Kisah Raja dan 3 Putranya

Kisah Raja dan 3 Putranya

Membuat sebuah analogi dari persoalan yang diberikan. Pemimpin memiliki tujuan.

Durasi                        : 10-15 Menit

Peralatan                  : Komputer/Laptop, LCD Projector

Jumlah peserta        : > 25 orang

Teknis                       :

  1. Fasilitator menceritakan sebuah kisah : ( Alternatif bisa menggunakan alat bantu komputer/laptop, LCD projector dan diirnigi musik, dengan demikian membuat suasana pelatihan lebih hidup ).

Di lembah Baliem yang subur, berdiam suku Dani yang pekerjaan utamanya bercocok tanam namun gemar berperang. Suku ini dipimpin oleh seoarang raja yang sangat bijaksana. Beliau memiliki 3 orang putra yang telah dewasa. Karena raja telah tua maka ia memanggil ketiga putranya. Mereka diberi sebuah tugas, yaitu : masing-masing harus mendaki Gunung Jayawijaya dan membawa sesuatu yang menurut mereka paling berharga dari puncak gunung tersebut. “Barangsiapa dari kalian yang dapat membawa barang yang paling berharga, akan menggantikan aku sebagai raja !” Putra pertama berangkat dan pulang membawa sebuah batu dengan 7 warna yang amat berkilau. Putra kedua berangkat dan pulang membawa seikat bunga edelweis yang sangat langka. Putra ketiga akhirnya berangkat dan pulang tanpa membawa apapun. Namun ia bercerita mengenai pemandangan indah yang dilihatnya di balik Gunung Jayawijaya, yaitu sebuah daerah yang dialiri oleh 2 anak sungai dan sangat subur.

Siapakah yang akan terpilih menggantikan sang raja ?

  1. Jawaban : yang dipilih adalah putra ketiga karena dia memiliki visi kedepan.

Nilai yang terkandung :

  1. Salah satu hal yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah VISI yang jauh ke depan, tidak hanya 1 langkah ke depan namun 2 atau 3 langkah ke depan. Sementara harta dan benda lainnya hanyalah salah satu “kesenangan duniawi” belaka. Orang yang mempunyai VISI bisa meraih kekayaan, kesehatan ,karier, kesuksesan, keluarga, spiritual, dan sebagainya, tapi orang yang tidak mempunyai VISI akan menghabiskan semuanya itu di dalam tangannya karena dia tidak mempunyai tujuan hidup.
  2. Pemimpin yang tidak memiliki visi / tujuan hanya akan membawa pengikutnya jalan ditempat ataupun jika memiliki visi/tujuan tetapi tidak jelas maka akan membawa pengikutnya ke jalan yang salah. Demikian pula dalam hidup kita, jika kita tidak mempunyai suatu arah/tujuan hidup maka kita akan kehilangan gairah/semangat hidup karena tidak tahu apa yang mau dicapai. Apabila kita tidak jelas akan tujuan tersebut, misalkan : kita mencari pasangan hidup yang seksi bisa montok, bisa langsing, bisa gemuk, dan sebagainya. Akhirnya pasangan hidup yang datang pun bisa jadi tidak sesuai dengan dengan keinginan kita karena kita sendiri tidak jelas akan keinginan kita.
Advertisements

Budaya Kerja Bangun Pencitraan Usaha

culture

Inget ada materi Madrasah Mujahid Bisnis dari @KangRendy..

Jadi langsung dishare deh..

#Tujuan Bisnis :

  1. Willingness to help
  2. Contribute
  3. Growing
  4. Suistainable
  5. Cring-Cring

#Budaya : suatu persepsi bersama yang dianut oleh anggota-anggota organisasi itu.

#Budaya Kerja Kondusif :

  1. Disiplin
  2. Ikhlas
  3. Jujur
  4. Responsive
  5. Amanah
  6. Syukur
  7. Profesional
  8. Konsisten
  9. Transparan
  10. Customer oriented
  11. Open minded
  12. Proactive

#Membangun Budaya Kerja

  • Definisikan budaya kerja yang paling pas & sesuai karakter usaha & merk

ü  Values

ü  Belief

ü  Attitude

ü  Behaviour

ü  Habit

ü  Culture

  • Karyawan paham mengenai budaya kerja
  • Pemimpin menjadi role model

#Pemahaman budaya organisasi

  • Internallisasi ke setiap jiwa karyawan

ü  Kebiasaan positif & terefleksi dalam setiap tindakan/cara kerjanya

  • Buatlah sistem sosialisasi & reward yang tepat

ü  Permainan seputar jargon “budaya  kerja”

