Merindukanmu

gunung goong

“Saat seseorang mengalami GEJOLAK RASA dalam diri yang tak bisa dibendung, maka itulah sebuah rasa yang disebut RINDU”.

Cinta adalah sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata, tak mampu diucapkan dengan lisan, namun terus terasa dalam hati. Cinta mampu membuat kita menahan rasa sakit yang dalam, menunggu sebuah penantian yang panjang dan menghadirkan rindu yang tak tertahan.

Wuah kalo udah soal cinta bikin melting deh. Oia, tebak-tebakan dulu nih. Kira-kira apakah tulisan ini saya buat untuk seseorang kah? Kalo ada yang menebak tulisan ini tentang seseorang apalagi cewek, maka jawabannya salah besar. Tulisan ini sama sekali tak ada kaitannya dengan cewek sob. Namun tulisan ini adalah sebuah bentuk kerinduan saya terhadap kampung halaman tercinta di Sukabumi tepatnya Kampung Gunung Goong.

Lima tahun sudah saya merantau di Bandung. Tinggal di sebuah kota metropolitan dengan berbagai hegemoni yang membuat saya semakin takjub dengan keindahan kota kembang ini. Lamanya di perantauan membuat saya merindukan sesuatu yang selama ini saya tinggalkan. Saat sendiri, perasaan itu semakin menjadi. Benar ternyata, saya merindukan kampung halaman.

Sejak kecil saya tumbuh dan besar di Gunung Goong. Sebuah kampung yang terletak di sebuah desa yang jauh dari keramaian. Jauh dari kebisingan kendaraan, tak ada satu pun gedung yang menjulang tinggi, bahkan mini market pun tak ada. Yang ada hanyalah sawah yang terhampar luas, kebun yang begitu rindang serta gunung yang menjadikan Gunung Goong semakin sedap dipandang mata.

Saya tumbuh di sebuah lingkungan yang kondusif dalam belajar agama. Pulang dari sekolah formal, sorenya langsung pergi ke sekolah agama dan magrib harus sudah ada di pengajian. Begitu seterusnya hal itu berulang. Jikalau ingat masa itu, rasanya saya sedih. Dulu apa yang saya lakukan seakan begitu membosankan. Hanya sekolah, belajar dan pengajian. Waktu bermainnya sangat kurang. Tak jarang saya meluapkan kekesalan kepada orang tua karena jarang mendapat jatah main. Bahkan untuk sekedar nonton televisi pun sudah diatur jamnya. Huhhh sesak rasanya ketika itu.

Namun apa yang saya rasakan saat ini? Ya Allah saya merindukan suasana seperti itu. Suasana damai yang membuat saya senantiasa dekat dengan-Mu Ya Rabb. Pendidikan yang saya dapat sejak kecil membuat saya menjadi pribadi yang tangguh. Orang tua menanamkan satu sikap yang positif dalam diri. Sikap tersebut terus tumbuh sehingga menjadi kepribadian yang menyatu dalam diri.

Syukur adalah salah satu hal wajib yang tak boleh tertinggal. Dengan ketegasannya, orang tua berhasil mendidik saya hingga sekarang dewasa. Entahlah nanti saya bisa seperti mereka atau tidak dalam mendidik anak-anak kelak. Yang pasti semua harus sudah dipersiapkan mulai dari saat ini.

Kerinduan yang tiba-tiba muncul, membuat saya melihat dua kondisi yang sangat berbeda. Masa kecil saya dulu dan masa kecil anak-anak zaman sekarang. Semua sungguh terasa berbeda. Zaman yang semakin modern membuat teknologi sudah menjadi bagian dalam keseharian kita. Anak seusia balita pun sudah mengenal gadget bahkan sangat pandai untuk memainkannya. Jleb rasanya kalo kita tidak mampu menyikapi semua dengan positif.

Perjalanan dari dimensi waktu tersebut menyadarkan saya tentang sebuah titik dari hakikat kehidupan. Disadari atau tidak, waktu terus melaju menuju sebuah fase bernama kematian. Ya, kita sedang menati kematian. Lalu apakah penantian yang kita lakukan sudah benar? Atau hanya sekedar mengabiskan waktu hidup tanpa memperdulikan bekal ke akhirat kelak?

Sungguh kerinduan terhadap kampung halaman ini membuat saya mengingatkan tentang sebuah arti kehidupan yang begitu dalam. Kini dimanapun saya berada, kampung halaman akan selalu memberikan arti. Kampung halaman membuat saya selalu sadar tentang makna kehidupan yang dalam. Kampung halaman membuat saya selalu belajar agar senantiasa menjadikan kehidupan sebagai piranti ibadah dalam menggapai ridho Allah SWT.

Terima kasih kampung halaman. Semoga kelak saya bisa kembali dan membangun kampung halaman tercinta bersama dengan keluarga tercinta.

Teruntuk semua orang yang telah mengajarkan saya arti sebuah kehidupan di kampung Gunung Goong. Salam rindu dari seseorang yang merindukanmu.

@FauziNoerwenda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s