Jadilah Egois!

Jadilah Egois!

“EGOISLAH dalam beribadah, kita melakukan ini dan itu adalah untuk KEBAIKAN DIRI di hadapan Tuhan”

-Nati Sajidah-

Egois adalah salah satu sifat jelek yang sebaiknya tak kita miliki. Egois hanyalah mementingkan diri sendiri tanpa memperdulikan orang lain. Masih ingat cerita kancil yang sering ibu kita ceritakan sebelum tidur? Si kancil menantang kura-kura untuk lomba lari. Yang ia pikirkan kala itu hanyalah kemenangan dirinya dan mempermalukan si kura-kura. Itulah salah satu contoh sifat egois yang kurang baik. Lah emang ada egois yang baik?

Normalnya kehidupan, orang egois akan dijauhi oleh semua orang. Siapa juga yang mau berteman dengan orang-orang yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Egois! Lambat laun saya menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang aku, aku dan aku. Namun hidup adalah tentang kita. Tentang aku dan teman. Tentang aku dan keluarga. Tentang kita semua. Tak ada rumusnya untuk hidup sendiri bahkan sampai egois.

Namun di satu kesempatan ada seseorang yang selalu menyerukan untuk hidup egois. Anehnya, orang tersebut begitu banyak teman dan rajin sekali berbagi ilmu. Oh iya, orang tersebut adalah Ustadz Hilman Miftahurrojak yang tak lain adalah guru saya.

Sisi egoisnya sebelah mana? Sungguh aneh pikirku kala itu. Sampai akhirnya saya mendapat jawaban dari salah seorang muridnya yang selalu membersamai beliau. Salah satu murid beliau yaitu Mang PS (sebutan akrabnya) menceritakan betapa egoisnya Ustadz Hilman.

“Di tengah-tengah kesibukannya, Ustadz Hilman masih sempat mengurusi hidup kami,” ujar Mang PS. Beliau memang begitu perhatian kepada banyak orang. Filosofinya yang selalu menebarkan cinta membuat saya semakin tidak mengerti tentang egois yang dimaksud. Apa maksud egois yang sebetulnya itu?

Akhirnya Mang PS mengatakan bahwa Ustadz Hilman memang egois. Egois yang dimaksud adalah egois dalam hal kebaikan. Kelak di akhirat perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan dan amal-amal kita akan dihisab. Maka sudah seyogianya saat kita masih hidup harus senantiasa berbuat kebaikan. Berbuat kebaikan harus egois. Intinya harus berlomba-lomba.

Saat dimensi kehidupan beralih dari dunia ke akhirat, maka tidak akan ada lagi yang namanya kerja sama. Di akhirat nanti yang ada pertanggungjawaban masing-masing. Akhirnya egois pula. Maka egoislah dalam kebaikan, egoislah dalam beribadah.

Egois yang kita lakukan akan memunculkan semangat berbagi yang sangat tinggi. Mengapa? Karena kita akan berusaha melakukan yang terbaik untuk diri sendiri yang secara tidak langsung akan memberikan yang terbaik pula bagi orang lain.

Orang egois menolongnya pun terbaik, berbaginya pun terbaik dan ibadahnya pun terbaik. Maka jadilah egois di mata Allah dan tebarkan keegoisanmu agar semakin banyak orang yang melakukan ibadah yang terbaik.

@FauziNoerwenda

Advertisements

Ayo Mabok Lagi

Ayo Mabok Lagi

“Jika setiap pemabuk merasakan NIKMAT yang begitu mendalam, maka seseorang yang selalu berdzikir merasakan nikmat yang tiada tara KENIKMATANNYA”

Dalam sebuah kumpulan bersama orang-orang hebat di Ciwidey yang bertajuk “Gerakan Husnudzhan”, kami saling berbagi cerita tentang pengalaman hidup yang sudah dilalui. Tentu begitu banyak inspirasi yang saya dapatkan dari berbagai pengalaman yang saya dengar.

Ada satu cerita menarik yang saya dapatkan dari guru saya Ustadz Hilman Miftahurrojak. Beliau menceritakan pengalaman dakwahnya yang luar biasa saat di Ciwidey. Kala itu Ciwidey begitu marak dengan orang-orang yang sering mabuk dan juga narkoba. Sungguh kondisi yang sangat mencekam bagi masyarakat sekitar.