ü  Memberi hadiah-hadiah kecil

ü  Sosialisasi berkesinambungan

ü  Sharing (sikap,SOP,tatanan organisasi,layout kantor,kemasan produk, dll)

ü  Sistem evaluasi

#Contoh budaya kerja :

  • Partisipasi 100 %
  • Etos kerja
  • Disiplin
  • Upaya bersama
  • Loyalitas
  • Integritas

#Budaya kerja yang tepat :

  • Karakter menarik untuk menciptakan branding
  • Membangun lingkungan kerja yang kondusif
  • Mendukung cara kerja karyawan yang efektif dalam mencapai target

#Budaya Kerja Vs Branding

“Merk harus memiliki kepribadian/identitas”

Cerminan Leader

Akumulasi Karakter

Budaya Kerja Selaras

SELAMAT MENYUSUN BUDAYA KERJA PERUSAHAAN ANDA !!!

Serangan Pacet Curug Kembar

Curug Kembar Sukabumi

Liburan semester ganjil kini telah tiba. Sebagian besar kampus di Bandung pun ternyata sama, hanya satu kampus yang bisa dibilang aneh yaitu ITB. Saat kampus lain libur, ITB malah sudah masuk kuliah. Libur ini aku manfaatkan untuk pulang ke kampung halaman tercinta, Sukabumi.

Liburan kali ini seakan menjadi harapan yang menyenangkan bagiku. Ketika di Bandung harus berkutat dengan berbagai macam persoalan, kini saatnya waktu yang tepat untuk refreshing.

            Akhirnya aku pun bisa berkumpul dan bercengkrama dengan keluarga. Ku coba memanfaatkan momen yang ada untuk semakin dekat dengan keluarga. Selain itu, ternyata sahabat karibku, Ibay pun ada di rumah. Kami akhirnya bisa bertemu kembali setelah sekian lama tak jumpa.

Seperti biasa, pertemuanku dengan Ibay selalu melahirkan ide-ide yang cemerlang. Salah satu yang selalu ku tunggu yaitu petualangan. Ibay akhirnya merekomendasikan tempat ke curug kembar di wilayah kawasan wisata Situ Gunung, Cisaat, Sukabumi. Tanpa pikir panjang, akhinya kami setuju untuk pergi kesana.

Tanggal 23 Januari 2013 adalah terjadinya momen manis tersebut. Selama 21 tahun aku tinggal di Sukabumi baru tahu ternyata ada yang namanya curug kembar. Hhmmm, kemana aja selama ini aku ? Kami mulai petualangan pukul 09.00 WIB. Bersama Ibay dan Abhe, kami siap untuk bertualang ke Curug.

Perjalanan menuju kawasan situ gunung kami tempuh menggunakan kendaraan umum. Barulah kami start berjalan ke curug dari pintu gerbang Cinumpang. Terpukai aku saat itu melihat kondisi alam yang sangat segar, jarang sekali aku merasakan ini di Bandung. Langkah demi langkah kami terus menuju curug. Di perjalanan, Ibay memberi tahu suatu tanaman yang bisa dimakan, namanya begonia. Setelah dicoba, rasanya memang segar dan masam. Recomended buat teman-teman yang suka survival.

            Ternyata perjalanan hingga ke curug bukan hitungan menit, melainkan jam. Serunya, perjalanan kami ini ditemani oleh puluhan pacet. Alhasil perjalanan kami terus tersendat karena harus membuang pacet-pacet terlebih dahulu. Salahnya, kami tidak membawa logistik yang lengkap. Persediaan air hanya 1 botol, sedangkan makanan hanya membawa enam gorengan.  Namun semangat kami sangatlah tinggi untuk mencapai curug yang ternyata masih banyak orang yang belum tahu dengan curug ini.

Perjalanan kami kian dekat. Gemuruh air terjun itu semakin terasa dekat. Waaaw, menambah rasa semangat kami. Rupanya perjalanan kesana tidaklan mudah. Ada satu track menurun yang tajam dan harus dilalui dengan tali. Untungnya ada akar dan tali yang sangat kuat. Perlahan satu persatu dari kami menuruni bukit itu. Akhirnya sampai juga dibawah. Kami tambah kecepatan hingga suara gemuruh air itu kian terasa dekat. Akhirnya, petualangan ini sampai. Ternyata membutuhkan waktu 2 jam untuk berjalan menuju curug nan indah ini.

