Perjalanan Cinta Bersama Sahabat

“Sahabat itu seperti KACA, iya KACA. Kamu adalah cerminan aku

Menjelang berkahirnya bulan februari, entah kenapa ada rasa yang tak biasa dalam diri. Rasa yang mencabik-cabik diri dengan berbagai macam kejutannya.

Arghhh, dari pada dipendam dan menjadi penyakit, mending saya menulis dan mengungkapkan setiap untaian rasa dalam tarian kata.

Sahabat….

Itulah tajuk yang akan saya tulis pada episode kali ini.

Sebagai orang “feeling”, saya adalah orang yang suka berinteraksi dengan manusia. Hal itu terbukti dengan banyaknya komunitas yang saya ikuti. Bahkan profesi yang saya geluti pun bersinggungan dengan manusia.

Ada banyak hal yang saya dapatkan dari perjalanan bersama sahabat di berbagai tempat.

Namun untuk kali ini, saya akan menceritakan sahabat-sahabat yang saya temukan di Gerakan Husnuzhon.

Gerakan Husnuzhon merupakan gerakan yang mengajak orang-orang untuk belajar berhusnuzhon dan menjadikan husnuzhon sebagai gaya hidup.

Untitled-1-02

Orang pertama yang akan saya kenalkan adalah guru saya.

Saya mengenal husnuzhon dari guru saya di pesantren miftahul khoir, yaitu Pak Hilman Miftahurojak. Beliau seorang ustadz yang tidak mau dipanggil ustadz. Panggilan akrabnya Pak Imen atau Kang Imen.

IMG-20150924-WA0002

Pak Hilman, Founder Gerakan Husnuzhon

Pak Hilman adalah guru yang luar biasa. Sosoknya yang humble membuat beliau mampu menjadi sahabat yang baik bagi murid-muridnya.

Melalui beliau saya belajar tentang mengenal diri, sahabat dan cinta.

Ketiga komponen itu membuat saya mengalami akselerasi dalam kehidupan dengan begitu nyaman.

Bagaimana saya mampu menjadi diri sendiri tanpa topeng apa pun dalam setiap keadaan.

Bagaimana arti penting sahabat dalam kehidupan.

Dan bagaimana peran cinta yang agung sehingga kehidupan yang kita lalui menjadi penuh makna.

Pesan yang selalu terngiang untuk saya adalah,

“hidup adalah seni bagaimana cara kita menyikapi sesuatu. Dan sikap terbaik untuk menyikapi adalah dengan husnuzhon”.

Orang kedua yang akan saya kenalkan adalah seorang guru dan juga kaka bagi saya, yaitu Teh Natisa.

IMG-20151001-WA0008

Teh Nati sajidah

Teh Nati Sajidah atau yang akrab di panggil Natisa ini adalah seorang penghapal qur’an, penulis buku “Crayon untuk pelangi sabarmu” dan juga seorang konsultan.

Sosoknya yang tangguh membuat beliau menjadi panutan bagi sahabat lainnya. Teh Nati ini adalah orang yang selalu mengingatkan saya tatkala ada hal yang salah dalam diri saya.

Setiap masukannya selalu membuat saya tergerak untuk terus bertumbuh. Yes, Teh Nati ini adalah orang yang pandai dalam membuat orang untuk terus berubah menjadi lebih baik.

Menurutnya, setiap orang punya potensi yang kalo dikembangkan akan menjadi hal luar biasa. Salah satu proses untuk mengembangkannya adalah dengan mengenal diri.

Beliau pernah mengatakan satu kalimat yang terngiang-ngiang dalam benak saya, “perjalan terjauh dalam kehidupan adalah perjalanan untuk mengenal diri”.

Terima kasih Teh Nati atas kesabarannya untuk selalu membantu saya dalam berbagai persoalan.

Yuhuuu, sudah dua orang saya kenalkan. Sejujurnya bakal banyak orang yang saya ceritakan kalo mau semua. Hahaha.

Hanya kali ini saya random aja yah. Tenang guys, yang belum diceritakan tunggu aja tanggal mainnya. ^_^

Taraaaa, ini dia geng THREE IDIOTS.

IMG-20150704-WA0026

Ini foto saya lagi ga KOBE. wkwkw. Btw, yang sebelah kiri pake kemeja biru namanya OPIK. Lalu sebalah kanan saya yang BULET wajahnya bernama BANI.

