Saya santri dan saya bangga

Pesantren Mahasiswa di Bandung

Kawan-kawan, pernahkah anda mendengar pesantren? Lalu apa pendapat anda tentang tempat itu?

Saya ingin berbagi cerita tentang warna-warni kehidupan yang pernah saya alami. Saya dilahirkan disebuah kampung nan indah di Sukabumi yaitu Kampung Gunung Goong. Suasana kampung tentunya sangat damai dan tak lepas dari kegiatan keagamaan.

Sejak kecil saya tumbuh disana, bermain dan melewati hari dengan menyenangkan. Satu agenda wajib yang harus diikuti adalah pengajian yang dilaksanakan ba’da magrib. Dengan polosnya saya ikut saja. Belajar ngaji, sholat, hapalan, dan lainnya. Mungkin waktu kecil itu senang karena bersama dengan teman lainnya.

Bertambah usia membuat ilmu yang saya pelajari itu secara bawah sadar telah menjadikan modal bagi saya dalam hal agama. Bersyukur karena orang tua masih mementingkan ilmu agama bagi anak-anaknya.

Beranjak ke SD sepertinya mulai terjadi perpindahan paradigma. Orang tua saya sangat mementingkan pendidikan. Bahkan saya dituntut harus selalu menjadi juara kelas. Dan Alhamdulillah selama saya SD saya selalu naik panggung dan menjadi yang terbaik.

Masuk ke SMP pun tetap sama. Prioritas utama adalah sekolah. Cara mendidik orang tua yang disiplin dan tegas telah memudahkan saya untuk kembali menjadi yang terbaik selama SMP.

Lalu bagaimana dengan pengajiannya? Setiap ba’da magrib saya masih tetap mengaji walaupun saya saya sadari kini prioritas utama adalah sekolah. Suatu ketika saya teringat, namun lupa entah siapa yang bertanya kala itu. Ada yang bertanya pada saya mengapa tidak masuk pesantren?

Kala itu waktu SMP saya masih sangat senang bermain. Ketika ditanya tentang pesantren, jelas saja jawaban saya menolak. Buat apa pesantren? Apalagi kala itu orang-orang pesantren dikenal jorok dan banyak terkena penyakit kulit. Responku saat itu sangat buruk. Pada intinya tidak mau dan tidak akan pernah pesantren.

Waktu terus berlanjut hingga saya SMA dan akhirnya kuliah di Bandung. Paradigma dari orang tua yang menanamkan bahwa pendidikan itu nomer satu telah membuat saya berhasil di segi akademis. Sebuah prestasi bagi saya yang sangat membanggakan.

Hingga keadaan itu menjadi terbalik. Ayah yang sejak kecil hingga SMA selalu mengawasi saya, selalu bertindak tegas bagi saya, kini mulai memberikan ruang gerak. Kepercayaan pada saya yang telah membuktikan semua prestasi membuat saya kini diberikan kebebasan lebih.

Celakanya ini menjadi bumerang bagi saya. Kebebasan itu membuat saya menjadi tidak bisa mengontrol segala aktivitas. Dan akhirnya jatuh ke dalam perangkap kesia-siaan. Bandung kini menjadi tempat yang tidak bersahabat.

Sejak saat itu saya semakin sering melalaikan setiap waktu yang ada. Mengaji mulai terlupakan. Belajar pun menjadi tidak semangat dan semakin kacau. Puncaknya saat IPK saya terus mengalami penurunan. Sungguh sangat disayangkan.

Namun bak punduk yang merindukan bulan. Saya yang sejak kecil tak lepas dari pengajian, kini merindukan kembali hal itu. Rasa hampa yang sekarang dialami ingin segera dituntaskan. Perjalanan panjang itu namun tak jua menemui jawabannya. Hingga semua kesalahan itu memuncak. Hanya sedikit saja kala itu saya jatuh ke lubang kemaksiatan yang sangat dibenci oleh ALLAH. Hanya sedikit saja. Sedikit yang mungkin kalo hidayah itu tak hadir akan membuat saya menjadi seorang yang sangat kotor dan penuh dengan lumuran dosa.