Subhanallah. Sebuah pemandangan yang sangat indah. Dua buah air terjun kembar. Udara yang sangat segar, gemuruh air yang sangat besar, menambah kenyamanan kami saat tiba di curug. Apalagi kecepatan air di curug kembar ini sangat besar. Hingga pakaian kami semua basah kuyup. Inilah ciptaan Sang Maha Kuasa, tak mungkin hal ini diciptakan oleh tangan-tangan manusia yang tak luput dari dosa. Ya Allah aku bersyukur pada-Mu atas segala nikmat yang telah Engkau berikan.

Momen ini tentunya tak akan kami lepaskan begitu saja. Dokumentasi harus selalu ada di setiap petualangan yang kami lakukan. Sisa waktu itu kami gunakan untuk berfoto. Sayangnya tanda-tanda rintik hujan mulai turun. Artinya kami harus segera meninggalkan tempat ini lebih cepat.

Jika saat perjalan menuju curug kami bersantai ria, untuk pulang ini kami memutuskan untuk maraton. Cuaca yang tidak mendukung membuat kami mendadak bergerak sangat cepat. Kami berlari sangat cepat. Tak memperdulikan lagi pacet atau hujan, terus kami bergerak menuju pos awal. Bahkan tebing pun kami hajar dengan sangat lihai. Akhirnya kami melihat sebuah gubuk dan memutuskan untuk istirahat terlebih dahulu.

Badan kami sudah basah kuyup. Parahnya kami terkena serangan pacet. Abhe terkena dibagian dada ke atas, Ibay terkena dibagian perut, sementara aku sendiri diserang bagian kaki. Walhasil kami disibukan untuk menjauhkan pacet-pacet ini. Hampir setengah jam kami di gubuk itu, saat cuaca mulai membaik kami meneruskan perjalanan pulang dengan agak santai.

Kondisi pakaian yang basah, membuat kami bertiga sangat kedinginan. Akhirnya kami pun tiba di pos awal. Kembali kami beristirahat sejenak sambil menghangatkan badan dengan makan mie dan minum kopi.

Suatu perjalanan yang menantang. Inilah bagian kehidupanku yang sangat indah. Kami bertiga akhirnya pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas. Teman-teman inilah kisah kami di Curug Kembar. Tunggu kisah kami selanjutnya.

Keajaiban Gunung Padang

Gunung Padang

            Alam di bumi ini terhampar luas. Mulai dari daratan hingga lautan. Ada rasa tersendiri yang sangat mengagumkan saat aku berada di tempat yang sangat indah. Ternyata tak perlu jauh-jauh untuk melihat sebuah pemandangan indah nan elok. Di negeri kita saja sudah sangat banyak sekali keragaman. Termasuk juga di wilayah rumahku, Sukabumi.

Libur telah tiba. Setelah dua semester aku menjalani dunia perkuliahan di Bandung, kini akhirnya bertemu kembali dengan libur. Aku pulang ke kampung halaman Gunung Goong. Rasa rindu pun terobati saat tiba di rumah. Hari-hari ku lewati tanpa keluar rumah. Tapi bukan Fauzi namanya kalau tak ada hari yang dilewati dengan petualangan.

Awal ceritanya terjadi saat sahabat karibku, Ibay datang ke rumah. Dia mengajakku untuk menemaninya pergi ke Gunung Padang melakukan penelitian tugas kampusnya. Waktu itu rasanya malas sekali untuk bepergian. Namun tidak salah juga kalau ku coba. Tanggal 1 Juni 2011, petualangan pun dimulai.

Udara pagi di hari rabu itu sangat sejuk. Seakan mendukung petualangan kami ke Gunung Padang. Bicara Gunung Padang sendiri, aku tidak tahu persis letaknya dimana, tapi katanya di perbatasan sukabumi dan cianjur. Kami pergi kesana menggunakan setelan lari pagi dan mulai berangkat jam enam pagi.

