Sungguh sangat beruntung..

Kehidupan merupakan sebuah rangkaian puzzle yang harus kita susun. Puzzle tersebut memang harus kita temukan agar menjadi sebuah gambaran indah yang kita inginkan. Mudahkah untuk menemukan kepingan puzzle tersebut? Yah, semua memang butuh perjuangan kawan.

Lihatlah bagaimana perjuangan orang-orang sukses dalam menyempurnakan puzzlenya. Apakah Chairul Tanjung tidak merasa letih? Apakah Bob Sadino tidak merasa capek? Kawan, hidup itu perjuangan. Dan orang-orang yang memilih jalan untuk berjuang itulah yang akan mampu mewujudkan susunan puzzlenya dengan sempurna.

Saat tangan ini sedang menulis kata demi kita, saat itulah saya pun terus melakukan hal-hal agar puzzle saya sempurna. Dalam perjalanan penemuan puzzle kali ini saya bertemu dengan sebuah tempat yang sebelumnya mungkin tak pernah terpikir untuk masuk kedalamnya. Tempat itu merupakan sebuah lembaga amil zakat yang tentunya akrab dengan rakyat kecil.

Inilah pengalaman baru yang membuka mata hati dalam tabir diri ini. Dulu saat kecil, saya orang yang sangat membenci tinggal di perkampungan. Menyebutkan dimana alamat rumah pun saya enggan karena saking malunya. Rasa gengsi tersebut membuat saya jarang bersosialisai dengan warga sekitar ditambah akhirnya orang tua saya menyekolahkan saya di kota. Maka interaksi dengan tetangga tak terlalu intens. Hal itu membuat saya merasa nyaman tumbuh dilingkungan kota.

Itulah kilasan sedikit masa lalu yang saya lewati. Yah cukuplah sudah semua itu karena bagaimana pun semua pasti berlalu. Kini saya akan terus melengkapi puzzle saya agar sempurna dengan terus belajar.

Kesempatan saya belajar di Dompet Dhuafa diperoleh karena saya sedang melaksanakan praktek kerja lapangan yang merupakan persayaratan untuk meraih kelulusan S1.

Sebagai mahasiswa di kampus perbankan saya memang berbeda dengan teman yang lainnya. Saat yang lain berbondong-bondong PKL di bank, maka saya putuskan untuk PKL di sebuah lembaga amil zakat. Dan disinilah cerita manis itu terjadi. Sebuah pengalaman yang akhirnya membuat saya semakin yakin untuk kembali pulang membangun kampung halaman. Inilah cerita saya bersama Sinergi Dompet Dhuafa Jawa Barat.

logo Dompet Dhuafa

Saya memulai kegiatan di pertengahan bulan juli. Ketika itu saya dibimbing oleh Kang Asep Nurmin yang merupakan Supervisor Sub.Divisi Ekonomi. Secara garis besar, saya bekerja 50 % di kantor dan 50 % dilapangan.

Saat semua itu dimulai. Ada dua sisi yang berkebalikan. Sejak dulu saya paling tidak suka bekerja di sebuah ruangan kecil dan hanya bergulat dengan sebuah layar komputer. Namun semua itu harus saya kerjakan tatkala mendapat tugas untuk menginput data. Akhirnya pekerjaan itu menjadi kawan buat saya. Mencoba ku nikmati itu semua dan memang saat kita bersahabat dengan satu hal, maka hal itu pun akan bersahabat. Adalah sosok Teh Imas yang mengajarkan saya dalam hal pengarsipan data. Alhasil saya menjadi mengerti bagaimana cara menginput data yang baik. Sungguh sangat beruntung.

Pekerjaan ini ternyata membuat saya teringat akan seorang sosok yang sangat saya cintai yaitu ibu. Beliau bekerja dari pagi sampai sore dengan tugas yang berkaitan dengan pengarsipan dan lainnya. Rasanya sedih melihat ibu bekerja terus, pastinya lelah dan capek. Saya sadar, ternyata selama ini ibu telah berjuang keras. Dan saya tersadar saat bersentuhan dengan pekerjaan yang sering ibu lakukan. Hal ini yang membuat saya bertekad untuk membuat ibu bahagia.

Beda tempat beda cerita. Jika di kantor adalah hal yang kurang saya sukai. Maka lapangan adalah hal yang paling saya sukai. Sejak dulu saya suka hal yang baru. Saya suka bertemu orang-orang dan berinteraksi dengan orang baru. Dan itu saya temukan saat bekerja ke lapangan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa saya enggan menjadi karyawan dan lebih memilih berbisnis.

