Perjalanan Mengenal Tuhan

Perjalanan Mengenal Tuhan

“Sejatinya, perjalanan mengenal diri adalah rangkaian perjalanan untuk mengenal Tuhan”

-Fauzi Noerwenda-

Satu pertanyaan yang selalu hadir dalam kehidupan kita adalah hal yang berkaitan dengan kebahagiaan. Siapa orang yang tak ingin bahagia? Pasti semua orang ingin bahagia. Bahkan cita-cita tertingginya adalah bahagia dunia akhirat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara meraihnya?

Bahagia merupakan hasil yang kita harapkan. Maka caranya adalah dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sesederhana itu sebetulnya konsep dasarnya. Hanya dalam pelaksanaannya akan muncul berbagai macam tantangan.

Melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya merupakan sebuah aturan yang kita lakukan untuk mencapai satu tujuan yaitu ridho Allah SWT. Artinya kebahagiaan akan diperoleh tatkala Allah memberikan ridho-Nya kepada kita sebagai manusia.

Dalam berkegiatan, kita selalu diingatkan agar selalu meniatkan sebagai ibadah. Alasannya sederhana, hal itu dilakukan untuk menggapai ridho Allah SWT. Maka niat harus selalu diluruskan karena seringkali belok seiring berjalannya waktu.

Dari beberapa pernyataan diatas, dapat diambil benang merah bahwa kebahagiaan berasal dari aktivitas yang kita kerjakan dengan niat ibadah demi menggapai ridho Allah SWT. Lalu bagaimana bahagia bisa tercipta, sementara dalam setiap waktu yang kita lewati selalu ada kesedihan dan kekecewaan?

Kesedihan atau kekecewaan biasanya hadir karena harapan yang kita inginkan tidak terwujud. Secara manusiawi tentu kita akan merasa sedih. Maka terima itu karena memang kita manusia. Namun jangan biarkan itu terjadi berlarut. Ingat konsep dasarnya, harapan kita tidak terjadi belum tentu itu gagal dan buruk. Boleh jadi justru itu yang terbaik yang Allah berikan untuk kita yang serba tidak tahu ini.

Allah itu Maha Tahu. Maka percaya dan terima setiap ketetapan-Nya. Saat segala apapun kita sandarkan kepada Allah SWT, kegagalan pun akan berakhir bahagia. Mengapa? Lah hasil akhirnya kan bukan tercapainya harapan, namun tercapainya ridho Allah SWT. Asik kan?

Manusia terlahir ke muka bumi adalah bagian dari perjalanan untuk mengenal Tuhan. Sudah jelas bahwa dunia adalah tempat singgah dimana manusia akan berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan. Kebaikan-kebaikan itulah yang nantinya akan diakumulasikan sebagai tiket pulang ke kehidupan yang abadi.

Berkebaikan itu perlu cara. Berkerbaikan itu perlu usaha. Sumber kebaikan adalah Allah. Bagaimana kita bisa berbuat baik sementara kita sendiri tidak mengenal siapa Tuhan kita. Jika direnungkan, apa yang sebetulnya kita lakukan adalah jalan untuk mengenal Allah lebih dekat. Pada akhirnya, manusia menemukan berbagai macam cara untuk mengenal siapa Tuhannya.

Orang yang pernah berbuat kesalahan lalu bertobat akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pengampun. Orang yang diuji dengan kemiskinan namun ia masih bisa bertahan hidup akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki. Orang yang kaya raya namun rajin sedekah akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Pemurah. Orang yang mendapat hal yang tak disangka-sangka akhirnya mengenal bahwa Allah Maha Kuasa.

Begitu banyak cara yang akhirnya membuat manusia bisa mengenal dengan Tuhannya. Kehidupan singkat inilah yang akhirnya menjadi rangkaian perjalanan dengan tajuk mengenal Tuhan. Perjalanan mengenal Tuhan tak bisa dilepaskan dari perjalanan mengenal diri. Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengena siapa Tuhannya. Maka kenali dirimu agar bisa mengenali Tuhan.

Permasalahan orang-orang saat ini adalah bingung dengan dirinya sendiri. Kebingungan ini yang membuat ia tidak mengenal dirinya. Gampangnya ia tidak tahu apa kelebihan dan kekurangannya, tidak tahu apa cita-citanya, bahkan boleh jadi tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam hidup.