Disinilah Allah menghadirkan hidayah. Saya berteriak dari kehampaan. Menangis dan menjerit betapa bodohnya apa yang saya lakukan. Nafsu itu telah mengalahkan saya dengan telak. Bersyukur cahaya itu hadir dan menjadi setitik cahay di kegelapan.

Perjalanan menemukan hidayah itu sangat panjang. Singkat cerita, melalui berbagai macam hal, akhirnya saya bertemu dengan sebuah tempat yang dulu sangat saya anggap buruk. Yah, tempat tersebut adalah pesantren. Saya menemukan pesantren di daerah Dago yang bernama Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir, Dago-Bandung.

Pesantren yang sering disebut Mimkho ini merupakan pesantren yang memang khusus untuk mahasiswa. Jadi bagi mahasiswa yang merindukan nikmatnya ilmu agama bisa ikut nyantri disini. Silahkan bukan saja www.ppmmiftahulkhoir.com untuk informasi lengkapnya.

Pertama kali saya datang kesini telah merubah kesan yang selama ini saya pegang tentang pesantren, yaitu jorok, jijik,kotor, dan lainnya. Ternyata pesantren itu bersih dan memang sangat menjaga kebersihan. Berkat hidayah Allah itu, akhirnya saya menjadi santri di PPM Miftahul Khoir.

Satu tahun pertama masih menjadi pergolakan antara diri dan nafsu. Datang dengan berbagai kesibukan diluar membuat saya selama satu tahun pertama sering bolos dalam ta’lim dan menjadikan saya tidak mendapat apa pun.

Hingga kenyamanan itu mulai saya rasakan. Indah sekali rasanya setiap aktivitas di pesantren. Dan saya memutuskan di tahun kedua ini untuk mengurangi aktivitas diluar. Alhamdulillah awal tahun kedua berlangsung saya mulai menikmati setiap waktu disini. Saya sangat bahagia.

Perubahan itu harus terus terjadi. Berbagai ilmu yang saya serap telah membuat saya memiliki sebuah penyeselan yang sangat dalam. Mengapa tidak dari dulu saya pesantren? Banyak hal yang saya dapatkan dari setiap ta’lim disana. Sungguh paket lengkap yang telah Allah tawarkan.

Banyak hal berkesan dari ta’lim yang saya ikuti. Saat belajar kitab ta’lim mu’talim tentang akhlak, membuat saya semakin membuka mata bahwa ternyata islam itu sangat indah. Mungkin ada yang tahu NLP atau Neuro Linguistic Programming? Saya pernah ikut pelatihan itu dan ternyata dalam kitab ta’lim mu’talim itu persis membahas apa yang NLP pelajari. Dari mulai interaksi dengan orang lain dan lainnya. Ternyata betul, semua sudah dibahas lengkap dalam islam. Sungguh sangat disayangkan orang yang belum menikmati keindahan islam.

Waktu terus bergulir menjadi semakin indah. Fauzi Noerwenda tetaplah Fauzi Noerwenda. Sifat saya yang aktif, semangat, rame, dll tak bisa dilepasakan. Saya tetap tumbuh sebagai Fauzi Noerwenda apa adanya. Walau terkadang sering bikin suasana gak karuan. Namun saya tetaplah Fauzi Noerwenda yang kini dan nanti akan terus belajar untuk memperbaiki diri sehingga bisa menjadi lebih baik.

Pada intinya sangat banyak hal yang saya dapatkan. Barangkali nanti akan saya ceritakan hal lainnya tentang kehidupan pesantren. Semoga saja bisa bermanfaat dan membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir saya ingin berteriak dan mengatakan, SAYA INI SANTRI DAN SAYA BANGGA.

Doakan semoga kita semua bisa istiqomah dan mendapat keridhoan dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

*curahan hati di pagi hari!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s