paruh baya yang sedang ikut mengantri menunggu pembagian sembako. Pada saat itu tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiriku dan bilang, “de bisakah nenek ini didahulukan? Kasian dia datang kesini sendirian dan nenek ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Akhirnya dengan melihat kondisi si nenek yang memang sepertinya sudah tidak mampu lagi berdiri lama di aula, aku pun langsung memberikan bagian sembako dan uang untukknya dan seketika itu pula aku meneteskan air mata.

Pengalaman menjadi seorang pedagang pun aku pernah alami di formais, hal itu sama sekali tidak membuat ku malu karna dulu pun Rasulullah adalah seorang pedagang. Saat itu aku berjualan makanan di kampus dan hasil dari dagangan itu adalah untuk kas formais sendiri dan untuk pemasukkan dana setiap proker.

Pengalaman kampanye zakat di sekitar daerah Bandung, sebagai seorang aktivis dakwah aku juga belajar bagaimana kita mampu mempengaruhi orang lain untuk berzakat. Saat itu dan teman-teman formais melakukan demontrasi masal untuk menyuarakan betapa pentingnya berzakat.

Pengalaman mengajar dan berbagi bersama anak-anak SD di suatu daerah di Bandung pun kelak aku lakukan. Saat itu ada salah satu proker bernama “Rihlah” itu adalah suatu kegiatan dimana kita bersama-sama turun ke lapangan untuk mengetahui seberapa pengabdian kita untuk orang lain. Berbagi, bermain, dan belajar bersama anak-anak SD itulah yang aku dan teman-teman formais lakukan selama 2 hari. Its best experience J

Yang tak kalah berkesan dan membekas adalah pengalaman ketika aku mengikuti suatu acara yang luar biasa, yaitu acara “Muda Mulia”. Itu adalah salah satu acara yang mebuat hidupku berubah 180 derajat. Kenapa ? awalnya aku tidak percaya dengan acara yang seperti itu, namun temanku Galih dan Asifa yang sudah mengikuti acara it uterus-menerus meyakini aku untuk ikut. Karena acara itu akan benar-benar merubah hidupmu menjadi jauh lebih baik, kita akan dipertemukan dengan”berlian” yang ada dalam diri kita yang mungkin masih tersembunyi dan tidak pernah tau. Akhirnya setelah aku mendengar cerita dari beberapa teman formais yang sudah ikut acara itu, aku pun berubah fikiran untuk ikut acara itu. Tepat tanggal 2 dan 3 september aku mengikuti acara Muda Mulia, sebulan training yang benar-benar luar biasa. TERBUKTI ! selama dua hari aku ikut training itu, seperti ada yang berubah dalam jati diriku. Pastinya berubah menjadi seorang yang lebih percaya diri, seorang lebih optimis akan semua mimpi-mimpiku, dan berani mewujudkan semua impian dan mimpi-mimpi itu. Hingga keyakinan itu aku buktikan ketika aku dan temanku Ami mengikuti lomba karya tulis yang diadakan oleh IPB. Aku, Ami dan Defi berhasil masuk ke 5 besar. Ya karya tulis kami berhasil menjadi juara di 5 besar, dan itu sungguh hal-hal yang tidak terduga. Karna saat itu kami pun harus pergi ke Bogor tepatnya ke kampus IPB untuk melakukan persentasi karya tulis kami.

Akhirnya kakiku berhasil berpijak disebuah kampus yang merupakan salah satu kampus idaman, untuk berjuang membawa nama baik kampus dan khususnya FORMAIS dalam persentasi karya tulis. Ini sungguh pengalaman pertamaku selama aku mengikuti berbagai macam lomba menulis dan hasilnya sampai sejauh ini. Karna lomba ini adalah lomba nasional, dimana saingan-saingan kita pun dari berbagai kampus ternama, salah satunya dari Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, STIE Tazkia. Meski pada kenyataannya kami belum berhasil membwa juara 1, tapi aku dan yang lainnya tetap bangga terhadap prestasi ini.

Sejuta pengalaman-pengalaman berharga aku dapatkan di formais, dan semua itu sungguh membuatku takjub akan diriku sendiri.

