#9.Formais Effect – Gina Noviana Yuniar

stie ekuitas bandung

Gumpalan tipis lembut bagai kapas nan putih itu terus turun perlahan lalu menempel di aspal, rerumputan, tanah, atap-atap gedung dan menyepuh kota Bandung menjadi serba putih. Kota Van Java itu seolah diselimuti jubah ihram orang-orang suci. Dalam suasana serba putih, Bandung seolah memamerkan keindahan sihirnya di musim dingin.

Jalan-jalan yang putih dan bangunan-bangunan yang disepuh kabut. Pohon-pohon  yang menjelma hamparan permadani serba putih. Tetesan-tetesan air  yang jatuh dari ranting pohon membeku menciptakan keindahan ukiran kristal.

 

Aku adalah seorang remaja yang terhempas dalam kenyataan hidup ditengah arus globalisasi. Mungkin lebih tepatnya bukan seorang remaja lagi, dengan usiaku  yang  sudah  19 tahun ini sudah saatnya aku menghilangkan predikat remaja itu menuju masa-masa dewasa.

Kini aku sudah tidak menikmati lagi dunia yang semu dan putih abu-abu itu, semuanya berubah menjadi dunia yang penuh warna setiap harinya. Predikat siswa yang aku sandang pun seketika berubah menjadi “mahasiswa” ya sekali lagi “mahasiswa” ! hiruk pikuk perjalananku sebagai mahasiswa pun dimulai dari sini, seolah aku mendapat dunia baru. Terlebih ketika aku mulai aktif bergabung dengan salah satu organisasi kampus yang berbau islami, seketika itu juga gejolak-gejolak dan euporia dunia kampus sesungguhnya aku rasakan.

Namaku Gina Noviana Yuniar, teman-teman biasa memanggilku dengan berbagai macam sebutan. Ada yang manggil Gina, Enggin, Ginong, dll semua sebutan itulah yang membuatku kini dikenal banyak orang dan bisa lebih dekat dengan teman-temanku. Aku salah satu mahasiswa STIE Ekuitas Bandung, jurusan S1 Manajemen. Keberadaanku di kampus ini juga memang awalnya bukan harapanku, karena sama sekali aku tidak pernah terbesit untuk masuk kampus ini. Kata yang lebih tepat untuk menggambarkan keberadaan aku di kampus ini mungkin karena “korban kekejaman SNMPTN” hehe..

Impianku saat aku masih duduk di bangku SMA yaitu bisa kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan salah satu universitas Negeri di Bandung yaitu UNPAD, tapi ternyata aku masih belum di beri kesempatan untuk bisa menikmati impianku itu (Allah sinis banget ya sama aku.. hehe) segala jerih payahku dan usaha-usahaku saat itu sudah aku kerahkan semaksimal mungkin, sampai kedua orang tuaku pun ikut andil merasakan jerih payahnya bersamaku. Tetap saja hasilnya masih belum sesuai harapan, dan kesimpulannya (Allah itu masih sinis sama aku) hingga akhirnya aku dilemparkan (terjebak) masuk di kampus STIE Ekuitas. Dengan segala kerendahan hati aku pun berusaha menerima semua keputusan (takdir) ini, karena mungkin dibalik semua ini Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik dan indah untukku di kampus ini.

——ooo0^_^0ooo——

Setelah kurang lebih 1 bulan aku menikmati masa-masa menjadi seorang mahasiswa aku mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan kampus. Aku sudah bisa menyesuaikan dengan lingkungan kampus yang hampir 83% mayoritas mahasiswanya “gaya/modis”. Tapi itu tidak menjadi masalah untukku. Saat itu aku masuk di kelas manajemen 7, aku mulai punya teman dekat, saat itu Intan, Putri, Dian, dan Ghaini. Mereka berempat adalah teman dekatku saat itu.