Petualangan dimulai dengan naik angkot dari rumah menuju daerah cilangla. Dari sinilah perjalanan dimulai. Kami mulai berlari dari cilangla. Kemudian kami susuri rel kereta api. Hingga ternyata kami sampai pada sebuah terowongan bernama lampegan. Terowongan ini dulu pernah roboh, sehingga jalur kereta Sukabumi –  Bandung hingga kini masih belum kembali berjalan. Ternyata terowongan ini sudah sangat tua. Dibangun pada masa penjajahan Belanda tahun 1879, hingga kini tetap masih terlihat indah. Menurut kabar yang ada, jalur kereta Sukabumi – Bandung ini akan segera kembali dioperasikan. Semoga hal itu memang terjadi, sehingga bisa lebih mudah kalo pergi ke Bandung.

Tak terasa juga perjalanan kami, sudah pukul 08.00 WIB ternyata. Setelah keluar dari terowongan, ternyata ada tulisan Cibeber. Sangat kaget juga, ternyata kami jalan hingga sejauh ini. Cibeber itu sudah masuk wilayah Cianjur. Tapi tak apalah, memang keindahan di sepanjang perjalanan membuat kami sangat menikmati alam ciptaan Sang Maha Kuasa ini.

Perjalanan berlanjut. Objek kami Gunung Padang masih jauh. Sempat ada rasa putus asa juga, saat kami bertanya pada tukang ojeg sekitar, katanya untuk menempuh Gunung Padang itu masih puluhan kilo lagi, kalo pake motor pun masih berjam-jam lagi. Namun jiwa petualangan kami tetap bergelora. Tantangan pun kami terima. Kini ternyata jalurnya lebih sulit, sepanjang perjalanannya ternyata menanjak.

Tantangan itu sepertinya bukan apa-apa bagi kami. Apalagi di sepanjang jalan yang kami lewati penuh dengan kebun-kebun teh yang indah. Rasanya malah menambah cerita segar bagi kami.

Di depan tampak ada pertigaan. Waw, perjalanan kami menuju Gunung Padang ternyata menempuh jarak 3 km lagi. Sejenak kami berisitirahat sambil membeli makanan di warung. Cukup lama juga. Saat itu sekitar jam 9 atau 10 kami berada di pertigaan.

Peristirahatan kami ini membuat kondisi badan terasa lebih segar dan siap kembali menuju Gunung Padang. Jalan-jalan yang penuh dengan kebun teh membuat langkah kaki ini berjalan semakin cepat. Semangat itu semakin terasa saat ada plang bertuliskan lokasi situs megalith Gunung Padang tinggal 1 km lagi. Dengan berguyur keringat pada pakaian kami, langkah ini terus berjalan sangat cepat melawan segala rasa lemas dalam diri ini. Hingga akhirnya kami tiba juga di lokasi. Situs megalith Gunung Padang. Inilah nama lokasi yang kami tuju. Ternyata berada di Cianjur, tepatnya di wliayah Cibeber. Dahsyat juga bisa berjalan dari Sukabumi ke Cianjur.

 

 

Gunung Padang

Rasa lelah kami sama sekali tak terasa. Langsung saja kami berfoto sejenak di lokasi. Kami pun bertanya seputar Gunung Padang pada juru kunci disana. Dari informasi yang kami peroleh, ternyata Gunung Padang ini merupakan situs megalih peninggalan zaman purbakalan terbesar se-Asia Tenggara. Hanya saja, hingga saat ini pemerintah belum memperhatikan situs megalit ini.

Tempat ini pun ternyata penuh dengan sejarah. Konon, tempat ini ditemukan pada tahun 1914.

Gagal No Problem ! Sukses, It’s Ok.

sukses-ok

Pada zaman sekarang ini, banyak calon pengusaha yang ingin membuka usaha dalam bentuk motive profit guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, sangat disayangkan sekali bila para calon pengusaha takut akan resiko yang nantinya akan dihadapi.

Padahal, seorang entrepreneur sejati adalah seorang yang bisa memanfaatkan sebuah peluang dan juga berani untuk mengambil resiko, termasuk resiko mengalami kegagalan.

Banyak orang yang beranggapan bahwa “kegagalan” adalah suatu akhir dari segalanya. Banyak orang juga berparadigma bahwa “sukses adalah suatu keberhasilan yang dalam menggapainya tidak pernah mengalami hambatan dan tidak pernah mengalami kegagalan.

Hal itu sangatlah salah besar. Sebenarnya, Tuhan sudah menciptakan kegagalan satu paket dengan kesuksesan. Walaupun berbeda sifat, tapi dapat diibaratkan seperti dua sisi mata uang koin. Disisi yang berbeda memiliki perbedaan yang sangat jelas, tetapi masih tetap satu kesatuan dalam koin tersebut.