Ketidak tahuan inilah yang menjadi langkah awal dalam rangka mengenal diri dan Tuhan. Dari proses tidak tahu menjadi tahu dan dari proses tidak kenal menjadi kenal.

Ada sebuah pengalaman menarik tatkala saya diajak oleh guru saya untuk melakukan perjalanan mengenal diri dan mengenal Tuhan ke sebuah pantai di daerah Garut bernama Rancabuaya.

Saya pergi bersama 11 orang teman termasuk guru saya. Kami pergi menggunakan sepeda motor. Perjalanan menuju kesana pun sudah menjadi bagian dalam rangkaian perjalanan mengenal diri dan mengenal Tuhan.

Dalam perjalanan yang terdiri dari 6 motor, kami berupaya untuk saling melindungi agar bisa selamat sampai tujuan. Medan yang cukup sulit serta jarak yang lumayan jauh sekitar 100 KM membuat kami harus berhati-hati dan saling bergantian dalam berkendara, apalagi ada 4 orang perempuan yang juga ikut.

Dalam perjalanan selalu ada hal yang tak pernah diduga. Sesuai dugaan, kami pun tak melewatkan hal tersebut. Dari mulai ada motor yang remnya blong, ada yang jatuh sampai ada ban yang pecah. Bumbu perjalanannya makin terasa pokoknya.

Disaat kejadian seperti itulah muncul sikap asli dari masing-masing orang. Ada yang bersikap perhatian, penolong, khawatir, takut, stay cool dan lainnya. Perpaduan sikap itu yang ternyata membuat kami semakin kompak dan yakin melanjutkan perjalana ke Rancabuaya yang memakan waktu hingga 3 jam perjalanan. Oia, waktu itu kami memulai perjalanan dari ciwidey.

Sepanjang perjalanan, rasa takjub kami tak terbendung. Begitu indahnya alam ciptaan Sang Kuasa. Kami melewati kebun teh, bukit, hutan hingga akhirnya sampailah di pantai tujuan. Keyakinan kami semakin bertambah karena keindahan ini tak mungkin hasil karya manusia, namun inilah maha karya Sang Pencipta.

Momen kali ini benar-benar saya manfaatkan untuk merenungi tentang siapa saya dan apa yang saya inginkan. Beberapa menit setelah sampai, saya berinisiatif untuk pergi sendiri ke tepi pantai sembari duduk dan mendengarkan musik.

Deburan ombak terdengar jelas oleh telinga saya. Kapal berlayar serta masyarakat yang sedang memancing pun terlihat jelas dalam pandangan saya. Iringan musik membuat saya semakin terlarut dalam kesendirian itu. Argh, rasanya begitu tenang dan damai.

Ada satu hikmah yang saya dapatkan ketika sedang berada di pantai. Pada dasarnya, Allah sudah menciptakan setiap makhluk dengan perannya masing-masing. Peran tersebut akan diketahui saat kita mampu mengenal siapa diri kita.

Ombak tak henti menggulung lautan, ikan terus berenang di lautan, gunung pun dengan kokohnya terus berdiri. Ya, mereka semua sedang menjalankan peran dari Tuhan. Semua makhluk itu sedang bertasbih memuji setiap kekuasan-Nya. Lalu bagaimana dengan kita manusia? Ah rasanya saya masih jauh dari itu.

Semakin lama terdiam, semakin menikmati pula setiap suasana di pantai rancabuaya. Namun waktu yang terus bergulir membuat kami harus mengakhiri perjalanan di pantai rancabuaya ini.

Pencarian diri akan terus berlangsung dalam kehidupan. Seyogyanya pencarian diri adalah jalan untuk mengenal lebih dekat Allah SWT. Pencarian itu butuh ilmu. Maka hakikat kita pada akhirnya adalah belajar dan akan terus belajar. Semakin dalam belajar, maka kita akan semakin menyadari siapa kita dan mengenal siapa Tuhan kita.

Jangan sedikit pun berhenti untuk belajar. Kuatkan diri agar memiliki semangat pembelajar sehingga kelak saat durasi waktu di bumi ini habis, kita punya bekal untuk kembali pulang ke kehidupan abadi. Selamat belajar. Selamat mengenal diri dan mengenal Tuhan.