Akhirnya Aku Menikah

Nikah Muda

Hidup adalah perjuangan. Begitu banyak orang bijak yang mengatakan hal ini. Namun hanya sebagian orang yang paham akan maksud dan arti kata ini. Mengapa? Karena banyak orang putus asa karena tidak kuat dengan perjuangan yang dilakukannya.

Hari ini saya ingin bercerita tentang seorang sahabat yang memiliki komitmen kuat untuk menikah. Dia adalah salah satu sahabat saya sejak kecil, namanya Restu.

Sejak kecil kami sering bersama. Tinggal satu kampung dan satu sekolah membuat saya, Restu, Ibay, dan Izhar terus merangkai mimpi bersama hingga hari ini.

Tak terasa cerita kami kecil sudah berlalu dan kini kami sudah beranjak dewasa. Restu yang paling muda diantar kami berempat ternyata memiliki niat untuk menikah terlebih dahulu. Terlihat raut wajahnya yang benar-benar serius. Inilah awal perjuangan dia dimulai.

Saat dinyata mengapa ia ingin segera menikah? Ia menjawab, bahwa ia tidak mau terlalu jauh dalam jurang kemaksiatan. Selama ini potensi kemaksiatan sangat mudah terjadi. Maka dari itu ia ingin menutup potensi kemaksiatan dengan menikah.

Lantas bagaimana biaya nikah nanti? Ia menjawab dengan muka lemas. Itulah yang menjadi pikiran. Saat ini ia hanya seorang guru magang dan juga masih kuliah semester akhir. Namun saya yakin ada rezekinya.

Tentu tak mudah untuk menikah di usia muda. Tantangan yang dihadapi akan lebih rumit. Namun ia beranikan diri untuk menyampaikan hal itu kepada orang tua saja. Alhamdulillah, orang tuanya ternyata memberikan persetujuan. Berbagai kemudahan pun hadir. Biaya yang selalu jadi masalah seakan bukan lagi halangan untuk menggenapkan niatnya tersebut.

Langkah tak pernah berhenti. Ia terus bulatkan tekad dan meluruskan niat dengan selalu meminta pendapat dari para ustadz. Perjalanan terus berlanjut.

Segala persiapan nikah terus dimatangkan, termasuk juga mental dari calon pengantinnya. Hari-hari berlalu terus membuat jantung berdebar. Hingga keluarlah keputusan bahwa pernikahan akan dilaksanakan tanggal 28 September 2013.

Mendengar hal itu jujur saja saya sangat kaget. Mengapa bisa secepat itu? Diantara rasa percaya dan tidak percaya itu saya hanya merenung dan ikut berbahagia.

Yang membuat saya kaget karena dulu kawan saya ini bilang akan menikahnya tahun depan. Tapi ternyata hanya rentang waktu 1 bulan semua akan segera dilaksanakan.

Sungguh haru dan bahagia melihat kawan saya akan segera mengutuhkan sayapnya.

Akhirnya saya kosongkan agenda tanggal 28 September 2013 untuk meluncur ke Sukabumi. Hari bahagia pun tiba. Tak sabar untuk melihat akad nikahnya. Saya hadir tentunya bersama Izhar dan Ibay.

Dengan seksama kami perhatikan akadnya dan Alhamdulillah akhirnya Muhammad Restu Pauji resmi menjadi suami dari Sari Damayanti. Selamat kawan,semoga bisa menjadi imam yang baik bagi keluargamu kelak.

Cerita demi cerita terus berlalu menjadi lembaran indah dalam kehidupan. Sahabat, perjalanan kita masih panjang, mari kita sambut masa depan dengan semangat membara di usia muda kita.

Kehidupan bahagia hanya bagi orang yang mau berjuang, teruslah berjuang meraih kehidupan. Jikalau kau terjatuh, cobalah untuk terus bangkit, bangkit, dan bangkit.

Selamat bahagia.

Dari sahabat terbaikmu ^_^

Nikah Muda

Advertisements

Lagi, lagi kemudahan dari ALLAH!

Skripsi pasti berlalu

September menjadi bulan pertanda untuk memulai perjuangan menyelesaikan skripsi. Skripsi yang nantinya akan mengantarkanku menjadi seorang wisudawan. Namun bukan itu esensi utamanya. Lebih dari itu, ini semua tentang proses mencari ilmu untuk mencari keridhoan Allah.