Pada saat awal semsester pertama, kami berempat memutuskan untuk ikut aktif di organisasi kampus yang sama. Karena saat itu memang hubungan pertemanan kami sangat erat sekali. Suatu hari, temenku Dian sedang asyik ngobrol dengan seorang laki-laki yang kelihatannya lebih tua dari kita. Ternyata benar saat itu Dian sedang ngobrol dengan Kak Rizky (nama laki-laki itu). Kak Rizky itu adalah salah satu pengurus FORMAIS. Ketika ku hampiri Dian yang sedang asyik ngobrol di loby, langsung ku tanyakan apa yang sedang mereka bicarakan. Dan Dian pun langsung menceritakannya kepada kami bertiga tentang obrolannya dengan Kak Rizky tadi.

Ternyata Kak Rizky mengajak kami berempat untuk ikut gabung di FORMAIS. Apa sih itu FORMAIS ? (sempat terbesit pertanyaan itu di pikiranku). FORMAIS adalah salah satu UKM (unit kegiatan mahasiswa) di kampusku. Atau sering disebut Forum Mahasiswa Islam. Tentunya UKM yang mungkin berkecimpung di dunia keislaman. Kalau di SMA ku dulu mungkin lebih dikenal dengan sebutan ROHIS, aku pun dulu sempat ikut ROHIS tapi hanya setengah jalan, selebihnya aku keluar. Hehe.. Lalu apa yang aku lakukan setelah tau maksud dari Kak Rizky ?

Untuk masuk ke FORMAIS aku masih harus berfikir 1000 kali, karena apa ? yah mungkin karakter atau kepribadianku yang takut tidak cocok dengan situasi dan kondisi di FORMAIS. Terlepas karena pengetahuanku tentang Islam masih sangat jauh dari kata “sempurna”. Shalat saja masih suka bolong, puasa sunah pun jarang, ngaji juga kalau lagi rajin aja, yah pokoknya segala jenis aktivitas yang menyangkut keislaman masih belum tertanam di diriku. Lantas bagaimana jadinya kalau aku sudah masuk di FORMAIS ? Apakah aku akan dipaksa untuk bisa khatam 30 juz? Dipaksa untuk bisa mengaji dengan lafal tajwid yang fasih? Bla bla bla… semua pemikiran-pemikiran itu muncul seketika dalam pikiranku.  Memang aku sendiripun mempunyai penilaian yang tinggi terhadap organisasi yang berbau islami itu, terlebih mungkin dari tujuan-tujuannya yang mulia dan berniat baik untuk perubahan islam. Akan tetapi yang jadi masalah, aku takut orang-orang yang berada di FORMAIS tidak bisa menerima keberadaanku dengan kondisiku saat ini. Yang masih selengean, belum faham tentang islam.

Satu bulan yang kunikmati ini rasanya tidak memberika kesan yang fanatic tentang dunia perkuliahan. Yang aku lakukan saat ini hanya “kupu-kupu” – “kuliah-pulang-kuliah-pulang”. Bosan rasanya jika setiap hari yang aku lakukan hanya seperti ini, dan sayang rasanya jika uang kuliah yang sudah orang tua ku berikan kepada kampus ini hanya digunakan sebatas untuk kuliah saja. Seseorang yang sukses dan berhasil ini tidak cukup hanya memiliki kemampuan hardskill saja, akan tetapi ada unsure yang lebih penting yang akan menunjang seseorang bisa sukses yaitu kemampuan softskill yang harus dimilikinya untuk menunjang semua kemampuan hardskill yang sudah dia dapatkan dibangku kuliah. Dengan kata lain, kita tidak hanya harus jago dalam menguasai teorinya saja tapi kita harus mampu mengaplikasikan semua yang sudah kita dapat itu.

Renungan-renungan itu terkontaminasi ke dalam otakku, sempat ku menelan dalam-dalam ludahku sendiri. Atas dasar renungan itu kini pikiranku lagi-lagi teringat akan ajakan Kak Rizky untuk ikut bergabung di FORMAIS.

