The King Maker

King Maker

Beberapa minggu ke belakang saya mencoba untuk merenung atas setiap kisah dalam kehidupan. Rasanya penuh dengan makna dan misteri. Mencoba menguak tabir diri atas peran apa sajakah yang sudah saya berikan pada banyak orang.

Perlahan, Allah mulai menuntun saya untuk menemukan jawabannya. Awal tahun 2012, saya mulai memfokuskan untuk menggeluti peran baru sebagai trainer. Inilah peran terbaik yang saya miliki karena bisa berbagi dengan banyak orang.

Seiring berjalannya waktu, peran tersebut makin mengkerucut. Peran sebagai trainer pun masih sangatlah luas. Hingga akhirnya akhir tahun 2014 saya melakukan tes stifin dan mendapat hasil Feeling Ekstrovert. Awalnya sempat ragu, kenapa Feeling Ekstrovert? Saya lebih yakin hasilnya Feeling Introvert, mengingat betapa bahagianya ketika saya tampil di depan umum. Sementara Feeling Ekstrovert itu dikenal dengan The King Maker. Benarkah saya The King Maker? Namun, saya coba terima hasil tersebut sembari menganalisis dari setiap hal yang sudah saya kerjakan.

Dimensi kehidupan terus berputar yang akhirnya membuat saya mampu memutar memori indah yang terjadi beberapa tahun silam. The King Maker! Saya menemukan padanan yang tepat yang menggambarkan kata The King Maker tersebut.

Saat masih duduk di bangku kuliah, saya sempat menjabat sebagai ketua lembaga dakwah kampus. Sebagai ketua saya mempunyai peran untuk mengelola anggota tim saya. Dan yang membuat saya makin tercengang adalah begitu banyaknya anggota tim saya yang berprestasi di setiap bidang yang mereka geluti. Dengan metode yang saya berikan, mereka mampu mengikuti dan akhirnya mampu menjadi bintang. Maka kata The King Maker itu makin membuat saya yakin bahwa memang itulah peran saya.

Hingga saya semakin menyadari ketika saya membuat status facebook yang isinya:

“Kebahagiaan terbesar bukan hadir karena prestasi kita melangit, namun karena mampu melihat orang lain lebih sukses dari pada kita. Setahun lalu saya berhasil masuk konferensi internasional dan merasakan panggung internasional pertama. Momen tersebut berhasil karena saya dibantu oleh guru saya yang keren abis yaitu bu Hendrati Dwi Mulyaningsih Yani. Beliau mengarahkan saya hingga akhirnya menjadi pelopor di kampus. Dan setelah jadi alumni, dapat kabar kece abis, Ternyata mahasiswa STIE Ekuitas sekarang mulai banyak banget yang ke luar negeri untuk ikut konferensi. Dari mulai Gina N. Yuniar yang ke Jepang, lalu Luailush Sholihah Revaduseuri dan bareng Gina lagi berangkat ke Kuala Lumpur. Selanjutnya yang akan berangkat adalah Galih Prakoso dan Asifa Fitriani ke Singapura. Terakhir dua saudara kembar Sinta Kemala Asih dan Santi Mutiara Asih yang akan ke Korea. Alhamdulillah mereka semua berkarya, luar biasnya mereka semua adalah anak LDK Formais Ekuitas

Yah akhirnya saya semakin menyadari peran apakah yang akan saya ambil sebagai seorang trainer. The King Maker, itulah peran yang akan saya lakukan. Terima kasih stifin, kau membuat hidupku makin GUE BANGET.

So guys, sudahkah Anda berperan sesuai dengan kekuatan terbaik Anda? Jika sudah, mari berbuat yang terbaik untuk kebermanfaatan. Salam Sukses Mulia.

Fauzi Noerwenda

https://twitter.com/FauziNoerwenda

https://www.facebook.com/fauzi.noerwenda

Advertisements

Dimanakah cinta ini berlabuh?  

Arti Cinta

Cinta…

Sebuah kata sederhana namun syarat makna.

Cinta…

Sebuah kata yang mampu mengubah pecundang menjadi jagoan.

Cinta…

Sebuah kata yang acapkali membuat kita menangis, bahagia bahkan marah.

Lantas apa itu cinta?

Cinta adalah sebuah rasa yang hadir mengalir dan tulus. Layaknya cinta Allah kepada makhluknya. Cinta orang tua kepada anaknya. Bukankah itu sebuah bentuk cinta yang tulus?

