Setitik cahaya di kegelapan

cahaya

                Selalu dan sepantasnya setiap kali saya menulis akan saya panjatkan rasa Syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan nikmat dan rezeki sehingga saya masih bisa menulis dan berbagi dengan kawan-kawan semua. Sungguh hal yang patut kita lakukan untuk menSyukuri berbagai nikmat yang telah Allah berikan.

Kawan-kawan semua, kali ini pun yang akan saya bahas tak lepas dari hal yang disebut syukur. Mengapa mesti syukur? Perlu kita semua sadari bahwa kehidupan manusia itu bagaikan roda pedati yang kadang diatas dan kadang dibawah. Kadang manusia itu sadar akan tugasnya namun juga kadang lalai dalam tugas tersebut.

Hal itu pula yang saya alami. Hari ini usia saya sudah mencapai angka 21 tahun. Angka yang sudah menuntut kita untuk dewasa. Bahkan kawan-kawan saya di usia itu sudah banyak yang menikah. Doakan saja segera menyusul yah. Tapi ngomong-ngomong sekarang bukan mau ngebahas tentang nikah kok. Jadi jangan ketawa dulu bacanya. ^_^

Ini tentang sebuah hidayah yang Allah munculkan. Sebuah cahaya yang hadir saat kegelapan itu menimpa diri ini. Kehidupan saya hari ini bisa dibilang lebih baik dari masa lalu yang pernah saya lewati. Jauh sebelum saya mengalami perubahan ini, banyak sekali masa lalu suram yang telah saya goreskan.

Hari ini saya bersyukur bisa berani bermimpi. Hari ini saya bersyukur bisa mengenal Sang Pencipta lebih dekat. Semua hal itu patut saya syukuri. Karena apa jadinya jika saya tidak berubah, mungkin saat ini saya hanya akan menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna.

Masa lalu saya dihabiskan hanya untuk main, nongkrong, dan paling hobby itu pacaran. hobby yah bukan sering. Artinya saat itu saya benar-benar terkena penyakit hati. Ironis sekali, anak bau kencur sudah mengenal pacaran.

Lama saya mengenal dengan dunia pacaran, akhirnya membuat saya betah. Waktu demi waktu saya lewati hingga saya merasa kalo gak pacaran itu gak asik. Dari sd, smp, sma, hingga kuliah tak lepas dari pacaran. Entah mengapa hal itu bisa bermula. Jika kita bayangkan dengan sebuah gunung, mungkin dosa itu sudah sebesar gunung yang besar, bisa jadi melebihi puncak gunung tertinggi dunia yaitu mount everest.

Kegelapan itu semakin jadi. Saat kebebasan semakin mudah, rasanya yang ada dihadapan itu hanyalah pintu kemaksiatan. Tak ada satu pun pintu kebaikan yang terlihat. Rasanya hidup saat itu benar-benar menyedihkan. Entahlah apa jadinya jika hidayah itu tidak muncul. Hancur hidup ini.

Tapi Allah itu dekat dan sangat dekat. Hingga suatu ketika saya mengalami kejenuhan. Hati saya meronta. Seakan ada yang salah dengan sistem hidup yang saya jalani. Saya bertanya kepada diri ini, “apa yang harus saya lakukan?”

Pertanyaan itu tak kunjung mendapat jawaban. Yang ada hidup ini semakin tak karuan. Semakin tak jelas kemana kaki ini akan melangkah. Ya Allah akan begini saja hidupku ini?

Hingga dalam kegelapan itu mulai muncul sebuah cahaya. Inilah awal hadirnya cahaya hidayah yang membuat saya bisa berubah. Jalan hidayah memang hanya Allah yang tahu, tapi bagaimana caranya kita bisa meraih hidayah tersebut.

Lewat sebuah organisasi yang saya ikuti dikampus, saya bertemu dengan sesosok orang yang membuat saya bisa merenung kembali tentang perjalanan hidup ini. Ketika itu malam, saya bersama beberapa orang teman menjerit ketakutan. Teringat akan dosa-dosa kepada orang tua, ketakutan jikalau kematian akan segera menjemput. Juga masa depan yang tak kunjung hadir. Sontak ketika itu saya sadar dan berkomitmen ingin berubah.

Alhamdulillah saya mulai bisa berubah. Hari demi hari saya lewati dengan perasaan yang berbeda. Canggung sekali rasanya berada dalam kondisi yang baru. Dan godaan pun kadang masih bisa mengalahkan saya. Hingga bulan demi bulan berlangsung saya mulai bisa stabil dengan kondisi yang baru. Tidak ada lagi pacaran. Tidak ada lagi hura-hura. Tidak ada lagi waktu terbuang sia-sia.

Seiring berjalannya waktu, diri ini rindu akan ilmu agama yang telah lama saya lupakan. Singkat cerita, lewat sebuah skenario yang indah. Allah mempertemukan saya dengan sebuah Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di daerah Dago, Bandung. Inilah titik balik perubahan terjadi sangat cepat.