Bagi kebanyakan orang, biasanya saat melihat orang mabuk akan langsung ditegur, memarahi sampai benar-benar geram lah pokoknya. Cara itu baik, hanya saja kondisi tersebut membuat si pemabuk marah bahkan boleh jadi sampai membuat si pemabuk itu benci. Alih-alih mengajak, akhirnya malah semakin jauh.

Lain dengan guru saya tersebut, beliau melakukan satu hal yang sangat berbeda dari kebanyakan orang. Saat melihat orang mabuk, ia malah mendekat dan mengajak ngobrol akrab pemabuk tersebut. Bahkan kalo tidak salah sampai pura-pura mabuk. Karena kondisi pemabuk itu setangah sadar, jadi mana tau air yang diminumnya itu hanya air putih biasa.

“Mang, gimana sih rasanya mabuk itu?” Tanya Ustadz Hilman.

“Wah pokoknya mabuk itu bisa bikin kita fly tadz, enak banget lah.” Jawab si mang pemabuk itu.

“Ah tapi fly dari mabuk itu belum seberapa mang, saya pernah yang nikmat banget sampai ngalahin mabuk,“ ujar Ustadz Hilman melanjutkan.

“Emang iya ada fly yang lebih dari mabuk?” Tanya si mang pemabuk.

“Iyalah ada, makanya saya kasih tahu. Yuk ikut saya ke masjid, saya kasih tahu caranya.” Lanjut Ustadz Hilman.

“Tapi kok ke masjid tadz?” tanya mang pemabuk dengan herannya.

“Udah ikut aja, mau fly kan?” jawab Ustadz.

“Iya,iya mau tadz, “ jawab mang pemabuk dengan tegas.

Singkat cerita, akhirnya Ustadz Hilman mengajak pemabuk itu pergi ke masjid. Disana Ustadz Hilman menjelaskan bahwa sesuatu yang bikin fly lebih dari mabuk itu bukan minuman melainkan berdzikir dengan mengucap Astaghfirullahaladzim.

Sambil menggoda pemabuk tadi Ustadz Hilman mengajak untuk mengucapkan istighfar.

“Mang, coba baca istighfar sambil inget dosa, pasti deh bikin fly.” Ujar Ustadz Hilman.

Astaghfirullahaladzim,kok biasa aja tadz?” tanya si pemabuk.

“Eh bacanya dari hati atuh, inget dosa kamu yang numpuk.” Lanjut Ustadz Hilman.

“oia siap siap tadz. Dosa saya kan banyak, Astaghfirullahaladzim. Wah tadz, bener nih fly banget. Sekali lagi ah, Astaghfirullahaladzim. Asli tadz fly-nya melebihi mabuk. Nikmat.” Ujar si pemabuk dengan senangnya.

“Kalo gitu mulai sekarang ganti mabuknya sama baca istighfar yah. “Tegas Ustadz Hilman.

Dengan cara yang sangat berbeda, Allah hadirkan hidayah bagi si pemabuk dan kini benar-benar bertobat. Saya sendiri sudah bertemu langsung dengan orang tersebut yang kini sebagian waktunya sering dihabiskan di masjid.

Apa yang Ustadz Hilman lakukan menjadi teladan bahwa dakwah pun ada caranya. Dalam ilmu NLP, beliau mempraktekan teknik pacing-leading. Pertama, Ustadz Hilman mengikuti apa maunya si pemabuk sampai beliau pun pura-pura mabuk. Akhirnya si pemabuk merasa bahwa Ustadz Hilman adalah teman. Itulah yang disebut pacing.

Setelah pacing, barulah melakukan leading. Ustadz Hilman akhirnya mengajak pemabuk pergi ke masjid untuk melakukan mabuk yang nikmat banget. Inget loh, bahasa yang beliau gunakan adalah “mabuk”, padahal aslinya adalah dzikir.

Sungguh pelajaran luar biasa yang saya dapatkan dari beliau. Di akhir cerita, beliau menyampaikan bahwa kunci suksesnya adalah selalu berhusnudzhan. Setiap orang itu baik, hanya saja ada beberapa momen yang khilaf. Dengan modal itu, beliau selalu bahagia saat berdakwah. Alhamdulillah dengan bermodalkan husnudzhan, banyak orang yang tersentuh dengan lebih mudah.

