Izinkan Aku Menjadi Santri  

Santri Mahasiswa

“Apapun pekerjaan yang kita lakukan, selama tujuan akhirnya mencari ridho Allah maka pekerjaan tersebut menjadi baik”

Sebuah kalimat sakti yang saya dapatkan dari guru saya di pesantren dan terus membuat saya berpikir apakah pekerjaan yang selama ini saya lakukan bermuara pada ridho Allah?

Hari demi hari terus saya lewati dan berujung pada sebuah kegelisahan. Entah apa yang membuat diri merasa khawatir. Padahal setiap harinya saya berkutat dengan hal yang memang saya sukai. Saya sudah memilih berkontribusi di bidang personal development. Namun kegelisahan itu terus hadir.

Hingga akhirnya saya mulai menyadari saat mendapat kesempatan untuk melakukan konsultasi dengan guru saya di pesantren. Pada intinya saat tujuan akhir kita adalah ridho Allah, maka jalan yang ditempuh pun akan sangatlah membahagiakan. Lalu kalo niat kita untuk mencari ridho Allah, mengapa hati tetap gelisah? Bisa saja niat kita beraktivitas adalah mencari ridho Allah, tapi bagaimana dengan cara yang kita tempuh?

Pertanyaan terakhir membuat saya malu. Selama ini saya selalu fokus untuk menggapai mimpi untuk menjadi seorang trainer muda internasional. Apapun saya lakukan untuk mencapainya, bahkan ketika ada training yang bentrok dengan jam ta’lim di pesantren, saya lebih memilih training. Alhasil pesantren di nomer sekiankan. Bukankah niat training saya untuk membantu banyak orang dan menggapai ridho Allah? Iya betul, tapi bagaimana dengan izin bahkan bolos ta’lim berulang kali?

Finally, saya sadar selama ini saya seringkali membuat Allah kecewa karena seringkali saya bolos ta’lim demi melakukan hal yang lain. Hal itulah yang menjadi penyebab kegelisahan dalam diri.

Rasanya ingin sekali berteriak untuk mengungkapkan semua rasa syukur dan bahagia atas semua hal yang telah Allah berikan dalam kehidupan saya. Noda hitam dalam diri Allah bersihkan dan mengizinkan saya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Allah pertemukan saya dengan PPM Miftahul Khoir tempat dimana saya bisa belajar agama. Melalui pesantren pula saya bisa memperbaiki hubungan dengan orang tua. Melalui pesantren pula Allah pertemukan saya dengan guru-guru hebat yang senantiasa memberikan ilmu kepada santrinya.

Terkadang diri merasa malu, apa yang bisa saya lakukan untuk berkontribusi di pesantren? Salah seorang sahabat saya yang juga santri yaitu Kang Iril mengatakan berikanlah kontribusi yang memang bisa kalian lakukan. Banyak hal yang bisa kita lakukan, seperti bersih-bersih pesantren, bantu ustadz, ta’lim rajin atau apapun yang bisa membuat pesantren makin baik. Lakukanlah apapun yang bisa kalian lakukan untuk kebaikan pesantren. Sejak itu saya berpikir dan mulai meluruskan niat ingin berkontribusi dengan rajin ta’lim serta menulis artikel tentang pengalaman di pesantren. Alasan saya menulis artikel ini pun agar kelak jika saya melakukan kesalahan yang sama, kalian khususnya rekan-rekan saya bisa mengingatkan saya.

Salah satu alasan lain yang memperkuat diri untuk terus ta’lim adalah soal pasangan hidup. Bukankah diantara kita pun mau dan berniat untuk menikah? Lalu bukankah kita ingin mendapat jodoh terbaik? Sederhananya untuk mendapat jodoh terbaik itu maka kita harus menjadi yang terbaik pula. Misal, kita punya calon seorang akhwat yang sholehah dan berniat menjadi seorang penghapal al-qur’an. Sementara diri kita saat ini adalah seseorang yang biasa aja. Bahkan ngaji aja jarang. Kira-kira pantes gak buat dapetin akhwat tersebut? Hhhhmmm saya pribadi merasa malu. Mana mungkin seseorang yang biasa saja bisa mendapat akhwat baik seperti itu. Namun nasihat luar biasa hadir dari guru saya, Ustadz hilman. Pantaskanlah diri agar bisa mendampingi akwat yang baik. Itu ternyata caranya. Maka siapapun yang baca artikel ini, pantaskanlah diri Anda agar Anda bisa berdampingan dengan jodoh impian Anda kelak.