——ooo0^_^0ooo——

Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Sungguh salah satu pepatah yang bijak sekali. Semua itu sungguh-sungguh aku rasakan dalam kehidupanku. Aku selalu percaya bahwa setiap detik yang kita lewati, setiap langkah kaki yang kita lalui, dan setiap hembusan nafas yang kita keluarkan pasti aka nada suatu kebiakan yang kita dapatkan.

Hanya dengan niat dan selalu berfikir positif terhadap sesuatu itu membuat kita menemukan pribadi yang baru dan lebih menghargai kehidupan. Perubahan yang terjadi pada diriku selama aku berkecimpung di FORMAIS membuatku seperti menemukan sosok diriku yang baru.

Hidupku seperti lebih terarah, terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya, aku belajar bagaimana aku bisa menjadi manusia yang berharga di mata Allah. Aku belajar bagaimana aku bisa menggantung semua hidupku hanya kepada Allah, aku belajar bagaimana aku selalu berfikir positif terhadap semua takdir Allah, aku belajar bagaimana aku bisa bersyukur terhadap apa yang sudah aku dapat. Aku belajar bahwa segala sesuatu yang akan kita lakukan sebaiknya diniatkan karena Allah dan hanya untuk mencari ridho Allah.

Karena FORMAIS aku belajar banyak hal tentang kehidupan, yang mungkin tidak mampu aku ungkapkan satu per satu atau pun seuntai kalimat. Aku hanya bisa bersyukur karena mungkin inilah jalan yang Allah berikan padaku, dengan masuk FORMAIS aku banyak disadarkan oleh berbagai hal. Terlebih aku dituntut untuk selalu melakukan hal yang bermanfaat setiap harinya, belajar melakukan perbuatan baik kepada sesame, belajar menjadi seorang muslimah yang tunduk akan semua perintah-perintah Allah, belajar menjadi seorang muslimah yang selalu menjaga aurat serta kehormatannya dari orang lain, belajar menebar kebaikkan melalui dakwah.

Satu hal yang paling penting, janganlah kita menunggu bukti untuk suatu kebenaran tapi jadilah bukti itu sendiri dan tunjukkan kebenaran itu kepada orang lain. Begitu pula dengan FORMAIS, meski tak semua orang memandang FORMAIS positif, tapi aku selalu yakin karena disinilah tempat yang paling tepat untuk menegtahui semua kebenaran-kebenaran yang tidak pernah kita ketahui.

Meski di luar sana image sebuah lembaga dakwah itu adalah tempat berkumpulnya teroris, tapi TIDAK untuk FORMAIS. Menjadi lebih baik itu memang sulit dan butuh proses, tapi mau sampai kapan kita terus menunggu perubahan itu datang pada kita ? yuk kita sama-sama ACTION dan belajar dari awal untuk suatu yang lebih baik. Salah satunya dengan gabung dengan FORMAIS

#8.Formais Effect – Hillary Puspitasari

formais ekuitasSaat aku dilema dengan dua pilihan, aku memilih untuk pergi. Pergi meninggalkan yang lama. Pergi menuju yang baru. Saat aku tak memilikinya lagi, aku memilih untuk mencari. Mencari untuk menemukan.

Saat aku terjebak dalam ketakutan, saat itu pula pencarianku selesai. Taukah teman, bahwa itu artinya aku sudah menemukannya. Menemukan untuk meninggalkan yang lama. Menemukan untuk tinggal bersama yang baru. Penjaga baruku FORMAIS 🙂

Kini, dua tahun sudah jalanmu bersamaku, penjaga dan dua tahun pula kau memberikan kehidupan baru. Suka dan duka, tangis dan tawa, sedih kita lalui bersama. Terima kasih penjagaku.

Mungkin kau tak pernah lelah untuk menuntunku. Tetapi, aku tahu bahwa kini sudah saatnya aku berjalan sendiri tanpamu, penjaga. Namun begitu, aku tahu kau akan selalu tetap menuntunku dari belakang tanpa harus melihat dan berjalan sejajar denganku. Aku tahu itu penjaga.