Saya sendiri merupakan salah satu orang yang merasakan hal tersebut. Siapa pun Anda yang membaca tulisan ini, yuk mulailah setiap kebaikan kita dengan selalu berhusnudzhan. Percayalah bahwa Allah selalu membantu hal baik yang kita kerjakan.

Jadikan husnudzhan sebagai strategi dakwah kita sampai akhirnya husnudzhan menjadi gaya hidup kita. Selamat berprasangka baik pada semua orang.

@FauziNoerwenda

Sepak Bola dan Kebersamaan

Sepak Bola dan Kebersamaan

“Kekuatan hebat dalam sebuah tim dalam mencapai tujuan adalah KEBERSAMAAN” 

Sepak bola adalah olahraga yang sangat disukai masyarakat. Sepak bola sudah menjadi olahraga favorit bagi setiap negara dibelahan dunia ini. Hegemoni masyarakat dengan sepak bola tak bisa diragukan lagi. Dari mulai nonton di TV sampai ke stadion pun dilakukan. Bahkan ada yang sampai rela menghabiskan waktunya hanya untuk sepak bola.

Apa sih sisi menarik sepak bola sampai masyarakat menyukai olahraga tersebut? Dalam tulisan ini saya tidak akan menjelaskan tentang filososfi sepak bola. Namun saya hanya akan mengangkat satu hal yang membuat permainan sepak bola semakin berarti. Hal ini saya sendiri rasakan karena sepak bola adalah salah satu hobi yang juga saya sukai.

Sepak bola adalah olahraga yang melibatkan banyak orang, tepatnya 11 orang. Untuk menjadi sebuah tim yang solid tentu sangat diperlukan kerja sama tim yang oke. Hal itu hanya akan terwujud saat masing-masing pemain merasakan yang namanya kebersamaan.

Kebersamaan adalah satu kata berjuta makna. Permainan sepak bola bisa menjadi media untuk mengikat kebersamaan. Saat saya masih sering bermain bola, hal yang sering ditekankan pelatih adalah kerja sama tim. Kunci dari kemenangan dalam sebuah pertandingan adalah kerja sama tim. Maka sepak bola bukan bicara soal individualisme, percuma skill melangit tapi kerja sama nol.

Siapa yang tak kenal Barcelona? Tim yang digadang-gadang menjadi salah satu tim terkuat yang ada di dunia. Barca mampu menampilkan permainan atraktifnya dengan kerja sama tim yang bagus. Walaupun kualitas pemain berbeda-beda, namun kebersamaan mampu menyatukan meraka menjadi sebuah tim yang sangat kuat di kancah persepakbolaan.

Secara naluriah, ternyata orang-orang pun lebih suka melihat pertandingan yang timnya sangat kompak dalam bermain. Ada seni yang membuat penonton semakin terhibur tatkala pertandingan menampilkan pertandingan yang syarat dengan kebersamaan. So, teamwork is the important thing in football.

Hal tersebut ternyata berlaku dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai makhluk sosial, kita tak bisa hidup sendiri. Selalu butuh peran orang lain dalam menjalani kehidupan. Kebersamaan adalah hal yang tak bisa dielakan lagi. Kebersamaan adalah kunci untuk membentuk kehidupan yang harmonis.

Bukan hal mudah untuk membentuk kebersamaan. Perbedaan karakter setiap orang membuat hal tersebut menjadi semakin menarik. Terkadang kita sendiri selalu memainkan ego sendiri dalam berinteraksi, tak ayal perdebatan selalu muncul. Kebersamaan itu muncul untuk menyatukan berbagai macam perbedaan.

Maka kunci untuk menerima semua perbedaan adalah dengan selalu berbaik sangka kepada setiap orang. Percayalah manusia adalah tempatnya salah dan khilap. Namun ingat bahwa manusia pun mempunyai kelebihan. Maka fokuslah pada kelebihan dan buatlah kebersamaan itu menjadi nyata.

Kebersamaan terbentuk karena seringnya kita bersama. Entah dengan jalan bareng, makan bareng bahkan sampai tidur bareng. Seringnya kita bersama akhirnya membentuk chemistry yang makin erat. Inilah awal mula kebersamaan itu terbentuk. Hal tersebut bisa diperkuat dengan selalu berhusnudzan agar apa pun yang kita lakukan selalu diawali dengan prasangka yang baik.