Well, kami bertiga sering disebut THREE IDIOTS. Entah karena kami keren atau apalah ngga tahu. Yang jelas kami bertiga memang aktif dan selalu menghandle beberapa acara Gerakan Husnuzhon.

Nah karena sering barengan, istilah THREE IDIOTS pun disematkan.

Sekarang OPIK udah kerja di Jakarta di perusahaan IT, sementara Bani sedang berjuang mendapatkan karir terbaiknya. Saya? Seperti biasa dengan rutinitas panggungnya. Hahaha.

Dari mereka berdua pula saya belajar tentang arti sahabat. Jadi kalo minta jemput di tengah malem pun mereka siap sedia. Arghhh, pokoknya thankyu kawan.

Oke, lumayan juga yah nulis beberapa kata. Tarik nafas dulu ah…..

Lanjutin yah…

Eittsss, tapi sekarang mau cerita momen-momen kecenya.

Banyak sekali momen luar biasa yang saya dapatkan. Kalo langsung saya ceritakan disini khawatir kalian yang baca nangis (padahal saya yang nangis). Jadi gak semua dulu.

Sekarang saya mau cerita tentang satu perjalanan kece yang membuat saya makin sadar tentang arti SAHABAT.

Perjalanan cinta bersama sahabat yang akan saya ceritakan adalah saat momen perjalanan ke Yogyakarta.

Kami pergi berempat dari Bandung bersama Pak Imen, Teh Nati dan Nurul dengan menggunakan kereta.

Pergi di malam hari membuat kami terlelap di kereta hingga akhirnya pagi menyapa kami di Yogyakarta.

Lantas apa yang kami lakukan di Yogya? Sederhana saja, kami BELAJAR sambil melakukan PERJALANAN. Hal itu terbukti dari banyaknya hal yang saya dapatkan selama perjalanan.

Dari obrolan santai di kereta, dari obrolan di warung makan sampai obrolan malam di penginapan. Semua hal menjadi hikmah dan pelajaran.

Bagi saya, perjalanan ke Yogya adalah salah satu perjalanan terbaik yang pernah saya lalui. Lalu apa lagi yang kami lakukan? Yes, pastinya kami belajar dari beberapa tempat wisata di Yogya.

DSC_3802

Candi Borobudur menjadi tempat pertama yang dikunjungi.

Ada perasaan bahagia tatkala diri mampu mengekspresikan siapa diri kita yang sebenarnya. Tak ada lagi topeng yang menutup wajah. Semua berjalan indah dengan luapan emosi diri yang sesungguhnya.

Terima kasih Borobudur telah menjadi tempat untuk luapan ekspresiku.

DSC_0200

Sesi kedua belajar di Gua Pindul

Oia, ada dua orang cowok yang belum saya kenalkan. Mereka berdua adalah tuan rumah yang menyambut kami setibanya di Yogyakarta.

Orang yang berbadan besar paling kanan bernama Rangga dan sebelahnya bernama Nizar. Ceritanya mereka menjadi guide selama kami di Yogyakarta.

Mau tau soal Gua Pindul?

Tapi kalo diceritakan khawatir kalian mupeng pengen ke Gua Pindul. Nanti kabur dari rumah terus cabut ke yogya kan bahaya.

Intinya di Gua Pindul saya merasa lebih rileks karena bisa merasakan suasana gua yang begitu tenang. Hal itu menyadarkan saya bahwa dalam hidup akan ada episode yang menenangkan. Tinggal kita nikmati setiap dinamika yang terjadi.

IMG_20160117_184405

Malam romantis di Malioboro

Nah ini malam terakhir sebelum kami pulang kembali ke Bandung. Lah kok sebentar amat di yogyanya?

Memang! Kami pergi jum’at malam dan pulang minggu pagi. Jadi seharian di hari sabtu kami optimalkan untuk jalan-jalan.

Malioboro memang selalu menyenangkan. Setiap study tour, baik SMP maupun SMA selalu saja ke Malioboro. Kalo dulu pas bocah hanya tau jajan dan oleh-oleh, sekarang pastinya berbeda.

Malioboro menjadi tempat yang mengajarkan saya untuk menjadi pribadi yang PEKA.

Yes, PEKA!

Sebagai seorang makhluk sosial, ternyata saya adalah sosok egois yang terkadang kurang peka dengan sekitar. Alhasil banyak orang sebel karena tingkah sepele itu.