Hidup itu perjuangan. Begitu kata orang-orang bijak yang sering kita dengar. Perjuangan untuk skripsi mulai mengalami hambatan saat uang kuliah dibayar melebihi batas waktu. Alhasil saat pengisian kontrak kuliah saya tidak bisa mengikutinya. Dengan begitu saya harus menuggu dua minggu untuk jadwal perubahan atau susulan.

Skenario ALLAH itu indah. Itu yang selalu saya yakini dalam setiap langkah ini. Saat yang lain sudah mulai bimbingan, mulai menggarap UP, saya masih menunggu kepastian dalam kontrak kuliah. Namun sekali lagi saya katakan bahwa skenario Allah itu indah. Sambil menunggu, saya coba untuk menggarap usulan penelitian terlebih dahulu.

Hingga akhirnya kontrak pun tiba. Dan lagi-lagi kemudahan itu datang lagi. Alhamdulillah saya mendapat pembimbing yang selalu menjadi inspirasi dalam karir saya, beliau adalah Bu Hendrati. Seorang figur yang membuat saya banyak belajar dari beliau.

Sungguh, segala hal yang terjadi di dunia ini adalah desain indah yang telah Allah buat. Lantas mengapa harus kita risaukan? Tugas kita adalah berjuang, berikhtiar, dan biarkan Allah yang memberikan hasilnya. Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita.

Pesan untuk seluruh kawan-kawanku yang sedang dan akan menghadapi skripsi, mari kita hadapi dengan penuh ketenangan. Saat kita mulai dilanda kejenuhan atau ketakutan, ingatlah Allah, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Dan yakinilah suatu saat nanti wisuda itu akan datang dan saat itulah keluarga kita akan bahagia melihat anak-anaknya yang terus gemilang.

Semoga Allah mudahkan kita dalam menyelesaikan skripsi. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Saya santri dan saya bangga

Pesantren Mahasiswa di Bandung

Kawan-kawan, pernahkah anda mendengar pesantren? Lalu apa pendapat anda tentang tempat itu?

Saya ingin berbagi cerita tentang warna-warni kehidupan yang pernah saya alami. Saya dilahirkan disebuah kampung nan indah di Sukabumi yaitu Kampung Gunung Goong. Suasana kampung tentunya sangat damai dan tak lepas dari kegiatan keagamaan.

Sejak kecil saya tumbuh disana, bermain dan melewati hari dengan menyenangkan. Satu agenda wajib yang harus diikuti adalah pengajian yang dilaksanakan ba’da magrib. Dengan polosnya saya ikut saja. Belajar ngaji, sholat, hapalan, dan lainnya. Mungkin waktu kecil itu senang karena bersama dengan teman lainnya.

Bertambah usia membuat ilmu yang saya pelajari itu secara bawah sadar telah menjadikan modal bagi saya dalam hal agama. Bersyukur karena orang tua masih mementingkan ilmu agama bagi anak-anaknya.

Beranjak ke SD sepertinya mulai terjadi perpindahan paradigma. Orang tua saya sangat mementingkan pendidikan. Bahkan saya dituntut harus selalu menjadi juara kelas. Dan Alhamdulillah selama saya SD saya selalu naik panggung dan menjadi yang terbaik.

Masuk ke SMP pun tetap sama. Prioritas utama adalah sekolah. Cara mendidik orang tua yang disiplin dan tegas telah memudahkan saya untuk kembali menjadi yang terbaik selama SMP.

Lalu bagaimana dengan pengajiannya? Setiap ba’da magrib saya masih tetap mengaji walaupun saya saya sadari kini prioritas utama adalah sekolah. Suatu ketika saya teringat, namun lupa entah siapa yang bertanya kala itu. Ada yang bertanya pada saya mengapa tidak masuk pesantren?

Kala itu waktu SMP saya masih sangat senang bermain. Ketika ditanya tentang pesantren, jelas saja jawaban saya menolak. Buat apa pesantren? Apalagi kala itu orang-orang pesantren dikenal jorok dan banyak terkena penyakit kulit. Responku saat itu sangat buruk. Pada intinya tidak mau dan tidak akan pernah pesantren.

Waktu terus berlanjut hingga saya SMA dan akhirnya kuliah di Bandung. Paradigma dari orang tua yang menanamkan bahwa pendidikan itu nomer satu telah membuat saya berhasil di segi akademis. Sebuah prestasi bagi saya yang sangat membanggakan.