Sekali lagi terima kasih. Dan teruslah menuntunku dari belakang. Penjagaku FORMAISKU 🙂 .

#7.Formais Effect – Nurhanah

formais stie ekuitasNamaku Nurhanah. Entah angin apa yang membawaku, hingga aku sekarang menjadi salah satu mahasiswa STIE Ekuitas yang sebelumnya aku tidak tahu bahkan mendengar namanya saja terasa asing pada saat itu. Tapi inilah aku, sekarang aku sudah menjadi seorang mahasiswa, sungguh kebanggan yang luar biasa bagiku. Tapi perjalanan dan perjuanganku masih sangat panjang untuk bisa mencapai semua mimpi – mimpiku selama ini. maka tetap semangatlah J

Sejak sekolah dasar hingga SMK aku termasuk salah satu siswa yang sangat aktif di kegiatan orgnisasi sekolah. Kenapa tidak, dibalik itu semua ada seorang ibu yang sangat luar biasa yang selalu mendorongku agar aku selalu aktif dan mengikuti kegiatan sekolah. Mimih tidak pernah melarangku untuk mengikuti kegiatan organisasi, karena selama kegiatan itu positif, Mimih selalu menganjurkanku untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Dan sampai sekarang aku menjadi mahasiswapun Mimih selalu menganjurkan untuk mengikuti organisasi. Awalnya hanya iseng saja sebagai mahasiswa baru tentunya aku ingin mengetahui semua kegiatan yang di adakan oleh himpunan dan UKM di kampus, hingga pada suatu hari seorang teman mengajaku untuk mengikuti sebuah acara yang diadakan oleh UKM FORMAIS dimana  UKM ini mengadakan kegiatan yang menurut aku berbeda dari yang lainnya, sebuah kegiatan yang tidak hanya memberikan manfaat dari keorganisasian, sosialisasi, dan lainnya tetapi juga memberikan manfaat yang sangat luar biasa terkait itu semua terlebih lagi membukakan aku tentang aqidah dan pengetahuan agama yang tidak aku dapatkan di organisasi lain, serta pembelajaran tentang  ilmu ikhlas yang selama ini belum bisa aku realisasikan terkait dengan trouble yang aku alami dengan Mimih. Itulah awal yang insyaallah selalu berkah,,, aamiinJ.

Semenjak itulah aku mulai sering mengikuti kegiatan yang di adakan FORMAIS, dan sampai akhirnya aku bisa bergabung dengan FORMAIS. Banyak sekali hal yang luar biasa selama menjadi pengurus FORMAIS, dan para pengurusnyapun adalah orang – orang yang sangat luar biasa bagiku, karena dari mereka semua saya banyak belajar, belajar tentang berbagi, belajar tentang memahami, belajar tentang menerima, dan terutama belajar ilmu ikhlas yang sangat sulit bagiku, karena disana semuanya sangat jelas acuan dan pedomannya yakni Al-quran dan Hadist, banyak sekali kegiatan positif yang saya ikuti di FORMAIS bahkan semakin mengikuti semakin haus akan ilmu Allah tersebut. terutama di FORMAIS saya masuk divisi KSEI dimana seringnya mengadakan atau mengikuti kegiatan di luar tidak hanya disekitar Bandung bahkan sampai ke luar kota dengan begitu juga saya bisa sekaligus menyalurkan hobi jalan – jalan saya. Hmmmm… kan lumayan bisa jalan – jalan gratisssssss…heheheeeeeeee J aseeeeeekkkkkk banget kan,,,!!!

Perbedaan yang saya rasakan sebelum masuk FORMAIS dan sesudah masuk FORMAIS sangatlah nyata manfaatnya, dulu saya yang masih suka membuka kerudung ketika berada diluar rumah sekarang alhamdulilah sudah tidak lagi, dan selain itu juga bisa lebih mengembangkan minat saya dalam berwirausaha. dan tentunya masih banyak kegiatan lain yang dulu jarang saya lakukan sekarang justru sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi saya dalam mencari ilmu Allah. Di FORMAIS seolah saya menemukan keluarga baru, keluarga yang sangat luar biasa. Dimana kita bisa saling sharing, dan lainnya. Terutama bagi saya yang tinggal jauh dari keluarga.