Saya akhirnya bisa pesantren dan tentunya sambil kuliah yang sekarang sudah masuk semeseter akhir. Suatu hal yang patut saya syukuri. Ternyata betul, Allah itu dekat bahkan sangat dekat.

Hari ini saya bahagia dan sangat bahagia. Kehidupan ini jauh lebih baik dari sebelumnnya. Saya mencoba untuk menjadi seorang muslim sejati. Walau saya sadar, hingga detik ini pun saya masih sering tergoda dengan berbagai macam tipu muslihat. Masalah yang sering mendera adalah tentang akhwat. Jujur, berat rasanya untuk benar-benar terus berjalan lurus. Namun bersyukur saat itu terjadi, Allah ingatkan saya untuk tidak seperti itu lagi.

Yang paling baru, saat nafsu ini kembali menggerogoti jiwa saya yang polos. Entah mengapa ingin rasanya saya dekat dengan akhwat. Namun Allah ingatkan dengan tweets dari Ustad Felix Siauw yang isinya seperti ini:

1. kalo sudah serius nggak mau pacaran | jangan setengah-setengah | jangan malah cari #modus lain.

2. kalo bener-bener mau jaga diri sampe halal | sekalian jaga beneran | jangan bikin penyaluran lain yang maksiat.

3. inget pacaran itu haram bukan karena namanya | tapi aktivitasnya | khalwat (berdua-duaan), rayu dan sentuh yang belum halal dll.

4. lha kamu memang nggak pacaran lagi | tapi tetep aja smsan bertali kasih | mention-mentionan pake #modus | ya sama aja..

5. “udah makan belom? :D” “jangan lupa shalat ya… ^_^” “aku bangunin nanti tahajjud ya..” | #modus yang penuh dusta, dusta, dusta

6. nggak pacaran tapi main anter-anteran bonceng-boncengan | alasannya anterin dan jaga dia PP dari pengajian | ancuur =_=

7. kasih perhatian ke dia, kasih perlakuan khusus ke dia | kamu kita itu halal, padahal itu jebakan syaitan.

8. kamu belum siap nikahin, tapi pacaran takut dosa | tapi tetep nggak mau kehilangan nikmat asyik-masyuk sama cewek | beginilah jadinya

9. kamu belum siap dinikahin, pacaran takut dosa | tapi tetep mau diperhatiin dan dipuja cowok | #modus lagi jadinya.

10. alasannya konsultasi masalah kajian Islam, mau belajar Islam | tapi kenapa maunya sama cowok? harus sama dia? #moduuus tuh!

11. katanya kamu mau berubah, alasanmu kamu perlu dukungan penyemangat | tapi kenapa harus dari cewek-cewek? #moduuus lagi!

12. abis mention-mentionan, DM-DM-an, lanjut tuker no HP dan PIN, terus BBM-BBM-an, SMS-SMS-an | terus apa bedanya sama pacaran? #modus.

13. kalo kamu serius menyendiri karena Allah | kamu bakal nggak pernah cukup untuk cari perhatian Allah | bukan caper ke dia.

14. bukan nggak boleh interaksi sama lawan jenis | boleh aja kalo jelas urusannya | bukan buat-buat urusan ya, itu #modus.

15. bukan nggak boleh mention-mentionan | kalo ada hal yang jelas ya monggo | tapi jangan bikin-bikin hal, itu #modus.

16. dalihnya ta’aruf | udah datengin bapaknya belum? udah tentuin tanggal nikah belum? | kalo udah pun ta’aruf tetep ada aturannya.

17. jadi cowok harus berani bilang “inni akhafullah” (aku takut Allah) | kalo ngadepin cewek yang mau #modus | STOP sampai situ aja.

18. jadi cewek harus tega untuk STOP dan cuekin cowok yang #modus | apa kata dia atas sikapmu nggak penting | dia bukan siapa-siapamu kok.

19. STOP me-#modus dan di-#modus | fokus untuk pantaskan diri aja | ngapain main-main maksiat?.

Nah tweet itu yang bikin hati saya #jleb. Selama ini saya memang sudah tidak pacaran, tapi apa artinya jika saya tetap mendekat dengan hal itu. Bersyukur Allah masih mengingatkan saya akan hal itu. Saya bukan orang baik, tapi berusaha menjadi baik.

Saya sadari dalam perjalanan kehidupan ini akan selalu banyak tantangan yang akan membuat kita goyah. Maka dari itu, hanya Allah lah penolong kita, hanya Allah lah yang mampu membuat kita selamat. Yakinkan diri untuk terus melangkah menuju ridho-Nya. Melangkah menuju pintu yang penuh dengan cahaya-Nya.

Kawan-kawan semua, itu sedikit pengalaman yang saya alami. Semoga kita semua bisa terus menggapai hidayah-Nya dan menjadi insan yang selalu mendapat ridho-Nya. Aamiin 🙂

*jika ingin ada yang memberi kritik dan saran silahkan langsung comment atau bisa melalu email : Fauzinoerwenda@ymail.com ^_^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s