Menjadi Santri adalah Amanah

Santri

“Tak ada lagi pekerjaan yang paling membahagiakan selain menjadi SANTRI” –Hilman Miftahurrojak-

Sejak kecil saya tumbuh dan belajar bagaimana caranya agar kelak menjadi orang besar. Tantangan hadir agar saya mampu melewati berbagai macam ujian demi ujian. Sekolah formal menjadi pilihan wajib yang harus saya tempuh demi tercapainya impian tersebut. Maka saat ada selentingan dari keluarga untuk pesantren, saya tolak mentah-mentah hal tersebut.

Alasan yang membuat saya enggan untuk pesantren adalah citra pesantren dalam pandangan saya kurang baik. Pesantren itu kotor, santrinya jorok dan keluar dari pesantren gak akan bisa sukses seperti yang dari sekolah formal. Pada akhirnya saya harus membuktikan diri bahwa sekolah formal memang sangat bagus.

Hingga suatu ketika saat harus berkuliah di Bandung, ada satu momen yang membuat hati saya gundah. Sejak SD sampai kuliah saya terus mengejar akademik yang tinggi, lalu setelah itu apa lagi? Bahkan saat kuliah saya mencoba sambil berbisnis dan menulis buku, lalu apa lagi?

Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya setiap waktu. Ada satu perasaan yang nampaknya belum terpuaskan dengan pencapaian saya selama ini. Ternyata bukan menjadi orang paling pintar, bukan menjadi orang yang paling kaya, bukan pula menjadi orang terpandang, bukan itu ternyata. Lalu apa?

Jeritan hati itu terus menjadi momok yang membuat saya semakin gelisah akan perjalanan hidup yang saya lewati. Hingga Allah memberikan jawabannya dari sebuah tempat yang pada awalnya sangat saya benci. Tempat itu bernama pesantren.

Memasuki tingkat tiga perkuliahan, saya bertemu dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di daerah Dago, Bandung. Entah seperti apa proses munculnya hidayah itu, yang jelas akhirnya saya memutuskan untuk menjadi santri sekaligus mahasiswa di PPM Miftahul Khoir.

Kehadiran Miftahul Khoir dalam kehidupan saya saat itu juga langsung mengubah sudut pandang saya terhadap pesantren. Ternyata apa yang saya katakana dulu itu salah. Pesantren tidak seperti itu. Justru pesantren itu sangat bersih, rapi, bahkan pesantren adalah tempat yang tepat untuk mengantarkan kita pada kesuksesan yang sebenarnya.

Jawaban pun saya temukan dari ta’lim yang saya ikuti disini. Cita-cita tertinggi itu bukanlah cita-cita dunia. Cita-cita tertinggi itu adalah meraih ridho Allah. Adapun pekerjaan, visi adalah alat untuk menggapai ridho Allah tersebut. Maka tak peduli apa pekerjaanmu, dimana sekolahmu, yang penting jadikan semua itu sebagai piranti ibadah untuk menggapai ridho Allah.

Disela-sela perjalanan baru sebagai seorang santri. Ada satu hal yang membuat saya semakin bangga menjadi santri. Menjadi santri itu istimewa. Tak semua orang bisa menjadi santri. Menjadi santri adalah amanah. Maka jagalah amanah itu dengan baik. Jadilah santri yang kelak bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut dikuatkan saat mengikuti ta’lim rutin yang diisi oleh Ustadz Ajil Yumna Al-Qurtubi. Intinya adalah, ‘’barang siapa orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pengabdian diri kepada Allah, padahal nikmat yang diberikan Allah terus menerus dan tidak berhenti, maka hidupnya akan dibelenggu oleh rantai-rantai cobaan baik jasmani, rohani, harta benda, wibawa atau yang lainnya”

Saya semakin percaya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi muka bumi ini. Allah sudah mengatur setiap skenario dengan begitu indahnya. Awalnya benci, kini menjadi cinta. Saya niatkan untuk melakukan pengabdian dengan menjadi seorang santri yang akan terus belajar hingga menjadikan semua hal yang saya lakukan sebagai piranti ibadah demi menggapai ridho Allah SWT.

@FauziNoerwenda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s