Pengamen Jalanan

Pengamen Jalanan - HUSNUDZAN.jpg

“Salah satu SIKAP yang mampu membuat orang BIJAKSANA adalah HUSNUDZAN”

Setiap selasa malam saya mengikuti ta’lim rutin di PPM miftahul khoir Bandung dengan mata ta’lim kitab ta’limul mu’talim. Kitab tersebut membahas tentang adab-adab dalam mencari ilmu. Kitab tersebut juga membahas bagaimana sikap kita sebagai pencari ilmu. HUSNUDZAN adalah satu kata yang paling sering disampaikan oleh Ustadz Hilman yang merupakan pengajar kitab tersebut.

HUSNUDZAN memang menjadi kunci agar kita senantiasa berbaik sangka kepada siapapun bahkan atas hal apapun. Sejujurnya awal saya mendengar hal tersebut merasa agak sedikit ragu, bagaimana mungkin bisa? Namun semua bisa dilakukan saat kita mau belajar.

HUSNUDZAN pun mampu membentuk sikap seseorang menjadi bijaksana. Saat mendapat masalah, kita tak akan langsung menyalahkan, namun akan bersikap lebih tenang serta berbaik sangka. Hal itulah yang akhirnya membuat kehidupan dengan sesama menjadi lebih baik.

Ada kisah menarik yang disampaikan oleh Ustadz Hilman tentang HUSNUDZAN. Beliau menceritakan sosok gurunya yang sangat HUSNUDZAN. Nama guru beliau adalah KH.Ilyas Ruhiyat yang merupakan pimpinan Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Suatu ketika rumah beliau didatangi oleh seorang pengemis. Sudah pasti tahu kan kalo pengemis datang pasti untuk meminta sesuatu. Seandainya kita di posisi beliau, apa yang akan kita lakukan?

Boleh jadi mungkin menolak, mengusir atau memberi dengan wajah yang kecut. Tebak apa yang beliau lakukan? Yes, beliau memberi sesuatu pada pengemis tersebut. Hal menarik terjadi saat beliau ditanya, “kenapa sih apih (nama panggilan) selalu memberi pengemis?”

Dengan tenangnya beliau menjawab, ”kita tidak tahu apa kebutuhan pengemis tersebut. Seandainya memang pengemis tadi sangat membutuhkan uang namun kita tidak memberi, siapa yang salah? Tentu kita ikut salah karena tidak membantu. Jadi dari pada berpikir yang tidak-tidak, lebih HUSNUDZAN saja. Dengan HUSNUDZAN semua menjadi lebih baik”.

Sekali lagi, HUSNUDZAN. Beliau mengajarkan untuk selalu HUSNUDZAN. Cerita tersebut membuat cara pandang saya mulai berubah. Menariknya, setiap saya pulang kampung ke Sukabumi, biasanya saya selalu menggunakan bis kota. Pastinya bis kota selalu ada pengamen. Hayo siapa yang kadang risih sama pengamen?

Jujur awalnya ketika melihat pengamen saya sering merasa risih bahkan sampai menganggap pengamen adalah orang malas yang gak mau berusaha. Ya Allah tak sadar saya sudah suudzan kepada banyak pengamen. Padahal belum tahu kan kondisi aslinya. Teringat akan cerita apih, maka saya belajar untuk HUSNUDZAN. Berat memang awalnya, namun semua memang perlu dilatih. Saya mencoba bersikap baik untuk setiap kesempatan.

HUSNUDZAN adalah suatu SIKAP yang memang bisa dikembangkan pada diri kita. Saat diri mampu berbaik sangka, maka korelasinya adalah kebijaksanaan atas perbuatan kita. Untuk itu, yuk kita terus belajar HUSNUDZAN agar pribadi kita semakin bijak sehingga kehidupan pun makin baik.

@FauziNoerwenda

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s