Public Speaking, bakat atau kemampuan?

Manusia terlahir ke muka bumi dengan jutaan ragam bintang. Bintang itulah yang menjadi modal awal manusia dalam menjalankan kehidupannya. Apa sih bintang itu? Ya, bintang itu adalah bakat terpendam yang ada dalam diri manusia. Saat bintang itu kita sadari lantas kita menjualnya, maka bayangkan saja betapa mahalnya diri kita dengan berbagai bintangnya.

Siapa yang tak kenal Adolf Hittler? Sosok pemimpin yang bengis berdarah jerman yang mampu membuat dunia takluk dihadapannya. Sungguh pengaruhnya sangat besar sekali kala itu.

Pasti kawan-kawan juga kenal dengan Soekarno kan? Ya dialah sang proklamator Indonesia. Jiwa kepemimpinannya telah berhasil mempersatukan negeri ini hingga mampu merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Kedua sosok pemimpin itu memiliki pengaruh yang besar, baik di negerinya dan juga dunia. Kira-kira apa persamaan dari kedua tokoh tersebut? Ada yang mengatakan bahwa mereka memiliki bakat alami sebagai pemimpin. Pengaruhnya sebagai pemimpin telah terbukti dengan berbagai aksinya. Hhhmm, memang benar. Lalu apa lagi? Ternyata keduanya memiliki kesamaan dalam hal public speaking.

Kedua tokoh tersebut terkenal jago dalam orasi, pidato dan lainnya. Bedanya, Hittler menggunakan kemampuan public speaking untuk menghancurkan dunia. Sementara kemampuan public speaking Soekarno digunakan sebagai alat pemersatu bangsa. Menarik bukan, ternyata public speaking mempunyai peran yang sangat signifikan.

Sekarang mari kita bahas jawaban dari judul tulisan ini. Apakah public speaking itu bakat atau kemampuan?

Banyak orang terlahir dengan bakat hebat. Banyak yang berhasil namun banyak pula yang malah TIDAK PUNYA KARYA. Bagi sebagian orang yang merasa public speaking adalah bakat maka bersyukurlah karena Allah telah memberikan bintang yang sangat berharga. Wajar jika orang dengan bakatnya lebih mudah melakukan public speaking, hanya tinggal memolesnya dengan lebih indah. Hasil dari polesan itulah yang menjadikan seseorang yang berbakat itu memiliki kemampuan public speaking yang hebat. Artinya kombinasi bakat dengan kemampuan akan menghasilkan bintang yang lebih bersinar. Lalu bagaimana jika kita tidak berbakat?

Hey, manusia Allah lahirkan dengan jutaan potensi. Saat kita tidak berbakat, kita bisa mempelajarinya dengan serius. Banyak orang berhasil karena ia menekuninya dan menjadikannya sebagai kemampuan barunya. Kawan-kawan tahu dimanakah bakatnya? Ya bakatnya adalah berjuang. Kelihatannya biasa saja, tapi ketahuilah dari triliunan orang dimuka bumi, hanya sebagian orang yang berani beraksi hebat.

Jadi, kesimpulannya public speaking itu bukan persoalan bakat atau kemampuan. Tapi bagaimana kita mau belajar untuk menguasainya. Saat bakat itu hadir, maka memang itu khusus untuk kawan-kawan. Namun jangan pula bersedih hati bagi kawan-kawan yang merasa pendiam atau pemalu. Itu bukanlah bakat. Itu hanyalah sifat yang bisa dirubah. Besar kemungkinan orang yang awalnya pemalu, pendiam pun bisa menjadi ahli dalam public speaking. Hanya satu caranya, pelajarilah dengan serius, tentunya dengan praktek. Silahkan kawan-kawan buktikan sendiri bahwa siapapun bisa menjadi seorang public speaker. Selamat membuktikan.