Di lapangan inilah saya mendapat sebuah pelajaran yang sangat mahal. Kisah ini terjadi saat saya pergi ke Pangalengan untuk ikut survei program kesana. Saat mengunjungi satu rumah, saya bertemu dengan seorang bapak bernama Pak Dadang. Masih ingat kata-kata beliau yang membuat hati saya #jleb. Beliau berkata pada kami bahwa beliau ingin melihat anaknya sekolah dan rela jika setiap harinya harus puasa. Ya Allah sungguh mulia sekali perjuangan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Semoga kau mudahkan mereka dalam setiap langkahnya.

Yang paling heroik lagi adalah kisah nenek tua yang berusia lanjut namun mempunyai tekad kuat untuk melihat anak-anaknya sekolah. Dengan bermodal nekat akhirnya sang nenek bisa tersenyum saat tim Dompet Dhuafa memberikan bantuan pendidikan bagi cucunya.

Sama halnya dengan kegiatan di kantor, kegiatan dilapangan ini mengingatkan ayah yang setiap hari bekerja ke lapangan. Ayah yang sama seperti saya mudah bosan bila bekerja di kantor itu setiap hari harus panas-panasan untuk mencari nafkah bagi keluarga. Sementara saya selama ini hanya duduk manis, menonton tv dan menghabiskan uang seenaknya. Ya Allah tega bener saya selama ini. Semoga kelak saya bisa membuat semuanya terbalik Ya Allah. Saya ingin membuat mereka bahagia.

Lembaran cerita terus saya goreskan di setiap waktunya. Lembaran yang dulunya gelap kini mulai menjadi putih kembali. Dan lembaran putih tersebut kini mulai terisi dengan cerita manis nan indah untuk ku goreskan.

Hadirnya saya di Dompet Dhuafa bukan hanya sekedar untuk melengkapi projek tugas akhir. Namun Allah telah membuat satu skenario indah yang akhirnya membuat saya sadar. Saya ini orang kampung dan mestinya saya bangga. Saya tinggal di Gunung Goong dan kelak tempat ini akan mencetak jutaan bintang yang akan membuat langit terus berkilauan.

Jika tinta ini terus ku goreskan, rasanya akan sangat panjang untuk menceritakan perjalanan indah selama praktik kerja lapangan. Namun saya ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebanyak-banyaknya atas kesempatan yang saya peroleh untuk bergabung dan belajar di dompet dhuafa.

Teruntuk Kang Asep Nurmin yang sudah membimbing saya selama hampir 1,5 bulan. Setiap hari yang saya lewati penuh inspirasi, apalagi saat ke lapangan saya mendapat inspirasi yang aplikatif untuk bisnis yang saya tekuni. Untuk Kang Asep semoga cepat mengutuhkan sayapnya dengan menikah.

Untuk Kang Saji yang hari-harinya selalu penuh canda tawa. Terima kasih telah membuat hari-hari saya di kantor penuh dengan warna. Sungguh sosok bapak yang apa adanya. Really i’m serious sir 🙂 .

Untuk Kang Ilyas yang ganteng dan kalem, kalo kata orang sigankal. Terima kasih sudah meluangkan waktunya mengajak saya jalan-jalan dan terus belajar.

Untuk 2 orang wanita yang kehadirannya seperti kaka dan ibu, Teh Imas dan Teh Sri. Terima kasih telah membantu saya selama PKL. Teh Imas yang ngajarin Excel, akhirnya jadi ngerti. hehe :). Juga Teh Sri yang bawel kayak ibu saya, makasih udah membuat kehadirannya membuat saya tenang. Pokoknya luar biasa.

Juga untuk seluruh tim Sinergi dompet dhuafa yang super, Kang Dadan, Teh Iis yang udah mau beli buku Mengukir Bintang Kehidupan, Teh Euis yang ternyata anak FoSSEI JABAR juga, Teh Wiwi dan semuanya yang gak bisa disebutkan satu persatu.

Intinya saya ucapkan terima kasih. Sengaja saya tuliskan ini sebagai bentuk penghargaan karena telah menjadi bagian dalam puzzle yang sedang saya susun. Sungguh, saya sangat beruntung dengan ini semua.

Kini perjalanan ini harus terus berlanjut. Rangkaian puzzle yang lain telah menanti untuk ku ukir. Semoga kelak kita bisa dipertemukan kembali. Aamiin.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s