Nah, untuk  mahasiswa yang ada di seluruh Indonesia tidak akan rugi kalian gabung dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dimanapun kalian kuliah, karena banyak sekali manfaat yang luar biasa yang akan kalian dapatkan disana, mungkin tidak akan langsung terasa manfaatnya tapi kedepannya pasti sangat bermanfaat sekali untuk kehidupan kita di lingkungan masyarakat. Cerita di atas hanya sekedar sharing sepenggal pengalam saya, semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi buat teman – teman J. Syukran………!!!

#6.Formais Effect – Cucu Alawiah

Formais STIE EKUITASPendiam, pemalu, tidak suka keramaian, tidak suka ngobrol, susah menyesuaikan diri..hmmmm hal itu yang aku benci dari diriku. Satu doa yang ku pinta pada Allah ketika pertama masuk Ekuitas adalah “yaaa Allah,berikan teman-teman yang baik..teman yang bisa saling menerima kekurangan masing-masing” doa itu aku panjatkan karena aku terlalu takut. Tapi ternyata Alhamdulillah Allah mengabulkan doaku, aku dikelilingi teman-teman yang bisa membuatku belajar bagaimana menghilangkan semua sifat yang tidak aku sukai itu. Meskipun susah,tapi sedikit demi sedikit sifat itu sudah mulai terkikis laaah. Akupun memikirkan satu hal bahwa cara terbaik menhilangkan sifatku adalah bertemu banyak orang, yaaa salah satunya dengan masuk Organisasi. Tapi  organisasi jadi momok menakutkan untukku, belum masuk saja sudah banyak ketakutan yang menghantui. Takut ini lah – takut itu lah. Lalu akupun mencoba masuk Himpunan kesan pertamaku disana adalah “tuh kan, banyak orang L”  ya sudah, sedikit demi sedikit, perlahan demi perlahan aku mundur dari himpunan. Betapa pengecutnya bukan J

Beberapa temanku terus melenggang dengan kegiatan Organisasi  yang menyita waktu mereka, merekapun tak punya waktu main lagi denganku L dan akupun merasa jadi orang yang tidak berguna, teman-temanku bermanfaat dengan semua kegiatannya dan aku, hanya tidur-tiduran di kosan. Mungkin karena kasihan melihatku salah satu temanku mengajakku ikut dalam salah satu kegiatan di organisasi yang diikutinya “maluuuuu” kata pertama yang ada dibenakku. Dia kemudian berusaha semakin meyakinkanku untuk masuk ke salah satu organisasi itu. Kemudian berfikirlah aku disitu, akhirnya pada saat SP (semester pendek) aku lumayan sering datang ke organisasi itu sampai suatu masa akan ada rapat diorganisasi itu dan temanku mengajak, bisa dibilang terjebak juga karena sebenarnya gak saat itu aku akan masuk organisasi itu, tapi ya mau gimana orang-orang tiba-tiba berkumpul dan aku tak bisa keluar, ya mungkin itu yang terbaik Insya Allah. Lalu akupun hanyut dalam situasi rapat itu sampai tiba saatnya aku memperkenalkan diri dan ditanya kenapa masuk organisasi itu, itulah kali pertama aku menyukai organisasi, ya di organisasi itu. Rasanya semua orang menerimaku, semuanya bersikap terbuka, semuanya tersenyum dan aku tidak bosan, tahukah organisasi itu apa ? FORMAIS ya itulah organisasi pertama yang membuatku nyaman di dalamnya.

Karena FORMAIS adalah organisasi pertama yang aku ikuti, jadi pertama-tamanya ngerasa kagok, mungkin karena aku masuk ditengah periode jadi gak bener-bener gak tahu apa-apa, culang-cileung kalau bahasa sundanya mah J tetapi semakin waktu berjalan, kenyamanan pun sedikit-sedikit menghampiri karena sebagian teman dekatku pun ada di FORMAIS. Tapi setelah aku di diklat, rasa meliki dan ingin memajukan FORMAIS semakin besar, semoga aku bisa memberikan yang terbaik dan bisa bermanfaat. Hal yang membuatku sangat merasa berdosa adalah aku kadang terlalu egois dan mementingkan kepentingan pribadi daripada kepentingan organisasi, tapi semoga aku bisa berubah menjadi lebih baik.