Alasanya, mengapa Tuhan menciptakan kesuksesan dan kegagalan dalam satu paket padahal berbeda sifat? Jawabanya adalah, agar kita pada saat mengalami kesuksesan dapat menikmatinya semanis mungkin. Alasan kedua adalah, agar kita dapat selalu bersyukur dan ingat kepada Tuhan dan melatih mental kita dalam berikhtiar.

Sebenarnya, kesuksesan yang hakiki adalah bangkitnya Kita dari sebuah kesusahan atau kegagalan dan berhasil membalikan keadaan, dari yang asalnya gagal menjadi sukses.

Maka dari itu paradigma para calon entrepreuneur yang beranggapan bahwa “kegagalan adalah akhir dari segalanya” harus secepat mungkin dipatahkan dan diubah.

Namun, dalam menggapai kesuksesan dibutuhkan langkah-langkah tertentu untuk mewujudkannya. salah satu cara yang paling efektif dan paling dasar adalah meningkatkan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.

Dengan meningkatkan kualitas kecerdasan emosi dan spiritual, maka dengan kata lain kita telah meningkatkan keimanan. Dengan tebalnya keimanan kita terhadap Tuhan, maka segala rintangan apapun akan mudah kita hadapi.

Pada hakikatnya, orang bodoh dikalahkan orang terpelajar. Orang terpelajar dikalahkan orang cerdik. Orang cerdik dikalahkan orang hoki. Orang hoki dikalahkan orang nekat. Orang-orang ini semuanya dikalahkan  Oleh orang beriman.

Dengan cerdasnya emosi dan spiritual kita, maka kita dapat dimungkinkan sekali untuk melakukan tindakan-tindakan yang tepat dalam menjalankan roda bisnis.

Pada zaman dahulu, seorang Samurai sejati sudah mempersiapkan dirinya untuk mati sebelum Ia bertarung. Tapi, yang terjadi adalah musuhnya yang mati. Sama halnya dengan entrepreneur sejati. Apabila Ia ingin menggapai kesuksesan, maka Ia harus berani mengambil resiko dan berani untuk gagal lalu bangkit kembali.

Maka dari itu, bangkitlah untuk menjadi seorang entrepreneur sejati. Jangan tunggu kondisi membaik, tetapi lakukan sesuatu agar kondisi membaik. Dan jadilah seorang entrepreneur yang sukses menurut penilaian Tuhan, bukan menurut penilaian manusia. Terus pegang teguh prinsip kebenaran !

Allahu Akbar !

by: win@formais

 

Be Smart!

smart
Cerdas? Nggak semua orang bakal bisa. Pikirmu, cuma orang-orang jenius aja yang rajin ngonsumsi AA dan DHA plus probiotik bakal sanggup naik jadi selevel mereka. Itupun terjadi kalo otak kita mau di tune up sama Pentium 9. Wet! Ibarat mobil Ferrari F2004 mereka melesat. Sedang kita juauh ketinggalan di belakang. Bak bajaj bajuri yang ikut lomba formula 1. Nggak matching lagi!!.

Cerdas? Itu satu menu yang anggun buat diucapin. Tapi susah untuk dimasak di dapur otak kita. Nggak percaya?? Selama hayat dikandung badan dan berbalut baju seragam sekolah atau meski udah kuliah, kita hanya faham kalo yang namanya cerdas adalah temen-temen kita yang berotak Einstein dan berdoku Bill Gates. Jago banget kalo tandang buat ngatasi semua pelajaran. Matematika? Itu soal kecil..Fisika? Selesai cuma dengan jentikan jari. UTS plus UAS? Nggak perlu belajar lagi..(Nyontek kali!!??). Pokoknya semua mata pelajaran berbumbu apapun mulai dari yang rasa barbeque hingga ayam goreng mampu mereka lahap. Ye..kertas koq dilahap!!

