Hilangnya Rasa Hormat

HUSNUDZAN.JPG

“Kekuatan yang membuat orang PAHAM suatu ilmu bukan hanya sekedar RAJIN dan PINTAR tetapi rasa HORMATNYA murid terhadap Sang Guru”

Awal pertama kali kuliah, saya mempunyai target untuk meraih IPK cumlaude dan menjadi mahasiswa berprestasi. Berbagai upaya saya lakukan untuk mewujudkan target tersebut. Tak jarang, cara-cara kurang baik seperti menyontek pernah saya lakukan hanya karena target tersebut.

Alih-alih mencapai target, poin utama untuk memahami ilmu tidak saya dapatkan. Ternyata fokus saya memang melenceng. Alhasil begitu banyak ilmu yang saya pelajari namun hanya sedikit ilmu yang saya mampu pahami.

Dunia pendidikan kampus memang berbeda dengan pendidikan dibawahnya. Saat di kampus mahasiswa bebas berkreasi bahkan dosen pun dianggapnya sebagai teman. Bagus memang karena adanya kedekatan. Hanya saja, sebagian diantara kita malah menjadi tidak hormat terhadap dosen. Mahasiswa begitu mudahnya menyalahkan dosen jika dapat nilai jelek. Lalu jika dosen salah menjelaskan, begitu mudahnya kita mencibir. Rasa hormat murid terhadap guru tidak ada.

Saya pribadi merasa malu karena betapa seringnya diri mencibir dosen dan merasa sok pintar sebagai mahasiswa. Hingga suatu ketika saya bertemu dengan sebuah lembaga pendidikan dengan atmosfir yang jauh berbeda dari pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan tersebut bernama PESANTREN.

Saat masuk pesantren, saya diajarkan bagaimana adab dan tata cara mencari ilmu. Bagaimana sikap seorang murid yang baik terhadap gurunya. Pesantren mengajarkan untuk menghormati guru. Salah satu dewan assatidz di PPM Mifathul Khoir yaitu Ustadz Hilman menceritakan pengalaman pribadinya yang begitu hormat terhadap gurunya.

Ustadz Hilman belajar di Pesantren Cipasung Tasikmalaya. Beliau menceritakan saat di pesantren beliau lebih sering membantu gurunya di banding berada di kelas. Dari mulai jadi asisten saat gurunya pergi ke luar kota, membantu menanam padi, memijit gururnya, membersihkan rumahnya seperti ngepel dan nyapu serta kegiatan lainnya.

Rasa hormatnya beliau membuat terciptanya banyak keajaiban. Banyak keberkahan karena rasa hormat terhadap sang guru. Walau lebih sering berada diluar, namun pemahaman beliau terhadap ilmu sangatlah tinggi. Sampai akhirnya beliau menjadi pengajar di berbagai tempat dan pesantren., Satu pesan penting yang selalu beliau ajarkan adalah menumbuhkan SIKAP HUSNUDZAN. Tentu kita harus mampu berbaik sangka terhadap guru. Oia, gurunya Ustadz Hilman bernama Kiai Ilyas Ruhiyat, seorang ulama besar Indonesia yang juga pimpinan Pesantren Cipasung.

Guru adalah salah satu jalan untuk kita belajar. Maka hormatilah guru kita. Berhentilah mencaci dan mencerca guru. Bagaimana kita mau paham terhadap suatu ilmu jika sang pemberi ilmunya saja kita benci. Cintailah gurumu wahai kawan. Guru itu bukakan pintu dan muridnya yang harus melangkah menuju pintu tersebut. Maka langkahkan kakimu dengan rasa hormat agar setiap ilmu yang dipelajari penuh dengan keberkahan dan bermanfaat bagi banyak orang.

@FauziNoerwenda

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s