Hingga keadaan itu menjadi terbalik. Ayah yang sejak kecil hingga SMA selalu mengawasi saya, selalu bertindak tegas bagi saya, kini mulai memberikan ruang gerak. Kepercayaan pada saya yang telah membuktikan semua prestasi membuat saya kini diberikan kebebasan lebih.

Celakanya ini menjadi bumerang bagi saya. Kebebasan itu membuat saya menjadi tidak bisa mengontrol segala aktivitas. Dan akhirnya jatuh ke dalam perangkap kesia-siaan. Bandung kini menjadi tempat yang tidak bersahabat.

Sejak saat itu saya semakin sering melalaikan setiap waktu yang ada. Mengaji mulai terlupakan. Belajar pun menjadi tidak semangat dan semakin kacau. Puncaknya saat IPK saya terus mengalami penurunan. Sungguh sangat disayangkan.

Namun bak punduk yang merindukan bulan. Saya yang sejak kecil tak lepas dari pengajian, kini merindukan kembali hal itu. Rasa hampa yang sekarang dialami ingin segera dituntaskan. Perjalanan panjang itu namun tak jua menemui jawabannya. Hingga semua kesalahan itu memuncak. Hanya sedikit saja kala itu saya jatuh ke lubang kemaksiatan yang sangat dibenci oleh ALLAH. Hanya sedikit saja. Sedikit yang mungkin kalo hidayah itu tak hadir akan membuat saya menjadi seorang yang sangat kotor dan penuh dengan lumuran dosa.

Disinilah Allah menghadirkan hidayah. Saya berteriak dari kehampaan. Menangis dan menjerit betapa bodohnya apa yang saya lakukan. Nafsu itu telah mengalahkan saya dengan telak. Bersyukur cahaya itu hadir dan menjadi setitik cahay di kegelapan.

Perjalanan menemukan hidayah itu sangat panjang. Singkat cerita, melalui berbagai macam hal, akhirnya saya bertemu dengan sebuah tempat yang dulu sangat saya anggap buruk. Yah, tempat tersebut adalah pesantren. Saya menemukan pesantren di daerah Dago yang bernama Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir, Dago-Bandung.

Pesantren yang sering disebut Mimkho ini merupakan pesantren yang memang khusus untuk mahasiswa. Jadi bagi mahasiswa yang merindukan nikmatnya ilmu agama bisa ikut nyantri disini. Silahkan bukan saja www.ppmmiftahulkhoir.com untuk informasi lengkapnya.

Pertama kali saya datang kesini telah merubah kesan yang selama ini saya pegang tentang pesantren, yaitu jorok, jijik,kotor, dan lainnya. Ternyata pesantren itu bersih dan memang sangat menjaga kebersihan. Berkat hidayah Allah itu, akhirnya saya menjadi santri di PPM Miftahul Khoir.

Satu tahun pertama masih menjadi pergolakan antara diri dan nafsu. Datang dengan berbagai kesibukan diluar membuat saya selama satu tahun pertama sering bolos dalam ta’lim dan menjadikan saya tidak mendapat apa pun.

Hingga kenyamanan itu mulai saya rasakan. Indah sekali rasanya setiap aktivitas di pesantren. Dan saya memutuskan di tahun kedua ini untuk mengurangi aktivitas diluar. Alhamdulillah awal tahun kedua berlangsung saya mulai menikmati setiap waktu disini. Saya sangat bahagia.

Perubahan itu harus terus terjadi. Berbagai ilmu yang saya serap telah membuat saya memiliki sebuah penyeselan yang sangat dalam. Mengapa tidak dari dulu saya pesantren? Banyak hal yang saya dapatkan dari setiap ta’lim disana. Sungguh paket lengkap yang telah Allah tawarkan.

Banyak hal berkesan dari ta’lim yang saya ikuti. Saat belajar kitab ta’lim mu’talim tentang akhlak, membuat saya semakin membuka mata bahwa ternyata islam itu sangat indah. Mungkin ada yang tahu NLP atau Neuro Linguistic Programming? Saya pernah ikut pelatihan itu dan ternyata dalam kitab ta’lim mu’talim itu persis membahas apa yang NLP pelajari. Dari mulai interaksi dengan orang lain dan lainnya. Ternyata betul, semua sudah dibahas lengkap dalam islam. Sungguh sangat disayangkan orang yang belum menikmati keindahan islam.

