Cita-cita tertinggi

Cita Cita Tertinggi

“Setinggi-tingginya CITA-CITA, semaksimal-maksimalnya USAHA, tetap tak akan bisa mendobrak rantai-rantai TAKDIR dari Allah SWT” –Syekh Ibnu Athaillah-

Sejak kecil saya sudah ditanamkan agar memiliki impian besar supaya bisa menjadi orang besar pula kelak. Sudah pasti belajar dan berjuang keras harus senantiasa dilakukan demi sebuah impian yang besar. Pada kenyataanya dari setiap usaha yang dilakukan hanya akan terjadi 2 hal, berhasil atau gagal.

Sepanjang perjalanan yang saya lewati, Alhamdulillah sebagian besar impian yang saya rencanakan terkabul. Dari situ saya menganggap bahwa usaha memang menentukan hasil. Hingga suatu ketika ada satu impian besar yang ternyata gagal. Padahal saat itu saya sudah berusaha sangat maksimal. Maka munculah kekecewaan dalam diri juga terhadap Sang Ilahi. Saya sampai beranggapan bahwa Allah tidak adil.

Hal tersebut terus membawa satu pertanyaan bagi saya tentang makna usaha untuk mendapatkan hasil. Mengapa ada orang yang berusaha keras namun hasilnya berbeda? Sampai akhirnya semua pertanyaan itu terjawab saat saya belajar di Pondok Pesantren Miftahul Khoir.

Dalam sebuah ta’lim yang saya ikuti, Ustadz Ajil Yumna Al-qurtubi menyampaikan bahwa ikhtiar merupakan salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk mendapatkan tujuan. Kewajiban muslim adalah berikhtiar 100%, sementara hasilnya serahkan semuanya kepada Allah swt.

Maka ada dua hal yang perlu kita cermati. Pertama adalah usaha atau proses, kedua adalah hasil. Usaha atau proses adalah bagian manusia yang harus dilakukan. Sementara hasil adalah ranah Allah. Kita tak bisa campur tangan untuk menentukan hasil. Allah tahu hasil yang terbaik untuk kita. Hanya terkadang kita sok tahu tentang yang terbaik untuk diri kita. Sukses dan berhasil harus menurut pandangan Allah. Disinilah kekuatan tawakal dan ikhlas bermain.

Salah seorang ulama besar, Syekh Ibnu Athaillah mengatakan bahwa, “Setinggi-tingginya CITA-CITA, semaksimal-maksimalnya USAHA, tetap tak akan bisa mendobrak rantai-rantai TAKDIR dari Allah SWT”. Artinya setiap usaha yang kita kerjakan sudah ada dalam guratan takdir Allah. Begitupun hasilnya sudah ada dalam guratan takdir Allah.

HUSNUDZAN adalah kunci agar kita bisa menerima dengan ikhlas. Berusalah dengan optimal namun tidak ambisius, kecenderungan orang yang ambisius itu berlebihan. Padahal kita jangan terlalu mati-matian atau berlebihan dalam menginginkan sesuatu.

Bicara soal impian, banyak orang jawabannya hanya sebatas menjadi orang sukses, orang hebat atau orang berhasil. Maka impiannya hanya sebatas ukuran dunia. Sekarang mari sikapi lebih luas lagi. Tentu semua tahu bahwa tugas manusia adalah untuk beribadah. Ibadah pun tak sekedar sholat, puasa, zakat, ibadah haji atau ibadah mahdoh lainnya. Apa yang kita kerjakan pun bisa jadi ibadah.

Maka saat kita bekerja atau punya cita-cita, jadikan itu semua sebagai piranti ibadah kepada Allah. Ingat, cita-cita tertinggi seorang muslim adalah untuk menggapai ridho-Nya Allah swt. Saat ridho sudah tercapai, harusnya tidak ada kata gagal dalam usaha. Toh apa yang kita kerjakan adalah ibadah. Jadi dimana letak gagalnya?

Mari sikapi lebih baik untuk setiap hal yang kita lakukan. Jangan terlalu mudah menggunakan emosi negatif untuk bersikap. Jadilah pribadi yang senantiasa pembelajar. Jadi mulai sadar apa yang perlu sama-sama kita perbaiki? Boleh jadi loh saat kawan-kawan membaca artikel ini adalah bagian dari takdir Allah. Maka percayalah dan selalu husnudzan atas setiap takdir yang Allah berikan.

Lalu bagaimana menjemut takdir terbaik? Berusalah sebaik mungkin dengan selalu berada di jalan Allah, lalu serahkan semua hasilnya pada Allah yang Maha Kuasa.

@FauziNoerwenda

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s