Namun kini banyak orang yang mengkerdilkan arti cinta. Cinta yang kita pahami hanya sebatas cinta kepada lawan jenis. Maka konteksnya, cinta seperti itu hanya akan terwujud dengan sebuah kata yang bernama pacaran.

Sejujurnya saya sengaja menulis artikel ini karena diri sedang merasa gundah. Maka menulis adalah salah satu cara agar kegundahan itu mengalir dan berganti dengan energi positif.

Jika waktu kembali diputar, banyak sekali penyesalan yang saya rasakan hanya karena salah mengartikan arti cinta. Beruntung Allah masih membimbing saya dan membantu saya hingga mengalami titik balik kehidupan. Tak bisa kita pungkiri, gejolak kawula muda dengan kata cinta sangatlah membara. Sehingga pandangan kita tak akan asing lagi saat banyak kaum muda yang menghabiskan waktunya dengan pacaran.

Sejujurnya saya pun menyadari, salah satu kemaksiatan yang secara sadar saya lakukan yaitu berkaitan dengan nafsu terhadap lawan jenis. Akhirnya diri ini terus berjuang agar hawa nafsu ini dapat saya kendalikan. Entah mulai dari mana, namun akhirnya saya menemukan sebuah solusi. Inilah solusi jitu agar kita bisa menjaga kemurnian kata cinta, solusi tersebut bernama PERNIKAHAN.

Sejak MOVE UP di tahun 2012, saya berniat untuk menemukan pasangan hidup saya di bulan November 2014. Dalam diam saya mencoba mengungkapkan sebuah rasa dan doa kepada Sang Pemilik Cinta. Seiring berjalannya waktu, ternyata niat saya itu belum terwujud. “Kok kamu belum menikah zi? Bukannya targetmu  tahun 2014?” Tanya salah seorang sahabat saya.

Saya berpikir dalam diam mengapa belum terjadi juga. Akhirnya ada seseorang yang memberitahu bahwa wajar saja saya belum menikah, toh target di bulan November 2014 itu adalah MENEMUKAN bukan menikah. Haha ia juga sih, memang ucapan adalah doa.

Tapi tahukah yang terjadi dengan target saya? Ternyata tepat di akhir tahun 2014 saya MENEMUKAN seseorang yang saya harapkan. Dialah sosok yang selalu ada dalam doa-doa saya. Apakah dia jodoh yang Allah berikan? Belum tentu juga, hal itu hanya akan terbukti saat akad sudah terucap.

Pelabuhan cinta terus ku cari. Berat rasanya menjaga diri agar senantiasa taat. Ya Allah diri ini hanya ingin menjadi hamba yang taat. Diri ini hanya ingin menjaga kemurnian cinta ini. Maka saya berdoa Ya Rabb, semoga impian saya untuk memurnikan cinta dapat terwujud dengan bahtera pernikahan di tahun 2015 ini. Aamiin.

Sambil menunggu hal itu tiba, saya akan senatiasa memantaskan diri agar calon bidadari yang datang nanti adalah seseorang yang memang pantas untuk kulabuhkan cintaku padanya.

Saya percaya, siapapun bidadari surga yang akan mendampingi saya kelak adalah dia yang mempunyai visi hidup yang sama dan selalu meniatkan dirinya hanya untuk ibadah kepada Allah.

Saya pun ikut mendoakan agar niat kawan-kawan semua yang ingin menikah di tahun 2015 ini dapat terwujud. Aamiin.

Lantas dimanakah cintaku akan berlabuh? Mari kita sama-sama tunggu dalam ketaatan kepada Allah sehingga kita bisa meraih ridho illahi. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Follow me at twitter @FauziNoerwenda

Pesantren itu menjijikan…

Pesantren itu menjijikan!
Pesantren itu tidak menyenangkan!
Pesantren itu sangat membosankan!

Pesantren itu bla,bla,bla…

Sepertinya terlalu banyak hal negatif yang saya sematkan terhadap pesantren. Ya, itulah saya ketika masih kecil. Ketika masih kecil saya memang pernah disuruh pesantren, namun saya tolak dengan tegas dengan beberapa alasan yang saya sebutkan diatas.

Namun seiring berjalannya waktu, Allah balik semua asumsi tersebut 3600. Semua bermula di tahun 2012. Inilah momen yang mempertemukan saya dengan Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir Bandung. Tepatnya dibulan agustus 2012, untuk pertama kalinya saya menyandang status santri.