Waktu terus bergulir menjadi semakin indah. Fauzi Noerwenda tetaplah Fauzi Noerwenda. Sifat saya yang aktif, semangat, rame, dll tak bisa dilepasakan. Saya tetap tumbuh sebagai Fauzi Noerwenda apa adanya. Walau terkadang sering bikin suasana gak karuan. Namun saya tetaplah Fauzi Noerwenda yang kini dan nanti akan terus belajar untuk memperbaiki diri sehingga bisa menjadi lebih baik.

Pada intinya sangat banyak hal yang saya dapatkan. Barangkali nanti akan saya ceritakan hal lainnya tentang kehidupan pesantren. Semoga saja bisa bermanfaat dan membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir saya ingin berteriak dan mengatakan, SAYA INI SANTRI DAN SAYA BANGGA.

Doakan semoga kita semua bisa istiqomah dan mendapat keridhoan dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

*curahan hati di pagi hari!

Maksiat lagi dan akhirnya..

stop-maksiat

Rabu pagi tanggal 18 September 2013 lagi-lagi telah membuat diri ini tak berdaya. Rasanya seperti muncul bayangan dari maksiat-maksiat yang dulu pernah dilakukan. Hal itu selalu membayangi dan berakhir dengan penyesalan. Namun bersyukur karena jalan lurus itu telah Allah tunjukan sehingga bisa melangkah untuk terus berubah.

Kejadian itu bermula saat saya mengikuti ta’lim di pesantren. Lalu ada beberapa pelajaran yang mesti dihapal. Entah mengapa ketika itu saat ingin menghapal saat begitu sulit. Padahal saat kecil itu saya paling suka dan cepat dalam menghapal. Namun kini hal itu sangatlah sulit. Maka teringatlah dengan sebuah kondisi masa lalu dimana saya masih sering bermaksiat. Mungkin hal itulah yang membuat saya lebih sulit dalam menghapal.

Hal ini pula pernah dialami oleh Imam Syafi’i yang pernah hilang hapalannya karena melihat aurat seorang akhwat. Sungguh setiap perkara yang kita lakukan itu selalu ada imbasnya. Dan kini satu demi satu Allah tunjukan rahasia-Nya. Saya hanya bisa geleng-gelang kepala karena telah melakukan banyak hal bodoh. Namun itu dulu. Cukup sebagai cerminan untuk menjadi lebih baik.

Hari ini dan seterusnya saya harus terus belajar untuk menjadi lebih baik. Belajar untuk memahami kehidupan ini serta yang paling penting mendapatkan Ridho Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Alamin ^_^

Kawan-kawan semua, setiap orang mungkin pernah mengalami serangkaian kejadian yang berbeda dalam hidupnya. Jika saat ini kita masih terperangkap dalam jurang kesia-siaan, mari kita melangkah untuk melakukan hal yang bermanfaat. Dan jika saat ini kita sudah berada dijalur yang positif, maka bersyukurlah karena Allah masih memberikan kasih sayangnya untuk kita. Maka teruslah bersyukur dan mari kita sama-sama mencoba menjadi lebih baik. Aamiin Ya Rabbal Alamin.

*catatan ini sebagai reminder khususnya bagi saya sendiri. ^_^

Setitik cahaya di kegelapan

cahaya

                Selalu dan sepantasnya setiap kali saya menulis akan saya panjatkan rasa Syukur kepada Allah SWT yang masih memberikan nikmat dan rezeki sehingga saya masih bisa menulis dan berbagi dengan kawan-kawan semua. Sungguh hal yang patut kita lakukan untuk menSyukuri berbagai nikmat yang telah Allah berikan.

Kawan-kawan semua, kali ini pun yang akan saya bahas tak lepas dari hal yang disebut syukur. Mengapa mesti syukur? Perlu kita semua sadari bahwa kehidupan manusia itu bagaikan roda pedati yang kadang diatas dan kadang dibawah. Kadang manusia itu sadar akan tugasnya namun juga kadang lalai dalam tugas tersebut.

Hal itu pula yang saya alami. Hari ini usia saya sudah mencapai angka 21 tahun. Angka yang sudah menuntut kita untuk dewasa. Bahkan kawan-kawan saya di usia itu sudah banyak yang menikah. Doakan saja segera menyusul yah. Tapi ngomong-ngomong sekarang bukan mau ngebahas tentang nikah kok. Jadi jangan ketawa dulu bacanya. ^_^

Ini tentang sebuah hidayah yang Allah munculkan. Sebuah cahaya yang hadir saat kegelapan itu menimpa diri ini. Kehidupan saya hari ini bisa dibilang lebih baik dari masa lalu yang pernah saya lewati. Jauh sebelum saya mengalami perubahan ini, banyak sekali masa lalu suram yang telah saya goreskan.

