Dakwah itu panggilan jiwa

Dakwah itu panggilan jiwa

“Berdakwah itu bukan profesi, tapi panggilan jiwa”

-Bambang Triyono-

Rasa syukur terbesar yang harus kita panjatkan adalah nikmat iman dan islam. Kedua hal itu menjadikan kita makhluk dengan posisi yang benar. Mengimani Allah SWT sebagai Tuhan yang esa serta menjalankan syariatnya sebagai upaya untuk kembali pulang ke tempat yang Allah ridhoi.

Sampainya islam pada diri kita melalui proses yang sangat panjang. Rasulullah SAW menjadi sosok pertama yang Allah utus untuk menyampaikan islam sebagai rahmattan lil ‘alamin. Rasulullah melewati berbagai macam rintangan demi mendakwahkan islam kepada umat manusia. Perjuangannya yang penuh cinta berdampak dengan berubahnya kehidupan menjadi lebih baik lagi. Hal tersebut kini dirasakan oleh setiap manusia.

Namun apa jadinya saat penerus dakwah Rasulullah tak ada lagi? Sementara arus roda keburukan tak pernah henti mengancam banyak orang. Akankah kita tergilas oleh roda-roda hitam keburukan? Untuk itu, kini saatnya kita ambil bagian dalam meneruskan dakwah Rasulullah SAW.

Lantas bagaimana cara untuk memulai dakwahnya? Sementara diluar sana begitu banyak orang yang sulit untuk ditaklukan. Bahkan terkadang kita sudah ciut duluan dengan kondisi yang begitu menyeramkan. Satu kunci yang saya dapatkan dari guru saya adalah cinta. Hadirkan cinta saat kita melakukan kegiatan dakwah.

Ingat, yang kita hadapi adalah manusia. Manusia bukanlah malaikat yang selalu benar. Bukan pula setan yang selalu salah. Manusia adalah makhluk yang mempunyai dua sisi, baik dan buruk. Maka saat kita melihat manusia berbuat hal yang melanggar agama, ingatlah bahwa mereka pun pasti punya sisi baiknya. Maka berhusnudzhanlah.

Cinta adalah komponen yang membuat dakwah terasa ringan. Jangan dipusingkan apakah setelah dakwah mereka akan berubah atau tidak, karena hasil adalah ranahnya Allah. Tugas kita adalah berusaha untuk menyampaikan. Maka sampaikanlah dengan usaha terbaik, dengan cinta terbaik dan dengan niat terbaik.

Hati akan tersentuh dengan hati pula. Maka lakukanlah dakwahmu dengan hati yang tulus. Percayalah dengan pertolongan Allah dalam setiap dakwah kita. Rasakan keajaiban yang hadir. Ingat, preman aja bisa pension. Artinya, saat dakwah disampaikan, Insya Allah akan banyak orang yang merasakan jalan yang benar sehingga pada akhirnya panggilan cinta itu akan mereka ikuti untuk akhirnya kembali pada Allah Sang Maha Cinta.

@FauziNoerwenda

Ngaji bareng wanita PSK

Ngaji bareng wanita PSK

“Berdakwah di masjid sudah biasa karena berisi orang-orang baik, tapi kalo dakwah di kawasan marginal baru luar biasa”

-Zuhair Badruzzaman-

Sudah tak asing dalam pandangan mata bahwa orang-orang marginal selalu terpinggirkan. Mereka yang sering dijalanan, anak-anak terbuang sampai wanita PSK jarang sekali terjamah dalam hal kebaikan. Orang enggan untuk mendekat kepada mereka. Kebanyakan diantara kita menganggap bahwa mereka adalah manusia yang tidak baik.

Lantas bagaimana kebaikan akan sampai kepada mereka jika tak ada orang yang menyampaikannya? Berulang kali saya sampaikan dalam beberapa tulisan saya bahwa setiap orang itu baik. Hanya saja selalu ada kejelekan yang manusia perbuat. Boleh jadi apa yang mereka lakukan adalah sedikit kejelekan dari kebaikan yang tersembunyi mereka lakukan. Dari pada berprasangka buruk, lebih baik berprasangka baik sajalah.

Suatu ketika saya bertemu dengan kawan-kawan dari komunitas pecinta al-qur’an atau yang lebih sering disebut KOMPAQ. Mereka adalah kawan-kawan pecinta al-qur’an yang juga mengajarkan al-qur’an kepada orang-orang dikawasan marginal ibu kota. Catat, kawasan marginal!

Salah seorang pengurus kompaq yaitu Mas Zuhair mengatakan bahwa berdakwah di masjid itu sudah biasa. Di masjid sudah pasti berisi orang-orang baik yang akan atau sedang belajar. Bahkan begitu banyak orang-orang yang mengajarkan dan membagikan ilmunya di mesjid. Jadi sangat wajar perkembangannya begitu baik.

Berbeda di kawasan marginal yang jarang sekali dijamah oleh kebanyakan orang. Lalu kalo tak ada satu pun orang yang menyampaikan kebaikan kepada mereka, bagaimana kebaikan itu sampai? Harus ada yang memulainya. Itulah alasan mengapa Kompaq lebih memilih berdakwah di kawasan marginal daerah ibu kota.

Ternyata cerita dakwah di kawasan marginal lebih menantang adrenalin loh. Bagaimana tidak, kita akan berhadapan dengan orang-orang yang “kurang baik”. Dibutuhkan mental kuat untuk terjun kesana. Tentu niat yang tulus menjadi modal utama bagi para penggiat kompaq. Alhasil mereka pun terjun ke jalanan, menjamah anak-anak sampai wanita tunasusila atau wanita PSK.

Gaya dakwah yang dilakukan pun berbeda dengan dakwah pada umumnya. Ustadz Hilman menceritakan pengalamannya saat ngaji dengan wanita PSK di Jakarta. Uh rasanya memang beda. Namun saat hati tulus untuk menyampaikan kebaikan, maka mereka pun siap untuk menerima dengan baik pula.

Sejenak mari kita kembali renungi mengapa Rasul mulia Nabi Muhammad SAW diturunkan di Mekah? Pada waktu itu Mekah sedang ancur-ancurnya, masyarakatnya begitu jelek sampai dikatakan kaum jahiliyah. Untuk itulah Rasul hadir ditengah-tengah mereka untuk menyempurnakan akhlak. Dengan penuh perjuangan Rasul berhasil merubah kaum jahiliyah menjadi salah satu kaum terbaik di muka bumi.

Dakwah butuh perjuangan. Dakwah butuh proses. Lebih dari itu, dakwah membutuhkan mental dan niat yang tulus. Masih banyak diantara kita yang lebih nyaman berbuat maksiat. Maka dekati dan cintai mereka. Bukan sebaliknya, malah kita jauhi dan benci. Tebarkanlah cinta kepada siapapun.

Saat cinta hadir dalam dakwah kita, maka orang-orang akan lebih mudah menerima. Ingat, setiap orang pada dasarnya baik. Maka gunakan husnudzhan sebagai modal utama dalam dakwah dan rasakan kebaikan dari setiap orang yang kita temui.

Selamat bertemu dan berbagi kebaikan dengan orang-orang yang jarang kita jamah. Berhusnudzhanlah!