Yuk selalu berhusnudzan agar kebersamaan yang kita bangun makin bermakna dan hidup makin harmonis.

@FauziNoerwenda

 

Ketika Santri Jatuh Cinta

Ketika Santri Jatuh CInta

“Tiada KISAH paling indah, selain kisah kasih di PESANTREN -ala santri mimkho-

Cinta adalah sebuah kata yang memiliki berjuta makna. Cinta adalah sebuah kata yang mampu mengubah seseorang dari lemah menjadi berdaya. Cinta adalah anugerah yang Allah berikan pada setiap umat manusia. Hidup dengan cinta akan membuat waktu yang dilewati semakin indah tak terasa. Sungguh, itulah keagungan cinta yang terlahir secara alamiah dalam setiap manusia.

Namun sungguh ironis, di zaman sekarang ini cinta sudah memiliki penyempitan makna. Cinta diartikan hanya sebatas perasaan kepada lawan jenis. Alhasil sikap seseorang dalam menyikapi cinta pun menjadi berbeda. Semakin banyak orang yang memahami bahwa cinta hanyalah urusan dengan lawan jenis. Sedih rasanya, karena yang menjadi korban adalah anak-anak muda zaman sekarang. Hei! Makna cinta tidak sesempit itu kawan.

Makna cinta itu luas. Betapa sayangnya Allah kepada setiap makhluknya, itulah cinta. Manusia dengan berbagai macam dosa-dosanya namun masih Allah ampuni, itulah cinta. Perjuangan Rasulullah dalam memperjuangkan islam sampai mengorbankan dirinya, itulah cinta. Perjuangan orang tua dalam mendidik anak-anaknya, itulah cinta. Cinta adalah anugerah yang hadir untuk menjadi pelangi keindahan dalam kehidupan manusia. Lantas mengapa kita masih menyempitkan makna cinta?

Saya sendiri pernah salah dalam mengaktualisasikan kata cinta. Kesalahan sikap yang saya lakukan tentu berujung dengan salahnya menyikapi cinta. Salah satu hal yang menjadi faktornya adalah salahnya media dalam belajar arti cinta yang sesungguhnya. Televisi adalah salah satu media yang menjadi tontonan banyak orang. Banyaknya acara TV yang tidak berbobot berdampak pada gaya hidup anak muda yang tidak karuan. Termasuk dalam persoalan cinta. Kini tontonan malah menjadi tuntunan.

Sampai akhirnya saya belajar banyak tentang makna cinta saat menjadi santri di PPM Miftahul Khoir Bandung. Awalnya tak ada rasa yang berbeda, dari hari ke hari yang dilalui adalah ta’lim. Hingga saya menyadari bahwa banyak santri yang sudah memaknai cinta dengan sebenar-benarnya cinta. Betapa banyaknya santri yang tadzim ke pesantren sampai rela bersih-bersih masjid, membantu ustadz, menjemput ustadz, mensyiarkan pesantren, ternyata itulah cinta.

Tiada kisah paling indah selain kisah kasih di pesantren. Apapun kegiatannya selalu dilakukan bersama, bahkan bercandanya pun menjadi cinta. Aha moment akhirnya saya sadari. Iya, inilah cinta. Bukan hanya sekedar cinta kepada lawan. Namun cinta yang berujung pada keridhoan Allah. Itulah cinta sejati.

Lalu bagaimana dengan cinta kepada lawan jenis? Apakah itu salah? Tidak, itu pun betul. Cinta adalah anugerah yang Allah berikan. Maka saat kita ada rasa yang berbeda saat bertemu lawan jenis, artinya kita manusia normal. Tinggal bagaimana penyikapan kita saat cinta kepada lawan jenis itu hadir.

Yang perlu sama-sama kita sadari bahwa cinta bukanlah tujuan. Cinta adalah alat, sementara tujuan adalah keridhoan Allah. Maka aktualisasikanlah cinta untuk mencapai keridhoan Allah. Bagaimana caranya? Sebetulnya gampang saja, kalo konteksnya dengan lawan jenis, tinggal direnungi saja apakah aktualisasi cinta kita sudah selaras dengan tujuan atau belum.

