Antara Hati dan Nafsu

antar hati dan nafsu

            Alhamdulillah kembali saya panjatkan syukur yang teramat dalam kepada Sang Pencipta yang masih memberikan kesempatan pada saya untuk menulis kembali. Tanpa ridho-Nya, tangan ini pun sepertinya tak akan bisa bergerak serta pikiran ini tak bisa berpikir untuk menuangkan ilmu dan pengalaman kehidupan yang telah dialami.

Sahabat, kehidupan terus bergerak dan kematian terus mengintai setiap insan di muka bumi ini. Hal itulah yang suatu saat nanti pasti akan menghampiri kita. Maka dari itu, kita perlu benar-benar memahami guidence book agar tidak tersesat.

Namun faktanya, perjalanan kehidupan tidak seindah yang kita bayangkan. Impian tidak semudah apa yang kita harapkan. Perlu perjuangan keras agar kita bisa meraihnya. Karena begitu banyak tantangan yang menanti kita di depan.

Dan yang perlu kita perhatikan bukanlah hal yang nan jauh disana, namun diri kita sendiri. Percaya atau tidak, banyak orang yang berhasil serta gagal karena dirinya mampu melawan tantangan yang terdapat dalam setiap diri manusia. Apa tantangan dalam diri itu? Yang dimaksudnya adalah nafsu.

Nafsu itu ada yang baik dan buruk. Hanya saja, seringkali kita terbelenggu dengan nafsu yang buruk dan bergerak ke arah negatif. Hal itulah yang akhirnya menutupi mata hati kita.

Banyak hal yang bisa kita lihat dari kasus tersebut. Saya sendiri mengalami hal itu dalam kehidupan. Saat kejernihan hati akhirnya tertutup karena ganasnya nafsu. Ketika itu saya berniat untuk belajar agama lebih dalam dan masuk pesantren. Niat diperkuat agar segala prosesnya dipermudah. Alhamdulillah Allah berikan kesempatan itu dan bergabunglah saya dengan sebuah pesantren mahasiswa di Bandung.

Saya coba untuk terus berproses disana. Beradaptasi dengan lingkungan yang pertama kali saya singgahi. Dan disinilah pergulatan antara hati dan nafsu terjadi. Godaan duniawi seringkali membuat saya tertarik.

Di Pesantren, saya wajib untuk mengikuti ta’lim setiap ba’da subuh dan ba’da magrib. Awalnya saya berhasil mengikuti dengan baik. Masuk pertengahan saya mulai tergelincir. Nafsu ini telah membuat saya meninggalkan ta’lim. Banyaknya kegiatan yang saya ikuti saat itu membuat saya masih belum berhasil dalam manajemen waktu.

Dan alhasil satu tahun pertama saya di pesantren serasa tidak mendapat apa-apa. Alhamdulillah Allah masih memberikan kesempatan pada saya untuk pesantren. Kali ini merupakan tahun kedua saya mondok. Harapan besar saya taruh agar saya bisa istiqomah di jalan kebaikan ini.

Sahabat, suatu hal yang wajar saat dalam kehidupan kita mengalami pergulatan antara hati dan nafsu. Namun yang terpenting bagaimana caranya kita bisa terlepas dari godaan nafsu itu.

Yang perlu kita ingat, saat kita mengarah kegiatan dengan terbawa nafsu maka biasanya diakhir itu selalu ada penyesalan atau kegelisahan. Sementara saat hati yang kita ikuti, akan ada rasa bahagia setelahnya.

Maka mulailah belajar mengenali mana hati dan nafsu. Lalu kita sama-sama untuk bergerak ke arah hati kita yang bicara.

Semoga kita semua diberikan keistiqomahan dalam kebaikan dan semoga Allah selalu melindungi kita dari keburukan. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s