Dulu dari mulai aku SMP sampai SMA, aku memang tipekel orang suka aktif di organisasi. Semua ekstrakulier yang ada di sekolahku hampir ku ikuti. Dari mulai aku aktif di PMR dan menjadi coordinator organisasi tersebut (SMP), menginjak SMA aku ikut aktif di PRAMUKA dan menjadi coordinator bagian Litbang (penelitian dan pengembangan), menjadi Ketua MPK OSIS (Majelis Permusyawaratan Kelas), menjadi anggota salah satu ekskul islami yaitu ROHIS, aktif di komunitas-komunitas ilmiah di sekolah, dan sampai aktif di organisasi luar yang cakupannya saat itu adalah se-kabupaten Kuningan yaitu menjadi anggota DKC (Dewan Kerja Cabang) PRAMUKA Kuningan. Segudang pengalaman dan ilmu aku dapatkan disana, kini menjadi seorang aktivis dan organisatoris telah menjadi sebuah kewajiban. Karena aku ingin kelak hasil pemikiran-pemikiranku nanti berguna untuk orang lain dan mampu memberikan inspirasi serta aspirasi untuk dunia.

“ apa aku ikut FORMAIS saja?” tanyaku dalam hati.

“ setidaknya dengan aku ikut FORMAIS, sebagian dari waktuku tidak terbuang sia-sia. Aku bisa ikut melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat disana, aku juga bisa mendapatkan ilmu-ilmu yang mungkin belum pernah aku dapatkan sebelumnya.” Pikirku saat itu.

Dengan kondisiku yang seperti ini, masih jauh dari kata “sempurna” sebagai makhluk Allah dalam mengenal Islam, tidak ada salahnya aku mencoba memperbaiki semua itu dari sekarang. Mungkin inilah jalan yang Allah berikan untukku, dengan masuk di organisasi FORMAIS, aku berharap, aku bisa menemukan tujuan hidupku yang sebenarnya apa ? terlebih kodrat ku sebagai wanita, yang pasti menginginkan diri ini menjadi seorang wanita shalehah di mata Allah dan orang lain. Serta seberapa bermanfaatnya diriku ini untuk orang lain ?

——ooo0^_^0ooo——

 

Tidak perlu waktu setengah jam dan berfikir 1000 kali lagi untukku menemukan tempat yang tepat untuk menghabiskan waktu-waktu yang bermanfaat. FORMAIS, ya FORMAIS jawabannya. Saat itu langsung aku dan teman-teman mengisi formulir pendaftaran yang di kasih Kak Rizky waktu itu, segera ku isi form itu dengan yakin dan penuh harapan.

Meski rasa yakin itu kini sudah tumbuh dalam benakku, tapi rasa yakin itu masih jauh lebih kecil dibanding dengan niat awalku yang hanya sebatas ikut-ikutan masuk FORMAIS. Hanya mengikuti teman-temanku yang kebetulan mereka juga memilih FORMAIS, entah apa yang akan terjadi nanti. Keputusanku ini tentunya akan menghasilkan risiko dan aku siap untuk menerima risiko itu.

Hari demi hari terus berjalan. Pergantian waktupun tidak dapat dielakan. Perubahan adalah sebuah realitas yang harus dihadapi. Sebagai konsekwensi logis atas akhir dari setiap langkah. Paradigma hidup merupakan acuan dalam melangkah. Sebagai barometer dalam menjalani hidup. Menuju sebuah wujud misteri.

Ibarat seekor anak burung yang habis terbang kesana kemari lalu masuk sangkar dan disambut induknya dengan hangat. Itulah yang menggambarkan kondisiku selama satu tahun di formais. Segudang pengalaman baru, ilmu-ilmu yang luar biasa yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan, pelajaran-pelajaran sederhana tentang kehidupan aku dapatkan disini.

Pertama berawal dari keikutsertaan aku jadi panitia Gebyar Islami, disana untuk pertama kalinya aku merasa menjadi orang yg berguna bagi orang lain. Rasa kekeluargaan dan kebersamaan antara panitia sangat erat sekali. Aku seperti mendapatkan keluarga baru, aku belajar bagaimana menghargai pendapat orang lain, aku belajar mengatur waktu.