Hari ini saya bersyukur bisa berani bermimpi. Hari ini saya bersyukur bisa mengenal Sang Pencipta lebih dekat. Semua hal itu patut saya syukuri. Karena apa jadinya jika saya tidak berubah, mungkin saat ini saya hanya akan menjadi tumpukan sampah yang tidak berguna.

Masa lalu saya dihabiskan hanya untuk main, nongkrong, dan paling hobby itu pacaran. hobby yah bukan sering. Artinya saat itu saya benar-benar terkena penyakit hati. Ironis sekali, anak bau kencur sudah mengenal pacaran.

Lama saya mengenal dengan dunia pacaran, akhirnya membuat saya betah. Waktu demi waktu saya lewati hingga saya merasa kalo gak pacaran itu gak asik. Dari sd, smp, sma, hingga kuliah tak lepas dari pacaran. Entah mengapa hal itu bisa bermula. Jika kita bayangkan dengan sebuah gunung, mungkin dosa itu sudah sebesar gunung yang besar, bisa jadi melebihi puncak gunung tertinggi dunia yaitu mount everest.

Kegelapan itu semakin jadi. Saat kebebasan semakin mudah, rasanya yang ada dihadapan itu hanyalah pintu kemaksiatan. Tak ada satu pun pintu kebaikan yang terlihat. Rasanya hidup saat itu benar-benar menyedihkan. Entahlah apa jadinya jika hidayah itu tidak muncul. Hancur hidup ini.

Tapi Allah itu dekat dan sangat dekat. Hingga suatu ketika saya mengalami kejenuhan. Hati saya meronta. Seakan ada yang salah dengan sistem hidup yang saya jalani. Saya bertanya kepada diri ini, “apa yang harus saya lakukan?”

Pertanyaan itu tak kunjung mendapat jawaban. Yang ada hidup ini semakin tak karuan. Semakin tak jelas kemana kaki ini akan melangkah. Ya Allah akan begini saja hidupku ini?

Hingga dalam kegelapan itu mulai muncul sebuah cahaya. Inilah awal hadirnya cahaya hidayah yang membuat saya bisa berubah. Jalan hidayah memang hanya Allah yang tahu, tapi bagaimana caranya kita bisa meraih hidayah tersebut.

Lewat sebuah organisasi yang saya ikuti dikampus, saya bertemu dengan sesosok orang yang membuat saya bisa merenung kembali tentang perjalanan hidup ini. Ketika itu malam, saya bersama beberapa orang teman menjerit ketakutan. Teringat akan dosa-dosa kepada orang tua, ketakutan jikalau kematian akan segera menjemput. Juga masa depan yang tak kunjung hadir. Sontak ketika itu saya sadar dan berkomitmen ingin berubah.

Alhamdulillah saya mulai bisa berubah. Hari demi hari saya lewati dengan perasaan yang berbeda. Canggung sekali rasanya berada dalam kondisi yang baru. Dan godaan pun kadang masih bisa mengalahkan saya. Hingga bulan demi bulan berlangsung saya mulai bisa stabil dengan kondisi yang baru. Tidak ada lagi pacaran. Tidak ada lagi hura-hura. Tidak ada lagi waktu terbuang sia-sia.

Seiring berjalannya waktu, diri ini rindu akan ilmu agama yang telah lama saya lupakan. Singkat cerita, lewat sebuah skenario yang indah. Allah mempertemukan saya dengan sebuah Pondok Pesantren Mahasiswa Miftahul Khoir di daerah Dago, Bandung. Inilah titik balik perubahan terjadi sangat cepat.

Saya akhirnya bisa pesantren dan tentunya sambil kuliah yang sekarang sudah masuk semeseter akhir. Suatu hal yang patut saya syukuri. Ternyata betul, Allah itu dekat bahkan sangat dekat.

Hari ini saya bahagia dan sangat bahagia. Kehidupan ini jauh lebih baik dari sebelumnnya. Saya mencoba untuk menjadi seorang muslim sejati. Walau saya sadar, hingga detik ini pun saya masih sering tergoda dengan berbagai macam tipu muslihat. Masalah yang sering mendera adalah tentang akhwat. Jujur, berat rasanya untuk benar-benar terus berjalan lurus. Namun bersyukur saat itu terjadi, Allah ingatkan saya untuk tidak seperti itu lagi.