Hal itu kembali terjadi. Nurul, menjadi orang yang sempat kesal karena tingkah aneh saya. Entah apa yang saya lakukan sehingga membuat orang tidak nyaman. Padahal diri seolah merasa melakukan hal-hal yang baik saja.

Namun, Nurul mengatakan bahwa saya kurang PEKA. Ya, lagi-lagi tentang PEKA.

Berulang kali saya mendapat masukan tentang PEKA. Barulah kini saya menyadari hal tersebut. Btw, PEKA seperti apa yang dimaksud?

Ternyata hal yang sederhana. Misalnya membantu membawakan barang, mengucapkan terima kasih, mengatakan tolong jika minta bantuan dan lainnya.

JLEBBB!

Ternyata betul. Itu hal sepele yang terkadang saya abaikan. Arghhh, mungkin banyak juga orang yang sakit hati karena kelakuan saya. Maafkan saya kawan, please!

Hidup memang untuk BELAJAR.

Maliboro mengajarkan saya untuk PEKA. Terima kasih Nurul telah membantu menyadarkan saya.

Akhirnya tibalah di penghujung tulisan indah ini.

“Tak penting berjalan kemana kita, yang penting bersama siapa kita berjalan”.

Entah kutipan darimana itu. Yang jelas saya bahagia bisa melakukan perjalana cinta bersama sahabat.

Ada banyak kisah indah yang terjadi. Ada banyak pelajaran yang didapatkan.

Terima kasih untuk Pak Imen, Teh Nati, Nurul, Rangga dan Nizar telah membersamai saya selama perjalanan cinta di Yogyakarta.

Semoga kelak akan ada lagi edisi perjalanan bersama kalian.

DSC_3794

Ini dia 4 turis dari Bandung

Alhamdulillah, berhasil juga mengungkapkan rasa melalui kata.

Semoga kawan-kawan berkenan membaca dan memberikan masukan untuk saya yang sedang belajar ini.

The Last…

“Berjalanlah bersama sahabatmu untuk saling mengenal dan saling mencintai. Bangunlah kekuatan agar terjalin ikatan kokoh sehingga bisa selalu bersama”

Teruntuk semua sahabatku. Aku cinta kalian karena Allah.

Kindly Regards,

Fauzi Noerwenda

Advertisements

Ada CINTA di KELAS PUBLIC SPEAKING.

“Setiap kejadian yang terjadi dalam kehidupan adalah kejadian yang special”

Salah satu aktivitas yang paling saya tunggu adalah melatih public speaking di Ganesha Public Speaking. Banyak kejadian seru dan menarik setiap kali kelas berlangsung. Pastinya, selalu bertemu dan mendapatkan keluarga baru.

Bulan februari 2016 saya mendapat jadwal pelatihan untuk kelas public speaking basic angkatan 105. Alhamdulillah, pelatihan kali ini saya mendapat kelas dengan peserta lengkap sebanyak 12 orang. Formasi peserta yang beragam menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Mulai dari pelajar SMA, mahasiswa sampai karyawan dari berbagai perusahaan.

Kelas basic merupakan kelas dasar dimana peserta akan berlatih untuk menjadi PERCAYA DIRI dan BERANI TAMPIL. Jadi hampir bisa dipastikan bahwa peserta pelatihan itu adalah orang yang masih malu-malu kalo disuruh maju ke depan umum.

Dan tibalah hari yang paling dinanti. Taraaaaaa. Hari pertama pelatihan pun dimulai.

Seperti dugaan awal, sesi pertama kelas masih sepi karena peserta masih merasa malu. Namun ternyata, dalam beberapa menit ke depan semua berubah. Peserta mulai menunjukan siapa dirinya, mulai berani tampil dan pastinya mulai belajar gila.

Alhasil yang terjadi di pertemuan kedua dan ketiga adalah kerusuhan! Ya, peserta begitu menikmati setiap penampilannya ketika berhadapan dengan orang banyak. Semua mengalir dan terasa begitu nikmat.

Setiap orang memang pernah mengalami rasa malu atau takut untuk tampil. Namun selalu ad acara agar kita bisa menjadi pribadi yang berani tampil. Salah satunya dengan mengikuti pelatihan public speaking.

Bagi saya, pelatihan public speaking bukan sekedar pelatihan saja. Namun inilah awal mula saya bertemu dengan keluarga baru,

Entah kenapa, angkatan 105 begitu terasa berharga bagi saya. 12 orang peserta yang bergabung begitu terbuka dan saling memberikan dukungan yang hangat bagi peserta yang lain.