Berbicara cinta selalu luas seakan tak ada ujungnya. Hidup memang tak akan lepas dari yang namanya cinta. Untuk itu mari kita hadirkan cinta dalam setiap aktivitas kita. Hadirkanlah cinta dengan sebenar-benarnya cinta. Saat beribadah, hadirkanlah cinta. Saat bekerja, hadirkanlah cinta. Saat bercanda, hadirkanlah cinta. Saat bermain, hadirkanlah cinta. Percayalah, saat semua kegiatan yang kita kerjakan dilandasi cinta, maka kita akan merasakan kegiatan yang selalu membahagiakan dalam hidup. Apalagi kalo tujuan cintanya adalah keridhoan Allah. Ini baru so sweet yang paling so sweet.

Jadi, siap untuk menghadirkan cinta dalam setiap kegiatannya?

@FauziNoerwenda

Coretan Emosi

Coretan Emosi CT

“Tulisan adalah media untuk menyalurkan emosi dan perasaan seseorang” 

Suatu sore di Pesantren Miftahul Khoir, saya bermain bersama anak-anak kecil disana. Begitu lugu dan menggemaskan melihat tingkah anak-anak yang murah senyum tersebut. Sejenak saya berpikir sambil mengulang masa lalu, ‘’ternyata begitu membahagiakan yah menjadi anak-anak, bermain dan terus berbahagia”.

Masa kanak-kanak memang masa yang sangat menyenangkan. Pakar parenting pun mengatakan bahwa anak-anak adalah fase yang sangat ideal untuk belajar, mereka akan mudah menyerap informasi yang didapatkan. Apapun akan ia serap, untuk itulah perlu adanya pengawasan dari orang tua.

Lucunya saat saya bermain dengan anak-anak, saya melihat mereka berantem sampai ada yang menangis. Disitulah saya harus berperan bagaimana membuat anak kembali tertawa dan berdamai kembali. Cukup sulit ternyata untuk membuat anak kembali tertawa. Dari situ saya kembali berpikir, betapa luar biasanya peran orang tua yang mampu mendidik anak-anaknya sampai sukses.

Baru beberapa menit mereka berantem, eh tahunya udah langsung akrab lagi. Padahal baru keluar air mata, eh sekarang malah sudah tertawa lagi. Anak-anak memang mudah cepat berubah emosinya. Itulah anak-anak yang sangat berbeda dengan orang dewasa. Hari ini memang berantem, boleh jadi besoknya sudah akrab lagi.

Bagi anak-anak, emosi akan mudah berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi pada saat itu. Anak-anak pun tidak menyimpan emosi negatif dalam diri. Semua yang anak-anak rasakan langsung mengalir saat itu juga. Baik senang, sedih, marah, semua terjadi saat itu juga. Makanya wajar tak akan ada dendam sekalipun berantem.

Berbeda dengan orang dewasa, emosi menjadi salah satu faktor yang membuat hidupnya berwarna. Saat marah, maka emosinya akan tersimpan lama. Saat bahagia, emosinya bisa terus terbawa lama. Orang dewasa bisa memainkan emosi.

Namun saat emosi negatif melanda, biasanya akan berdampak pada sikap yang kurang baik. Orang yang tidak bisa mengendalikan emosinya, maka akan dikendalikan oleh emosi. Banyak orang yang marah, pada akhirnya membenci orang lain. Sampai-sampai banyak remaja yang tawuran hanya karena tidak mampu mengendalikan emosinya.

Lantas bagaimana cara untuk mengendalikan emosi negatif yang seringkali membuat kita terpuruk? Perlu sama-sama kita pahami, bahwa emosi bisa kita kendalikan dan juga kita salurkan. Banyak yang akhirnya tidak bisa mengendalikan emosi karena tidak mampu menyalurkan emosi negatif tersebut.

Banyak cara untuk menyalurkan emosi. Salah satu cara yang paling membuat saya nyaman adalah dengan menulis. Kok bisa dengan menulis? Saat menulis, kita melibatkan otot-otot serta emosi yang terjadi pada saat menulis. Emosi negatif bisa disalurkan dengan menuliskannya. Alirkan emosi negatif dengan menuliskan kekesalan pada secarik kertas. Perlahan emosi tersebut bisa mengalir.