Yang paling baru, saat nafsu ini kembali menggerogoti jiwa saya yang polos. Entah mengapa ingin rasanya saya dekat dengan akhwat. Namun Allah ingatkan dengan tweets dari Ustad Felix Siauw yang isinya seperti ini:

1. kalo sudah serius nggak mau pacaran | jangan setengah-setengah | jangan malah cari #modus lain.

2. kalo bener-bener mau jaga diri sampe halal | sekalian jaga beneran | jangan bikin penyaluran lain yang maksiat.

3. inget pacaran itu haram bukan karena namanya | tapi aktivitasnya | khalwat (berdua-duaan), rayu dan sentuh yang belum halal dll.

4. lha kamu memang nggak pacaran lagi | tapi tetep aja smsan bertali kasih | mention-mentionan pake #modus | ya sama aja..

5. “udah makan belom? :D” “jangan lupa shalat ya… ^_^” “aku bangunin nanti tahajjud ya..” | #modus yang penuh dusta, dusta, dusta

6. nggak pacaran tapi main anter-anteran bonceng-boncengan | alasannya anterin dan jaga dia PP dari pengajian | ancuur =_=

7. kasih perhatian ke dia, kasih perlakuan khusus ke dia | kamu kita itu halal, padahal itu jebakan syaitan.

8. kamu belum siap nikahin, tapi pacaran takut dosa | tapi tetep nggak mau kehilangan nikmat asyik-masyuk sama cewek | beginilah jadinya

9. kamu belum siap dinikahin, pacaran takut dosa | tapi tetep mau diperhatiin dan dipuja cowok | #modus lagi jadinya.

10. alasannya konsultasi masalah kajian Islam, mau belajar Islam | tapi kenapa maunya sama cowok? harus sama dia? #moduuus tuh!

11. katanya kamu mau berubah, alasanmu kamu perlu dukungan penyemangat | tapi kenapa harus dari cewek-cewek? #moduuus lagi!

12. abis mention-mentionan, DM-DM-an, lanjut tuker no HP dan PIN, terus BBM-BBM-an, SMS-SMS-an | terus apa bedanya sama pacaran? #modus.

13. kalo kamu serius menyendiri karena Allah | kamu bakal nggak pernah cukup untuk cari perhatian Allah | bukan caper ke dia.

14. bukan nggak boleh interaksi sama lawan jenis | boleh aja kalo jelas urusannya | bukan buat-buat urusan ya, itu #modus.

15. bukan nggak boleh mention-mentionan | kalo ada hal yang jelas ya monggo | tapi jangan bikin-bikin hal, itu #modus.

16. dalihnya ta’aruf | udah datengin bapaknya belum? udah tentuin tanggal nikah belum? | kalo udah pun ta’aruf tetep ada aturannya.

17. jadi cowok harus berani bilang “inni akhafullah” (aku takut Allah) | kalo ngadepin cewek yang mau #modus | STOP sampai situ aja.

18. jadi cewek harus tega untuk STOP dan cuekin cowok yang #modus | apa kata dia atas sikapmu nggak penting | dia bukan siapa-siapamu kok.

19. STOP me-#modus dan di-#modus | fokus untuk pantaskan diri aja | ngapain main-main maksiat?.

Nah tweet itu yang bikin hati saya #jleb. Selama ini saya memang sudah tidak pacaran, tapi apa artinya jika saya tetap mendekat dengan hal itu. Bersyukur Allah masih mengingatkan saya akan hal itu. Saya bukan orang baik, tapi berusaha menjadi baik.

Saya sadari dalam perjalanan kehidupan ini akan selalu banyak tantangan yang akan membuat kita goyah. Maka dari itu, hanya Allah lah penolong kita, hanya Allah lah yang mampu membuat kita selamat. Yakinkan diri untuk terus melangkah menuju ridho-Nya. Melangkah menuju pintu yang penuh dengan cahaya-Nya.

