Coretan Emosi

Coretan Emosi CT

“Tulisan adalah media untuk menyalurkan emosi dan perasaan seseorang” 

Suatu sore di Pesantren Miftahul Khoir, saya bermain bersama anak-anak kecil disana. Begitu lugu dan menggemaskan melihat tingkah anak-anak yang murah senyum tersebut. Sejenak saya berpikir sambil mengulang masa lalu, ‘’ternyata begitu membahagiakan yah menjadi anak-anak, bermain dan terus berbahagia”.

Masa kanak-kanak memang masa yang sangat menyenangkan. Pakar parenting pun mengatakan bahwa anak-anak adalah fase yang sangat ideal untuk belajar, mereka akan mudah menyerap informasi yang didapatkan. Apapun akan ia serap, untuk itulah perlu adanya pengawasan dari orang tua.

Lucunya saat saya bermain dengan anak-anak, saya melihat mereka berantem sampai ada yang menangis. Disitulah saya harus berperan bagaimana membuat anak kembali tertawa dan berdamai kembali. Cukup sulit ternyata untuk membuat anak kembali tertawa. Dari situ saya kembali berpikir, betapa luar biasanya peran orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya sampai sukses.

Baru beberapa menit mereka berantem, eh tahunya udah langsung akrab lagi. Padahal baru keluar air mata, eh sekarang malah sudah tertawa lagi. Anak-anak memang mudah cepat berubah emosinya. Itulah anak-anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Hari ini memang berantem, boleh jadi besoknya sudah akrab lagi.

Bagi anak-anak, emosi akan mudah berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi pada saat itu. Anak-anak pun tidak menyimpan emosi negatif dalam diri. Semua yang anak-anak rasakan langsung mengalir saat itu juga. Baik senang, sedih, marah, semua terjadi saat itu juga. Makanya wajar tak akan ada dendam sekalipun berantem.

Berbeda dengan orang dewasa, emosi menjadi salah satu faktor yang membuat hidupnya berwarna. Saat marah, maka emosinya akan tersimpan lama. Saat bahagia, emosinya bisa terus terbawa lama. Orang dewasa bisa memainkan emosi.

Namun saat emosi negatif melanda, biasanya akan berdampak pada sikap yang kurang baik. Orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya, maka akan dikendalikan oleh emosi. Banyak orang yang marah, pada akhirnya membenci orang lain. Sampai-sampai banyak remaja yang tawuran hanya karena tidak mampu mengendalikan emosinya.

Lantas bagaimana cara untuk mengendalikan emosi negatif yang seringkali membuat kita terpuruk? Perlu sama-sama kita pahami, bahwa emosi bisa kita kendalikan dan juga kita salurkan. Banyak yang akhirnya tidak bisa mengendalikan emosi karena tidak mampu menyalurkan emosi negatif tersebut.

Banyak cara untuk menyalurkan emosi. Salah satu cara yang paling membuat saya nyaman adalah dengan menulis. Kok bisa dengan menulis? Saat menulis, kita melibatkan otot-otot serta emosi yang terjadi pada saat menulis. Emosi negatif bisa disalurkan dengan menuliskannya. Alirkan emosi negatif dengan menuliskan kekesalan pada secarik kertas. Perlahan emosi tersebut bisa mengalir.

Banyak penulis yang sudah membuktikan hal tersebut. Rekan saya alumni TBnC Akademi Trainer bernama Rindu Ade adalah salah satu contohnya. Beliau mampu menyalurkan emosi melalui tulisan. Bahkan saluran emosinya menghasilkan banyak buku best seller dan menjadikan beliau sebagai seorang penulis. Beliau sering berbagi bahwa menulis bisa dilakukan untuk penyembuhan.

Cara tersebut akhirnya saya buktikan sendiri. Setiap emosi saya naik, maka tulisan yang saya buat semakin bermakna. Silahkan Anda coba sendiri untuk menuliskan emosi Anda melalui tulisan. Jika emosi terus mengendalikan Anda hingga membuat hidup Anda terpuruk, maka mulailah mengendalikan emosi dengan coretan-coretan emosi dalam bukumu. Cobalah alirkan emosimu.

@FauziNoerwenda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s