Banyak penulis yang sudah membuktikan hal tersebut. Rekan saya alumni TBnC Akademi Trainer bernama Rindu Ade adalah salah satu contohnya. Beliau mampu menyalurkan emosi melalui tulisan. Bahkan saluran emosinya menghasilkan banyak buku best seller dan menjadikan beliau sebagai seorang penulis. Beliau sering berbagi bahwa menulis bisa dilakukan untuk penyembuhan.

Cara tersebut akhirnya saya buktikan sendiri. Setiap emosi saya naik, maka tulisan yang saya buat semakin bermakna. Silahkan Anda coba sendiri untuk menuliskan emosi Anda melalui tulisan. Jika emosi terus mengendalikan Anda hingga membuat hidup Anda terpuruk, maka mulailah mengendalikan emosi dengan coretan-coretan emosi dalam bukumu. Cobalah alirkan emosimu.

@FauziNoerwenda

Menjadi Santri adalah Amanah

Santri

“Tak ada lagi pekerjaan yang paling membahagiakan selain menjadi SANTRI” –Hilman Miftahurrojak-

Sejak kecil saya tumbuh dan belajar bagaimana caranya agar kelak menjadi orang besar. Tantangan hadir agar saya mampu melewati berbagai macam ujian demi ujian. Sekolah formal menjadi pilihan wajib yang harus saya tempuh demi tercapainya impian tersebut. Maka saat ada selentingan dari keluarga untuk pesantren, saya tolak mentah-mentah hal tersebut.

Alasan yang membuat saya enggan untuk pesantren adalah citra pesantren dalam pandangan saya kurang baik. Pesantren itu kotor, santrinya jorok dan keluar dari pesantren gak akan bisa sukses seperti yang dari sekolah formal. Pada akhirnya saya harus membuktikan diri bahwa sekolah formal memang sangat bagus.

Hingga suatu ketika saat harus berkuliah di Bandung, ada satu momen yang membuat hati saya gundah. Sejak SD sampai kuliah saya terus mengejar akademik yang tinggi, lalu setelah itu apa lagi? Bahkan saat kuliah saya mencoba sambil berbisnis dan menulis buku, lalu apa lagi?

Pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya setiap waktu. Ada satu perasaan yang nampaknya belum terpuaskan dengan pencapaian saya selama ini. Ternyata bukan menjadi orang paling pintar, bukan menjadi orang yang paling kaya, bukan pula menjadi orang terpandang, bukan itu ternyata. Lalu apa?

Jeritan hati itu terus menjadi momok yang membuat saya semakin gelisah akan perjalanan hidup yang saya lewati. Hingga Allah memberikan jawabannya dari sebuah tempat yang pada awalnya sangat saya benci. Tempat itu bernama pesantren.

Memasuki tingkat tiga perkuliahan, saya bertemu dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di daerah Dago, Bandung. Entah seperti apa proses munculnya hidayah itu, yang jelas akhirnya saya memutuskan untuk menjadi santri sekaligus mahasiswa di PPM Miftahul Khoir.

Kehadiran Miftahul Khoir dalam kehidupan saya saat itu juga langsung mengubah sudut pandang saya terhadap pesantren. Ternyata apa yang saya katakana dulu itu salah. Pesantren tidak seperti itu. Justru pesantren itu sangat bersih, rapi, bahkan pesantren adalah tempat yang tepat untuk mengantarkan kita pada kesuksesan yang sebenarnya.

Jawaban pun saya temukan dari ta’lim yang saya ikuti disini. Cita-cita tertinggi itu bukanlah cita-cita dunia. Cita-cita tertinggi itu adalah meraih ridho Allah. Adapun pekerjaan, visi adalah alat untuk menggapai ridho Allah tersebut. Maka tak peduli apa pekerjaanmu, dimana sekolahmu, yang penting jadikan semua itu sebagai piranti ibadah untuk menggapai ridho Allah.

Disela-sela perjalanan baru sebagai seorang santri. Ada satu hal yang membuat saya semakin bangga menjadi santri. Menjadi santri itu istimewa. Tak semua orang bisa menjadi santri. Menjadi santri adalah amanah. Maka jagalah amanah itu dengan baik. Jadilah santri yang kelak bisa bermanfaat bagi masyarakat.