Kawan-kawan semua, itu sedikit pengalaman yang saya alami. Semoga kita semua bisa terus menggapai hidayah-Nya dan menjadi insan yang selalu mendapat ridho-Nya. Aamiin 🙂

*jika ingin ada yang memberi kritik dan saran silahkan langsung comment atau bisa melalu email : Fauzinoerwenda@ymail.com ^_^

Inspirasi Malam Para Pedagang

Romantic Bandung at Night

Keindahan merupakan hal yang sangat diinginkan oleh semua orang. Keindahan itu membuat semua panca indera kita berasa dimanjakan. Mata kita bisa melihat hijaunya alam ciptaan Sang Maha Kuasa. Telinga bisa mendengar sayup-sayup penuh harapan. Mulut bisa mengungkapkan segala perasaan yang dilihatnya. Sungguh suatu keindahan yang nyata. Dan pembaca semua, tahukah dimana keindahan itu bisa kita dapatkan? Yah, tempat kita dilahirkan yaitu negara Indonesia.

Tak dapat disangsikan lagi jika kita berbicara keindahan negeri ini. Semua serba ada. Termasuk dengan salah satu kota yang menjadi dambaan semua orang yaitu Bandung.

Jika kita berbicara Bandung, maka akan muncul banyak deskripsi yang bermunculan. Mulai dari surganya kuliner, tempat liburan yang asyik, surga belanja dan lainnya. Deskripsi itu muncul karena memang nyatanya Bandung menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia. Dan faktanya setiap akhir pekan Bandung selalu padat pengunjung dari luar daerah yang sengaja datang berlibur untuk melepas penat dari pekerjaan yang dilakukannya. Wahh, benar-benar luar biasa Bandung itu.

Namun apakah benar Bandung seperti yang orang bayangkan? Seindah dan segemerlap itukah? Memang perlu kita yang membuktikan sendiri.

Tiga tahun sudah aku tinggal di Bandung. Lingkungan baru yang membuat aku terus mengalami kehidupan yang berbeda. Bicara deskripsi tadi, memang betul Bandung itu hampir seperti yang orang bayangkan. Sungguh saat indah.

Namun kali ini, aku akan ceritakan sebuah keindahan Bandung dari sudut pandang yang berbeda. Keindahan ini jauh dari kata gemerlap, mewah, atau modis. Namun keindahan ini akan membuat kita lebih merasakan bagaimana Bandung menjadi tempat bagi banyak orang untuk menyambung hidupnya.

Malam itu tanggal 10 September 2013 aku berjalan di sebuah pelataran daerah Simpang Dago. Aku berjalan sendiri dengan ditemani dinginnya udara kali itu. Detak jam seakan terdengar kencang, semakin kencang dan semakin kencang. Ternyata saat itu sudah pukul 22.00 WIB. Mungkin ada yang bertanya, apa yang sedang aku lakukan di waktu malam ini? Memang inilah keindahan yang ingin aku ceritakan pada pembaca semua.

Namun keindahan ini tidak seindah saat kita bisa melihat lampu kota dari atas bukit seperti di bukit bintang atau lainnya. Juga tidak seindah seperti saat kita berada di puncak gunung, pantai atau alam lainnya. Karena memang keindahan ini bukan hanya untuk dilihat oleh mata melainkan dengan ketulusan hati.

Malam itu aku melihat daerah Simpang Dago masih ramai dengan para pedagang. Mereka tampak masih semangat untuk terus berjualan. Juga dengan para pembeli yang menikmati hidangan yang ada. Angin semilir kala itu membuat suasana malam menjadi lebih romantis. Aku terus berjalan sambil melihat banyak kumpulan pedagang yang terus ceria menantikan waktu malamnya.

Para pembaca semua, adakah yang hatinya mulai mengerti dengan keindahan yang dimaksud? Yah, ini semua tentang perjuangan hidup yang dilakukan para pedagang kecil di daerah Simpang Dago.

Berangkat pagi dan pulang malam. Itulah sebagian aktivitas yang dilakukan oleh beberapa pedagnag disana. Dinginnya udara malam bukanlah menjadi halangan bagi mereka. Malah, malam menjadikannya sebagai romantisme yang selalu indah. Demi keluarga tercinta, mereka rela untuk bekerja hingga larut malam. Sungguh suatu pemandangan yang jarang sekali orang perhatikan. Rasa ngantuk terpaksa harus ditahan karena harus memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan. Inilah yang namanya perjuangan kehidupan. Sudah sampai mana perjuangan yang kita tempuh?

Salah satu dari mereka ternyata ada yang merantau jauh-jauh dari Jawa. Datang ke Bandung memang berniat untuk berjualan dan memang dagangannya cukup ramai dikunjungi. Coba saja datang dan cari pecel lele di Simpang Dago. Salut deh untuk mereka semua.