Lalu bagaimana cara saya memantaskan diri? Jawabannya ya NGAJI. Alhamdulillah saat ini saya masih tinggal di pesantren. Maka saya niatkan untuk bener-bener fokus ta’lim. Apapun kegelisahan yang mendera dalam diri akan mudah hilang saat kita dekat dengan Allah. Ngaji atau ta’lim adalah media yang dapat mendekatkan diri kita dengan Allah. Banyak pula kegelisahan dalam hidup terjadi karena kita tidak pernah belajar atau tidak mempunyai ilmu khususnya ilmu agama. Maka ta’lim adalah salah satu media untuk mendapat ilmu agama.

Ya Allah, ridhoi hamba untuk menjadi seorang santri yang akan terus rajin ta’lim di pesantren. Ya Rabb, Engkau yang memiliki skenario hidup, jadikanlah hamba seseorang yang bisa istiqomah untuk ta’lim. Jadikan ta’lim sebagai media bagi hamba untuk memantaskan diri sehingga bisa menjadi anak yang berbakti dimana doa-doanya akan terus mengalir khusunya untuk kedua orang tua. Jadikan pula ta’lim sebagai media bagi hamba untuk memantaskan diri agar kelak saya pantas mendampingi pasangan hidup yang Engkau berikan. Ya Rabb, IZINKAN AKU MENJADI SANTRI.

Visit –> ppmmiftahulkhoir.com

Santri Kehidupan  

Pesantren Mahasiswa Di Bandung

Saat mendengar kata santri, maka kata yang paling pas untuk mendampingi kata tersebut adalah PESANTREN. Siapa yang tak kenal pesantren? Sebagai salah satu pusat pendidikan islam, pesantren selalu mengkader calon ulama-ulama besar di Indonesia. Pesantren bahkan menjadi tolak punggung yang berperan besar dalam memerdekakan Negara Indonesia. Namun tahukah Anda bagaimana pesantren mampu melakukan hal tersebut?

Sejujurnya ada banyak hal yang bisa kita pelajari. Namun kali ini saya akan membahas mengenai salah satu sifat santri, yaitu pembelajar. Sebagai seorang santri, tentunya belajar adalah hal yang paling utama. Tidak ada hal lain yang bisa menjadi fokus utama selain belajar. Saya sendiri belum pernah merasakan mondok yang full karena dulu memang tidak ada niat untuk pesantren. Namun saat kuliah, Allah menuntun saya hingga bertemulah dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di Bandung. Hal inilah yang membuat saya mempunyai cerita baru yang beraroma pesantren.

Salah seorang ustadz di pesantren mengatakan bahwa santri itu adalah pembelajar. Jadi kalo santri salah itu wajar karena sedang belajar. Jadi manfaatkan waktu belajarnya dengan baik. Alhasil bisa kita lihat, santri yang mondok di pesantren itu bukan setahun, dua tahun. Tapi hingga belasan tahun. Waw superkan? Lalu apa yang mereka perbuat? Yah belajar. Alhasil banyak bermunculan orang-orang hebat yang merupakan jebolan pesantren. Dalam kawah candradimukan mereka berproses dengan sabar hingga akhirnya menjadi seorang Bintang Kehidupan.

Kalo saya berkaca pada diri, terkadang menjadi merasa malu. Diri ini baru sebentar sekali belajar tapi sudah sok bisa. Bahkan suka merasa ngakak kalo inget zaman kuliah dulu. Sewaktu jadi mahasiswa, saya ingat betul bagaimana saya idealis yang tanpa ilmu. Hihi. Jadinya sekarang malu sendiri. Nyadar banyak omong tanpa ilmu itu kosong. Makanya musti terus belajar tanpa henti.

Aktivitas saya di dunia training pun membuat saya harus terus belajar. Maka rasa syukur saya terus panjatkan karena Allah masih meridhoi saya untuk terus belajar. Seyogyanya, siapapun dan apapun profesi kita, mari kita sama-sama menjadi santri kehidupan yang terus mau belajar untuk meningkatkan level kualitas diri kita.

Lalu bagaimana cara kita belajar? Banyak media yang bisa kita gunakan untuk belajar. Namun alangkah lebih baik lagi kalo kita mempunyai seorang guru. Dengan begitu akan ada orang ahli yang membimbing kita dan mengarahkan jikalau kita membuat kesalahan. Guru yang membuka pintu, namun kitalah yang melangkah.

Siapapun Anda yang membaca tulisan ini, marilah kita menjadi seorang santri kehidupan. Walau Anda sudah expert di bidang yang geluti, namun proses BELAJAR tidak akan pernah berhenti. Menjadi pintar saja tidak cukup, karena banyak orang pintar yang akhirnya mondok di penjara. Maka jadilah pribadi bijak yang mampu menyikapi setiap permasalahan dengan baik dan adil. Dan proses menyikapi tersebut bisa terjadi saat ilmu kita terus bertambah. Maka teruslah belajar dan jadilah SANTRI KEHIDUPAN.

Follow me @FauziNoerwenda