Cerdas? Itu satu kata yang nggak ada ujungnya. Bila ada orang yang merasa paling pinter. E..e ternyata ada lagi yang pinternya lebih edan-edanan. Nggak ada juntrungannya. Kita nggak sadar kalo yang namanya cerdas itu nggak cuma ada pas kita berada di bangku sekolah. Mberesin semua mata pelajaran yang susah-susah. Tapi kikuk dan jadi linglung kalo ngomong soal gimana caranya wudhu. Wah, nggak lucu men. Kita jadi jempolan pada saat jadi ketua OSIS atau BEM dan sukses besar ngadakan Open Air. Tapi kita jadi jari kelingking kaki saat ada saudara muslim kita di Palestina yang lagi kesusahan. Kita mampu bikin orang lain seneng dan sumringah ketika nyanyi lagunya Peterpan “Aku dan Bintang”. Tapi kita bikin Allah geram dengan tingkah polah kita yang akrab dengan julukan Raja sawer dan gaul bebas. Kita mampu buat guru-guru dan dosen geleng-geleng kepala dan tersenyum bahagia saat nilai rapor dan KHS kita penuh dengan poin sepuluh alias A. Tapi kita membuat Qur’an sebagai bahan ejekan saat sobat kita yang lain lagi berjuang negakkan syariah Islam. Sebel nggak sih??

Cerdas? Nggak semudah yang diharapkan. Tapi nggak sesulit yang dibayangkan. Orang yang cerdas itu orang yang ngerti sama keadaan sekitar. Dia nggak akan tutup mata. Soalnya, dia paham kalo dia merem sekejap saja, kesempatan emasnya bakal hilang. Dan itu nggak akan muncul yang kedua kalinya. Dia ngerti setiap waktu adalah peluang yang kudu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Waktu nggak akan muncul lagi for twice. Apalagi mati nggak mandang tempat dan umur. Apapun momen yang ada, nggak akan dia sia-siakan. Belajar? Nggak pandang waktu dan tempat. Asal belajar yang bener dan halal. Eit..juga jangan lupa doanya lho! Nggak mbatasi belajar pelajaran umum atau belajar tentang Islam. Study club? Kesempatan bagus buat nambah ilmu dan teman. Kajian keislaman? Momen pas untuk jalin ukhuwah dan wawasan. Top di sekolah top di agama.

Cerdas? Kuncinya cuma dua. Kalo ada peluang kita mau usaha. Nah, kalo nggak ada peluang, maka kita yang kudu bikin supaya peluang itu jadi ada. Jadi usaha kita nggak sia-sia. Usaha kita nggak ngawur. Dan usaha kita punya tujuan yang jelas. Itu yang udah dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Mereka mampu bikin peluang sehingga usaha dakwah mereka pun berhasil. Dakwah mereka ngalir sampe jauh ke negeri kita. Coba kalo mereka dulu nggak usaha, kita masih bakal pake koteka dan nyembah berhala. Kita pun juga bisa seperti rasul dan sahabat beliau. Merekalah orang-orang yang bener-bener cerdas, yang patut ditiru. Oce deh.. (pengen nambah info?? Klik aja http://www.islamuda.com)

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, hingga mereka (kaum itu) merubah keadaannya sendiri.” (TQS. Ar Ra’du: 11)

ANDAIKAN BUKU ITU SEPOTONG PIZZA

pizza

Penulis: Hernowo

Ya, andaikan buku-buku yang ada di rak-rak perpustakaan adalah “makanan” kesukaan kita. Apa jadinya ya? Tentu kita akan lahap membacanya. Inilah “kunci” untuk membuka gembok yang menyebabkan kita enggan membaca buku.

“Kunci” ini, oleh Stephen Covey (penulis The 7 Habits of Highly Effective People), disebut paradigma. Apaan tuh paradigma? Paradigma adalah kacamata. Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.

Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi? Anda merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat yang timbul dikarenakan Anda mempertahankan paradigma kacamata minus 2 Anda.

Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini: “Wah, boring deh membaca buku yang tebal-tebal itu.” Atau ini: “Setiap kali membaca buku ilmiah, saya tentu ngantuk.” “Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca buku bikin kepala cepat botak!”

Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam membaca buku. Memang, tidak semua orang memandang aktivitas membaca buku ilmiah seperti itu. Nah, tulisan ini akan mencoba membantu siapa saja yang merasa masih kesulitan untuk memasuki dunia buku.

Menganggap Buku sebagai “Makanan”

Pertama-tama, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah paradigma (atau kacamata) dalam memandang buku. Buku sama saja dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkanlah apabila jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi? Tubuh kita akan loyo dan sakit-sakitan.

Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi. Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan dengan ceramah.

Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita ngantuk, maka pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih makanan yang Anda gemari.

Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dulu siapa pengarang buku tersebut. Atau Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat Anda). Mintalah kepada mereka untuk menunjukkan lebih dulu hal-hal menarik yang ada di buku itu.

Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat. Anda dapat ngemil membaca di pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti, di sore hari, tambah 10 halaman.