FORMAIS membuatku mengenal lebih banyak orang, berkomunikasi adalah hal bermanfaat yang kudapatkan selain punya banyak teman. Tapi jadi pribadi yang lebih baik adalah tujuan utamaku masuk FORMAIS, Forum yang Insya Allah mencetak generasi Mulia. Semoga aku bisa menjadi mskhluk yang lebih baik dan makhluk yang bermanfaat.

Masuk ke FORMAIS itu punya banyak manfaat, terutama manfaat itu akan disarasakan oleh jiwa kita,  Karena kita semakin didekatkan dengan siempunya jiwa ini. Semua manfaat itu akan terasa ketika kita semakin mengetahui aturan-aturan Allah tentang hidup,k ita tak akan lagi kesulitan memilih jalan. Jadi,untuk semua mahasiswa di Indonesia LDK itu berguna dunia akhirat looo….

#5.Formais Effect – Ami Fitria Rahayu

Formais STIE EKUITASSudah menjadi galibnya, setiap mahasiswa baru selalu hadir dengan semangat yang menggebu. Begitupun saya ketika pertama kali menginjakan kaki di kampus ini. Bulan September tahun 2011 silam, saya resmi menjadi mahasiswa Akuntansi program Diploma di kampus STIE Ekuitas. Kampus yang sebelumnya tidak pernah saya impikan, juga jurusan yang tidak pernah saya inginkan.

Selama SMA saya tergolong orang yang abu-abu, Saya sering terlambat datang ke sekolah, pernah juga kabur saat pelajaran tambahan. Kalau teramat bosan, saya tidak segan bolos sekolah. Tetapi, biarpun bolos, saya tidak berani berkeliaran sembarangan, saya lebih memilih diam di rumah dengan alasan sakit. Waktu saya benar-benar dihabiskan oleh hal yang sia-sia. Saya banyak kehilangan kesempatan emas selama di SMA. Dalam pikiran saya : untuk apa belajar? Toh kelulusan hanya ditentukan hasil Ujian Akhir. Masuk Perguruan Tinggi Idaman tidak cukup mengandalakan isi otak, saja, karena isi dompet pun ikut menentukan. Kacau. Kacau. Masa SMA adalah masa paling kacau. Ya, karena yang dijadikan patokan hidup adalah uang.

Saya membiarkan hidup mengalir apa adanya, hingga akhirnya saya terdampar di kampus STIE Ekuitas. Padahal waktu SMA saya sangat terobsesi menjadi seorang WARA, wanita TNI Angkatan Udara. Mungkin karena saya begitu menyukai langit dan segala harapannya. Coba perhatikan film-film yang berbau angkasa, NASA biasanya menjalin kerjasama dengan Angakatan Udara. Rasanya bangga kalau saya bisa mengenakan seragam birunya. Saya selalu berharap kelak akan ada  WARA yang berjilbab, dan itu saya.

Setelah masuk kuliah, saya tidak pernah berpikiran untuk masuk organisasi semacam FORMAIS. Mana mungkin seorang Ami menjadi aktivis dakwah? Apalagi orang tua pun melarang saya bergabung di organisasi yang mengatasnamakan agama. Mungkin karena kekhawatiran mereka melihat perkembangan saya. Ketika itu saya adalah orang yang sedang  mencari jati diri, orang yang berusaha menggali kebenaran sejati. Karena  dasar saya  belum kuat, mereka takut saya tersesat.

