Serangan Pacet Curug Kembar

Curug Kembar Sukabumi

Liburan semester ganjil kini telah tiba. Sebagian besar kampus di Bandung pun ternyata sama, hanya satu kampus yang bisa dibilang aneh yaitu ITB. Saat kampus lain libur, ITB malah sudah masuk kuliah. Libur ini aku manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman tercinta, Sukabumi.

Liburan kali ini seakan menjadi harapan yang menyenangkan bagiku. Ketika di Bandung harus berkutat dengan berbagai macam persoalan, kini saatnya waktu yang tepat untuk refreshing.

            Akhirnya aku pun bisa berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga. Ku coba memanfaatkan momen yang ada untuk semakin dekat dengan keluarga. Selain itu, ternyata sahabat karibku, Ibay pun ada di rumah. Kami akhirnya bisa bertemu kembali setelah sekian lama tak jumpa.

Seperti biasa, pertemuanku dengan Ibay selalu melahirkan ide-ide yang cemerlang. Salah satu yang selalu ku tunggu yaitu petualangan. Ibay akhirnya merekomendasikan tempat ke curug kembar di wilayah kawasan wisata Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi. Tanpa pikir panjang, akhinya kami setuju untuk pergi kesana.

Tanggal 23 Januari 2013 adalah terjadinya momen manis tersebut. Selama 21 tahun aku tinggal di Sukabumi baru tahu ternyata ada yang namanya curug kembar. Hhmmm, kemana aja selama ini aku ? Kami mulai petualangan pukul 09.00 WIB. Bersama Ibay dan Abhe, kami siap untuk bertualang ke Curug.

Perjalanan menuju kawasan situ gunung kami tempuh menggunakan kendaraan umum. Barulah kami start berjalan ke curug dari pintu gerbang Cinumpang. Terpukai aku saat itu melihat kondisi alam yang sangat segar, jarang sekali aku merasakan ini di Bandung. Langkah demi langkah kami terus menuju curug. Di perjalanan, Ibay memberi tahu suatu tanaman yang bisa dimakan, namanya begonia. Setelah dicoba, rasanya memang segar dan masam. Recomended buat teman-teman yang suka survival.

            Ternyata perjalanan hingga ke curug bukan hitungan menit, melainkan jam. Serunya, perjalanan kami ini ditemani oleh puluhan pacet. Alhasil perjalanan kami terus tersendat karena harus membuang pacet-pacet terlebih dahulu. Salahnya, kami tidak membawa logistik yang lengkap. Persediaan air hanya 1 botol, sedangkan makanan hanya membawa enam gorengan.  Namun semangat kami sangatlah tinggi untuk mencapai curug yang ternyata masih banyak orang yang belum tahu dengan curug ini.

Perjalanan kami kian dekat. Gemuruh air terjun itu semakin terasa dekat. Waaaw, menambah rasa semangat kami. Rupanya perjalanan kesana tidaklan mudah. Ada satu track menurun yang tajam dan harus dilalui dengan tali. Untungnya ada akar dan tali yang sangat kuat. Perlahan satu persatu dari kami menuruni bukit itu. Akhirnya sampai juga dibawah. Kami tambah kecepatan hingga suara gemuruh air itu kian terasa dekat. Akhirnya, petualangan ini sampai. Ternyata membutuhkan waktu 2 jam untuk berjalan menuju curug nan indah ini.

Subhanallah. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Dua buah air terjun kembar. Udara yang sangat segar, gemuruh air yang sangat besar, menambah kenyamanan kami saat tiba di curug. Apalagi kecepatan air di curug kembar ini sangat besar. Hingga pakaian kami semua basah kuyup. Inilah ciptaan Sang Maha Kuasa, tak mungkin hal ini diciptakan oleh tangan-tangan manusia yang tak luput dari dosa. Ya Allah aku bersyukur pada-Mu atas segala nikmat yang telah Engkau berikan.

Momen ini tentunya tak akan kami lepaskan begitu saja. Dokumentasi harus selalu ada di setiap petualangan yang kami lakukan. Sisa waktu itu kami gunakan untuk berfoto. Sayangnya tanda-tanda rintik hujan mulai turun. Artinya kami harus segera meninggalkan tempat ini lebih cepat.

Jika saat perjalan menuju curug kami bersantai ria, untuk pulang ini kami memutuskan untuk maraton. Cuaca yang tidak mendukung membuat kami mendadak bergerak sangat cepat. Kami berlari sangat cepat. Tak memperdulikan lagi pacet atau hujan, terus kami bergerak menuju pos awal. Bahkan tebing pun kami hajar dengan sangat lihai. Akhirnya kami melihat sebuah gubuk dan memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.

Badan kami sudah basah kuyup. Parahnya kami terkena serangan pacet. Abhe terkena dibagian dada ke atas, Ibay terkena dibagian perut, sementara aku sendiri diserang bagian kaki. Walhasil kami disibukan untuk menjauhkan pacet-pacet ini. Hampir setengah jam kami di gubuk itu, saat cuaca mulai membaik kami meneruskan perjalanan pulang dengan agak santai.

Kondisi pakaian yang basah, membuat kami bertiga sangat kedinginan. Akhirnya kami pun tiba di pos awal. Kembali kami beristirahat sejenak sambil menghangatkan badan dengan makan mie dan minum kopi.

Suatu perjalanan yang menantang. Inilah bagian kehidupanku yang sangat indah. Kami bertiga akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Teman-teman inilah kisah kami di Curug Kembar. Tunggu kisah kami selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s