Hal tersebut dikuatkan saat mengikuti ta’lim rutin yang diisi oleh Ustadz Ajil Yumna Al-Qurtubi. Intinya adalah, ‘’barang siapa orang yang tidak bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pengabdian diri kepada Allah, padahal nikmat yang diberikan Allah terus menerus dan tidak berhenti, maka hidupnya akan dibelenggu oleh rantai-rantai cobaan baik jasmani, rohani, harta benda, wibawa atau yang lainnya”

Saya semakin percaya bahwa tidak ada yang kebetulan terjadi muka bumi ini. Allah sudah mengatur setiap skenario dengan begitu indahnya. Awalnya benci, kini menjadi cinta. Saya niatkan untuk melakukan pengabdian dengan menjadi seorang santri yang akan terus belajar hingga menjadikan semua hal yang saya lakukan sebagai piranti ibadah demi menggapai ridho Allah SWT.

@FauziNoerwenda

Be Soar, Be Challenger

Be Soar, Be Challenger

“Jadilah pribadi yang bermimpi besar dan yakinlah dengan setiap mimpimu, be soar, be challenger!” -Hendrati Dwi Mulyaningsih-

“Zi, siap yah tahun depan ke luar negeri. Yang deket dulu aja deh Malaysia, ok!” Kata-kata yang penuh dengan energi lahir dari sosok guru yang sangat inspiratif. Kata-katanya mampu menggerakan diri saya untuk mewujudkan satu impian yang awalnya saya sendiri tidak yakin. Alhamdulillah, melalui beliau saya mempunyai kekuatan yang lebih sehingga berani melakukan hal yang beda. Beliau adalah sosok guru sekaligus mentor yang tahu cara memberdayakan potensi setiap mahasiswanya. Terima kasih Bu Hendrati Dwi Mulyaningsih.

Menjelang tingkat terakhir kuliah, Alhamdulillah saya mendapat kesempatan untuk banyak berinteraksi dengan Bu Hendrati. Selain karena visi yang sama juga karena beliau menjadi dosen pembimbing untuk skripsi. Kebersamaan dengan beliau menghadirkan banyak pembelajaran yang awalnya sering saya abaikan. Hal terpenting yang beliau ajarkan bagaimana agar kita mampu mengoptimalkan diri untuk melakukan hal-hal yang luar biasa.

Pada dasarnya setiap orang sudah dilengkapi dengan berbagai macam fitur yang bisa digunakan dengan berbagai macam kondisi. Hanya saja kita belum mampu untuk mengoptimalkan hal tersebut. Salah satu hal yang menjadi penghambatnya adalah rasa takut akan gagal. Masih banyak diantara kita yang tidak berani melakukan hal besar karena takut dengan kegagalan. Padahal apapun yang kita kerjakan adalah proses belajar yang konsekuensinya adalah berhasil atau gagal. Bahkan gagal pun adalah proses pembelajaran yang kalo kita sikapi dengan baik akan menjadi sebuah kekuatan luar biasa untuk masa yang akan datang.

Dari Bu Hendrati saya belajar bagaimana kita menyikapi suatu keadaan dalam hidup. Pada kenyataannya banyak orang berpotensi seperti kaya, cerdas dan lainnya namun tidak mampu menggunakan potensinya. Ternyata itu semua karena sikap kita yang menganggap itu bukan hal yang luar biasa. Sementara ada orang yang biasa-biasa saja, namun mampu menyikapi dirinya dengan baik, maka orang seperti inilah yang pada akhirnya terus maju dan melangkah ke depan. Akhirnya saya buktikan sendiri dengan menerima tantangan dari Bu Hendrati untuk ke luar negeri tahun 2014. Dengan modal nol saya berusaha mewujudkan impian tersebut. Dengan bimbingan beliau, Alhamdulillah saya menemukan jalan untuk ke Malaysia melalui sebuah event konferensi internasional.

Sejak saat itu saya semakin percaya bahwa Allah selalu membantu setiap hamba yang berdoa dan berikhtiar, tinggal bagaimana kita mau atau tidak. Pelajaran yang saya ambil dari beberapa kesempatan dengan Bu Hendrati adalah jiwanya yang selalu semangat untuk berbagi dengan banyak orang. Satu sikap lagi yang membuat impian lebih mudah tercapai adalah sikap untuk berbagi kesuksesan bersama. Kalo bisa sukses sama-sama, kenapa harus sukses sendiri?

So guys, sudah siap bersikap positif dan melakukan hal yang berbeda? Lets act, be soar and be challenger!

@FauziNoerwenda