ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA

pizza

Penulis: Hernowo

Ya, andaikan buku-buku yang ada di rak-rak perpustakaan adalah “makanan” kesukaan kita. Apa jadinya ya? Tentu kita akan lahap membacanya. Inilah “kunci” untuk membuka gembok yang menyebabkan kita enggan membaca buku.

“Kunci” ini, oleh Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Highly Effective People), disebut paradigma. Apaan tuh paradigma? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi? Anda merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul dikarenakan Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: “Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali membaca buku ilmiah, saya tentu ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”

Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam membaca buku. Memang, tidak semua orang memandang aktivitas membaca buku ilmiah seperti itu. Nah, tulisan ini akan mencoba membantu siapa saja yang merasa masih kesulitan untuk memasuki dunia buku.

Menganggap Buku sebagai “Makanan”

Pertama-tama, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kacamata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkanlah apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan dengan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita ngantuk, maka pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dulu siapa pengarang buku tersebut. Atau Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah kepada mereka untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada di buku itu.

Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca di pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, di sore hari, tambah 10 halaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s