Kehangatan kami bukan hanya terjadi di dalam kelas, bahkan di luar kelas pun kami semakin akrab. Dari mulai makan bareng, nonton bareng dan yang paling seru adalah sesi curhat berjamaah. Argghhhh, kalian begitu luar biasa.

Prinsip puzzle yang diajarkan untuk melatih percaya diri dalam kelas benar-benar terasa. Kami saling berbagi dan mengisi setiap kelebihan yang kami punya pada yang lainnya. Sehingga hal yang awalnya asing, kini menjadi ilmu baru yang berharga.

Dari mulai masalah pembangunan jalan, notaris, sutradara, bisnis, psikologi, travelling, design dan banyak lagi tentunya.

Hidup memang sejatinya adalah proses pembelajaran yang tak akan pernah berakhir. Dalam setiap langkahnya, akan selalu ada ilmu baru yang akan kita pelajari untuk melangkah menuju tahapan kehidupan yang lainnya.

Teruntuk kawan-kawan peserta kelas public speaking angkatan 105. Saya memohon maaf jika selama saya memfasilitasi pembelajaran banyak hal yang belum sempurna. Semoga kawan-kawan berkenan memaafkan diri.

Perjalanan dalam belajar public speaking belum berhenti kawan. Pelatihan hanyalah media untuk belajar mengenai ilmu dan keterampilannya. Saat kawan-kawan memang serius ingin menjadi ahli, teruslah berlatih dan asahlah kemampuan agar semakin lancar.

Aplikasikan semua hal yang sudah di dapatkan di kelas dan rasakan perbedaan setiap kali tampil di hadapan orang banyak. Just feel it and you will so happy.

Tulisan ini hanyalah ungkapan rasa cinta dan bahagia atas pertemuan yang tak akan pernah bisa terlupakan. Ya, rasa cinta itu hadir di kelas sehingga kami bisa berlatih dengan rasa cinta yang dalam.

Terima kasih untuk Kang Nana, Kang Ade, Kang Mares, Muklis, Teh Tanti, The Okky, Teh Gita, The Elin, Ghina, Nissa, Juli dan Bu Poppy. Kalian semua luar biasa. Kalian semua sudah menghadirkan cinta dalam proses pembelajarannya. Terima kasih untuk cinta kalian.

Siap untuk bertemu dengan kondisi yang lebih keren lagi kan?

“Yuk terus belajar agar kita semakin tegar menghadapi setiap persoalan sehingga bisa menjadi pribadi yang kekar”.

Kindly regards,

Fauzi Noerwenda

 

 

Wow, belajar Public Speaking itu GAMPANG!

Sejak memutuskan menjadi trainer profesional tahun 2012, saya bertemu dengan berbagai macam alumni training dengan karakter yang berbeda. Dalam 4 tahun ke belakang, saya mencoba mengamati setiap keunikan dari alumni training yang pernah saya pandu.

Selama 4 tahun, saya melatih public speaking bersama tim Ganesha Public Speaking. Secara umum, kami membagi dua level public speaking yaitu level basic dan level advanced.

Level basic adalah tingkatan untuk orang-orang yang masih belum berani tampil, masih malu-malu, punya beban yang tinggi kalo disuruh maju, pokoknya takut deh untuk tampil.

Sementara level advanced adalah tingkatan orang-orang yang sudah terbiasa tampil dan mempunyai rasa percaya diri yang baik.

Kali ini, yang akan saya bahasa adalah kasus dan pengalaman saat melatih di tingkatan dasar.

Sebagian calon peserta kelas basic datang dan mengatakan bahwa mereka takut untuk tampil, malu dan banyak ketakutan lainnya. Semua mereka utaran dengan penuh ketakutan seakan-akan hal tersebut tak bisa diatasi lagi.

Namun saat saya tanya balik, “pernahkah diantara Anda yang memiliki ketakutan tersebut mencoba untuk tampil dan menghadapinya?”

Ternyata hampir sebagian besar jawabannya BELUM. Mereka sama sekali tidak berani tampil. Padahal ketakutan itu muncul sebelum kita tampil. Ketakutan itu hanyalah bayangan semu yang muncul sebelum kita tampil.

Well, calon peserta training pun datang dengan satu alasan yang sama. SAYA INGIN BISA TAMPIL DI DEPAN BANYAK ORANG. Bisakah?