Dari segi penghasilan memang tidak sebesar yang diharapkan. Namun malam ini aku mendapat keindahan yang penuh dengan romansa serta dibalut dengan pelajaran kehidupan yang luar biasa. Kita doakan siapapun mereka yang punya niatan baik untuk berjualan mendapat kemudahan dari Allah.

Bandung dengan sejuta keindahannya telah membuat orang terpesona. Aku yang salah satu korbannya telah merasakan keindahan malam di paris van java ini. Perjalanan malam yang menyenangkan. Sepertinya setiap malam Bandung mempunyai cerita tersendiri yang mengagumkan. Mungkin lain kali perlu datang ke daerah lainnya untuk merasakan romansa malam Kota Bandung.

Pembaca semua, pergi keluarlah sejenak dan ternyata tersimpah sejuta hal yang belum kita ketahui. Itulah sekilas perjalan malamku yang penuh dengan pesona. Pesona Bandung dengan kesederhanaannya namun penuh dengan cinta yang tulus.

Inilah kebahagiaan

Tenang

Pagi ini saya bersyukur masih kembali diizinkan menulis dan berbagi kisah dengan kawan-kawan semua. Harapannya, semoga tulisan ini bermanfaat dan ada hal baik yang bisa diambil serta diaplikasikan. Aamiin.

Ada satu hal yang ingin saya bahas kali ini. Semua berkaitan dengan sebuah kata yang kita inginkan, yaitu kebahagiaan. Lantas apa itu kebahagiaan? Apakah punya uang banyak? Apakah punya mobil mewah? Atau apa? Apapun definisi kebahagiaan, yang jelas orang akan mengejar kebahagiaan sesuai dengan versinya. Tapi apakah betul kebahagiaan perlu dikejar?

Lewat sebuah majelis ilmu di Pondok Pesantren Miftahul Khoir Bandung, saya mendapat jawaban yang sesungguhnya saya cari tentang arti kebahagiaan. Mungkin jawaban ini pun berbeda dengan jawaban kawan-kawan semua. Tapi tidak apa, semoga saja hal ini pun bermanfaat untuk kawan-kawan semua.

Ketika saya belajar, entah mengapa saat itu saya begitu fokus memperhatikan. Lalu selesai kelas berakhir, rasanya ada ketenangan batin yang begitu tenang. Apalagi yang dipelajari ilmu agama. Seakan membawa diri ini penuh ketenangan.

Definisi itu tidak bisa dijelaskan. Mungkin lebih tepatnya ini berkaitan dengan hati. Saya mulai berpikir, apakah hati ini yang menjadi sumber kebahagiaan?

Saya yang merupakan sosok yang visioner selalu memiliki banyak impian yang ingin dicapai. Pokoknya wajib tuh impian terwujud. Suatu kebanggaan bila impian itu terwujud. Namun kekecewaan bila ternyata jauh dari harapan. Lalu dimana kebahagiaan itu? Banyak mimpi sudah dicapai namun mengapa tidak pernah puas? Apakah itu tandanya saya tidak bersyukur? Ya Allah jauhkan diri ini dari sifat kufur.

Perjalanan tentang kebahagiaan itu terus berlanjut hingga akhirnya saya diam menyendiri dan kembali merasakan ketenangan. Sungguh perasaan itu muncul lagi saat diri ini begitu damai dan tanpa masalah. Semuanya seperti aliran air yang mengalir lembut ke lautan luas.

Saya mulai sadar bahwa kebahagiaan itu hadirnya dalam diri sendiri. Allah sudah ciptakan kebahagiaan untuk kita. Namun kita tak mengambilnya. Belajar adalah suatu hal yang bisa mengundang kebahagiaan. Dengan belajar, akan menimbulkan ketenangan dalam batin. Bahagia itu sederhana. Bahagia itu muncul dari hati yang mengikhlaskan diri ini pada Sang Pencipta. Jadi jika ingin bahagia, kembalilah kepada Sang Maha Pencipta. Itulah sumber kebahagiaan itu. Sungguh sumber kebahagiaan yang tak terelakan lagi.

Kawan-kawan semua, jika selama ini kita bingung mencari kebahagiaan, maka yakinlah dan minta terhadap Sang Pencipta. Kembalilah kepada-Nya. Itulah sebetulnya yang kita cari. Itulah sebetulnya jawaban yang kita inginkan. Maka kembalilah dan mari sama-sama kita belajar untuk mencintai-Nya.

Follow @FauziNoerwenda untuk terus berinteraksi dan bersilaturahim.