Suatu hari disaat jeda kuliah, Ika, sahabat yang baru saya kenal, mengajak saya untuk mengikuti open house FORMAIS. Saya tipe orang yang sulit menolak ajakan sahabat. Awalnya saya tetap berusaha  membentengi tekad untuk tidak terjerumus lebih dalam, sekedar menonton video di Open House FORMAIS. Tapi sekeras apapun hati saya, dengan kuasa  Tuhan semuanya berubah. Saat acara berlangsung hati saya tiba-tiba bergetar, saya seperti mendapatkan petunjuk, bahwa inilah jalan yang dicari, jalan yang akan membawa saya pada kebenaran sejati.

Setelah menghadiri Open House dan Diklat Akbar FORMAIS, saya memutuskan untuk bergabung dengan FORMAIS.  Awalnya saya mengira para aktivis dakwah adalah orang dengan pemikiran konservatif, yang menjalankan ibadah sebatas ibadah-ibadah ritual.Tapi ternyata anggapan saya salah. Melalui FORMAIS saya dikenalkan suatu ilmu, yaitu Ekonomi Islam. Menarik. Ilmu yang tergolong baru bagi saya. Di FORMAIS saya tidak pernah diajarkan bagaimana melaksanakan sholat dengan baik baik dan benar. Tetapi saya dibimbing bagaimana menjalani hidup ini agar seimbang. Saya diajarkan berbagai macam ilmu kehidupan. Ilmu yang membuat saya semakin semangat untuk belajar, menyelami dalam-dalam segala pengetahuan, baik pengetahuan agama maupun dunia. Saya diajak untuk mengenal Tuhan semakin dekat. Hingga akhirnya saya menyadari bahwa dunia dan agama tidak bisa dipisahkan.

Percaya atau tidak, setelah bergabung dengan FORMAIS, prestasi saya di bangku kuliah jauh lebik baik ketimbang di SMA. Berkat FORMAIS saya berhasil mengenali siapa diri saya, serta menyadari potensi apa saja yang Tuhan berikan kepada saya. Saya selalu diarahkan untuk menggali potensi-potensi tersebut agar kelak menjadi pribadi yang bermanfaat. Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari keluarga besar FORMAIS, kumpulan orang-orang terhebat yang pernah saya kenal. Orang-orang yang percaya bahwa mimpinya akan menjadi nyata. Di FORMAIS ini, mental saya ditekan habis-habisan, semangat saya dibakar terus-terusan. Sehingga saya semakin gigih menjalani hidup ini. Sekarang saya merasa lebih tenang dan damai, karena yang dijadikan patokan bukan lagi uang, tetapi Tuhan yang Maha Segalanya.

Selain prestasi,perbedaan lain setelah bergabung dengan FORMAIS adalah sikap saya dalam mengadapi berbagai masalah dalam kehidupan. Saya belajar untuk tidak terburu-buru dalam meraih sesuatu. Saya mencoba menikmati setiap waktu yang Tuhan berikan untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perlahan tapi pasti, saya berusaha merubah diri ke arah yang lebih baik. Kini saya tidak terlalu terobsesi dengan impian-impian saya di masa kecil. Sekarang saya punya mimpi baru, mimpi yang akan saya perjuangkan habis-habisan. Saya tidak akan menyia-nyiakan modal yang Tuhan berikan, berupa potensi dan dukungan dari setiap orang yang menyangi saya. Saya hanya perlu fokus pada kekuatan yang saya miliki, tanpa melupakan kodrat saya sebagai peremupuan. Saya sangat berterimakasih kepada semua teman-teman di FORMAIS, teman-teman yang tidak pernah bosan mengajak kepada kebaikan.

Alangkah baiknya jika teman-teman mahasiswa bersedia meluangkan waktunya untuk mengikuti kegiatan di LDK.  Melalui LDK kita dididik untuk memegang teguh prinsip-prinsip kehidupan. Karena menurut Yudi Latif (2011:614) “Kehilangan terbesar dari bangsa ini bukanlah kemerosotan pertumbuhan ekonomi atau kehilangan pemimpin, melainkan kehilangan karakter dan harga diri….” Dan LDK adalah salah satu tempat membangun karakter serta menumbuhkan harga diri, agar kita menjadi pribadi yang terus berkembang ke arah positif. Semoga kelak kita menjadi pribadi yang berguna bagi agama, keluarga, nusa dan bangsa. Aamiin.