Lalu bagaimana dengan asumsi saya diawal tadi?

Yah, ketika pertama kali datang ke Mimkho, saya langsung jatuh hati karena udaranya yang sejuk serta lingkungannya yang bersih, jauh dari asumsi negative yang pernah saya utarakan dulu. Mimkho benar-benar bersih. Itulah yang akhirnya membuat saya langsung untuk memutuskan untuk mondok.

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir

Lantas apa yang terjadi saat akhirnya saya mondok?

SEMPURNA! Satu kata yang tepat untuk saya sematkan untuk pesantren. Mimkho benar-benar membuka mata hati saya. Pesantren yang pernah saya pandang dengan sebelah mata itu ternyata sangat luar biasa. SEMPURNA! Itulah kata yang pantas untuk disematkan.

Pesantren adalah suatu lembaga pendidikan yang benar-benar mengajarkan bagaimana caranya mencari ilmu. Banyak orang diluar sana saling bersaing untuk meraih prestasi sampai harus melawan dan tidak hormat dengan guru. Namun di pesantren kami diajarkan bagaimana takdzim terhadap guru. Sehingga rasa hormat kami sebagai murid terhadap guru akan senantiasa terjaga.

Ilmu adalah cahaya. Maka cahaya akan sampai pada orang-orang yang bersih. Maka senantiasa luruskanlah niat dalam mencari ilmu. Sekali lagi, pesantren mengajarkan saya banyak hal. Kebersamaan adalah hal yang tak akan pernah dari pesantren.

Baru-baru ini sistem pendidikan di Indonesia marak mengenalkan pendidikan karakter. Maka jauh sebelum itu, pesantren sudah hadir dengan sistem pendidikan karakter yang luar biasa. Jelas siapa lagi teladannya kalo bukan Rasulullah SAW yang sangat sempurna karakternya (akhlaknya).

Sungguh bersyukur Allah pertemukan saya dengan pesantren, dengan para ulama serta dengan para pembelajar. Hingga  impian saya semakin terwujud tatkala akhir desember 2014 saya bersama santri Miftahul Khoir berhasil menyambangi suatu daerah yang terkenal dengan sebutan kota santri, yaitu tasikmalaya.

Akhirnya kami berhasil mengunjungi beberapa pesantren di Tasik dan mendapat banyak pelajaran berharga dari perjalanan yang kami lakukan.

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Darul -Huda

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Suryalaya

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Miftahul Huda

Saya Santri Saya Bangga

Pesantren KH. Zaenal Musthafa Sukamanah

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Cipasung

Saya Santri Saya Bangga

Pondok Pesantren Miftahul Huda Nurul Qomar

Salah satu pelajaran yang akan selalu saya kenang dari perjalanan ke Tasik adalah perjuangan para santri yang rela mondok dan belajar ilmu agama. Mereka tau prioritas dalam hidupnya. Tentu hal ini membuat saya berpikir. Kemana aja selama ini? Saya hanya terfokus pada dunia dan dunia. Setidaknya kini saya menyadari dan akan menyeimbangkan diri untuk lebih baik.

Pernah nonton film “Sang Kyai”? Saya sangat merekomendasikan menonton film tersebut. Film tersebut menceritakan perjuangan para santri, ulama dan pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Gak salah tuh memperjuangkan kemerdekaan Indonesia? Hhhmmm, baru tau yah? Memang dalam sejarah yang kita pelajari di sekolah hal tersebut tidak diceritakan. Tapi ternyata setelah saya tahu, pesantren sangatlah berperan dalam kemerdekaan bangsa Indonesia.

*Hhhmmmm (menghela nafas). Jujur makin kagum sama pendidikan di Pesantren. Pokoknya terima kasih pesantren. Doakan sobat, salah satu impian terbesar saya adalah ingin membangun pesantren di Kampung halaman tercinta, Gunung goong, Kabupaten Sukabumi. Semoga doa pembaca semua menjadikan jalan agar kelak impian mulia ini dapat tercapai. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Nah sekian dulu untuk tulisan mengenai pesantren kali ini. Insya Allah nanti dilanjut. Besar harapan saya pembaca semua memberi masukan untuk tulisan ini. Dan jika kiranya bermanfaat, silahkan bagikan kepada teman-teman yang lainnya.

Terima kasih,

Fauzi Noerwenda