Alhamdulillah, saya dan tim Ganesha Public Speaking sudah mempunyai metode untuk melatih orang-orang yang awalnya malu menjadi malui-maluin, yang awalnya takut menjadi percaya diri, yang awalnya gak mau maju akhirnya jadi ketagihan maju. Kok bisa?

Sederhana saja, pada dasarnya PUBLIC SPEAKING itu GAMPANG kok. Sekali tampil langsung ketagihan. Sekali maju langsung pengen maju berkali-kali.

Semua hanya perlu dibawa santai dan menyenangkan. Hhmmm penasaran kan gimana caranya?

Nantikan tulisan selanjutnya atau langsung kunjungi website Ganesha Public Speaking di www.gpssbandung.com

Mau kan bisa belajar Public Speaking? Yuk berlatih bersama.

Perjalanan Mengenal Diri

Sejatinya, manusia dilahirkan dengan sebuah peran dan tujuan. Terbentang luas perjalanan yang akan manusia lewati. Perjalanan yang nantinya akan dihadapkan dengan berbagai macam tantangan. Bisakah melewatinya?

Sederhananya, perjalanan tersebut hanyalah piranti untuk menuju kehidupan hakiki. Maka, jadikan perjalanan itu sebagai piranti untuk meraih ridho Allah SWT. Sungguh, sesederhana itulah kehidupan.

Dalam perjalanannya, seringkali manusia merasa kesulitan hanya karena bingung memilih peran dan menentukan tujuannya. Konsep kenal diri pun muncul untuk membantu manusia menemukan peran dan tujuan hidupnya. Lantas apa manfaatnya jika kita mengenal diri?

Setiap peran dan tujuan yang hendak kita raih akan mudah diwujudkan jika kita mampu mengenali siapa diri kita sesungguhnya. Berbagai macam peran Allah hadirkan sebagai upaya untuk melewati perjalanan. Ada yang berperan sebagai tokoh masyarakat, pendidik, pengusaha, karyawan dan peran lainnya.

Peran tetaplah peran. Peran itu pun sejatinya hanyalah alat untuk menggapai ridho Allah. Lalu mengapa harus memilih peran yang tepat?

Seringkali kita merasa lelah saat bekerja hanya karena tidak sesuai keahlian atau tidak disenangi. Idealnya, kita sendirilah yang menentukan peran seperti apa yang hendak kita pilih. Tentunya, semua membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang.

Guru saya, Natisa, yang merupakan penulis buku “crayon untuk pelangi sabarmu” mengatakan bahwa “perjalanan mengenal diri adalah perjalanan yang tak akan pernah berakhir”.

Ya, tak akan pernah berakhir. Pada tingkat tertinggi, sungguh kita tak akan pernah menemukan dengan sempurna karena sejatinya hanya Allah yang mengenal siapa diri kita. Jika seperti itu, apa yang harus kita lakukan?

Teruslah belajar untuk mengenal dirimu. Gampangnya, jadilah dirimu dalam setiap aktivitas. Jangan gunakan topeng hanya karena ingin terlihat keren di mata orang lain. Sungguh, orang yang tulus cinta denganmu akan menerimamu apa adanya bahkan tanpa topengmu.

Tanyakan pada orang-orang terdekatmu tentang kelebihan diri. Boleh jadi feed back dari orang-orang terdekatmu akan menjadi jalan untuk mempermudah proses pencarian dirimu.

Hingga hari ini pun saya terus mengenal diri. Dari mulai ikut pelatihan, ikut tes kepribadian, diskusi dengan orang terdekat dan berbagai macam metode lainnya saya gunakan untuk mengenal siapa diri saya.

Proses tersebut hanyalah salah satu bentuk upaya agar saya sebagai makhluk mampu mensyukuri setiap kelebihan yang telah Allah berikan. Pada akhirnya, apa yang saya miliki akan menjadi tumpuan dalam melaksanakan tugas dan peran sebagai makhluk ciptaan Allah.

Berbagi, saling membantu, saling memberi, menjadikan kelebihan diri sebagai alat untuk melaksanakan peran dan menggapai tujuan. Perjalanan terus berlangsung, maka teruslah berjalanan dengan segenap kemampuan dirimu.

Ingat, perjalanan ini hanyalah piranti untuk menggapai ridho Allah. Maka, jadikan setiap waktu dalam perjalananmu hanya untuk meraih tujuan mulia yaitu ridho Allah SWT.