Kedua, pengetahuanku tentang aqidah, fiqih, dan ilmu-ilmu tentang keislaman bertambah. Semenjak aku rajin mengikuti kajian-kajian keislaman di formais. Selain itu, aku mendapat teman baru dari berbagai universitas yang ada di bandung. Seperti upi, unpad, uin, itb. Loh kok bisa ? ya iyalah bisa, karena kajian-kajian yang aku ikuti itu ternyata berkerjasama dengan LDK-LDK dari universitas lain. Kadang aku dan teman-temanku di formais yang berkunjung ke universitas mereka dan itu adalah hal yang luar biasa untukku.

Selanjutnya, di formais aku belajar menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap suatu hal, menjadi orang yang bisa memilih mana yang lebih penting dan mana yang mendesak, belajar bagaimana memilih sesuatu yang menjadi suatu prioritas. Yaa, itu lah dunia organisasi sesungguhnya yang aku rasakan. Ketika segala sesuatunya kita korbankan demi sebuah komitmen dan loyalitas. Terbukti ketika aku dan teman-temanku di formais melaksanakan proker Qurban. Saat itu yang biasa aku pulang ke kampong halamanku untuk melaksanakan idul adha disana, tetapi untuk pertama kalinya aku justru melaksanakan idul adha itu di bandung bersama formais. Apa saja yang aku lakukan ? bagaimana bisa aku sampai meninggalkan moment penting itu bersama keluargaku ?

Tepat pada hari itu aku melaksanakan shalat id di bandung bersama formais, dan untuk pertama kalinya pula aku melaksanakan qurban bersama formais. Yang biasanya aku hanya melihat hewan-hewan qurban di potong di lapangan, tapi sekarang justru aku terlibat langsung dalam pelaksanaan qurban itu. Dari mulai pemotongan hewannya, pembagiaan hewan qurban ke suatu desa terpencil di daerah bandung, dari sana aku belajar berbagi dengan orang-orang yang membutuhkan.

Lain halnya dengan pengalamanku yang satu ini, ini pun pengalaman pertama yang paling berkesan selama aku di formais. Dimana ketika aku dan pengurus formais melaksanakan salah satu proker yaitu “Tebar Kebahagiaan bersama Kaum Dhuafa” proker yang dilaksanakan setiap bulan ramadhan itu membuatku sedikit tersentuh. Saat itu kami mengundang 350 orang kaum dhuafa dan anak yatim untuk hadir ke kampus dan disana aku dan teman-temanku berbagi sembako dan uang untuk mereka. Lalu apa yang sampai membuat hatiku tersentuh ? aku tersentuh dengan seorang nenek tua paruh baya yang sedang ikut mengantri menunggu pembagian sembako. Pada saat itu tiba-tiba ada seorang ibu yang menghampiriku dan bilang, “de bisakah nenek ini didahulukan? Kasian dia datang kesini sendirian dan nenek ini sudah tidak punya siapa-siapa lagi.” Akhirnya dengan melihat kondisi si nenek yang memang sepertinya sudah tidak mampu lagi berdiri lama di aula, aku pun langsung memberikan bagian sembako dan uang untukknya dan seketika itu pula aku meneteskan air mata.

Pengalaman menjadi seorang pedagang pun aku pernah alami di formais, hal itu sama sekali tidak membuat ku malu karna dulu pun Rasulullah adalah seorang pedagang. Saat itu aku berjualan makanan di kampus dan hasil dari dagangan itu adalah untuk kas formais sendiri dan untuk pemasukkan dana setiap proker.

Pengalaman kampanye zakat di sekitar daerah Bandung, sebagai seorang aktivis dakwah aku juga belajar bagaimana kita mampu mempengaruhi orang lain untuk berzakat. Saat itu dan teman-teman formais melakukan demontrasi masal untuk menyuarakan betapa pentingnya berzakat.

Pengalaman mengajar dan berbagi bersama anak-anak SD di suatu daerah di Bandung pun kelak aku lakukan. Saat itu ada salah satu proker bernama “Rihlah” itu adalah suatu kegiatan dimana kita bersama-sama turun ke lapangan untuk mengetahui seberapa pengabdian kita untuk orang lain. Berbagi, bermain, dan belajar bersama anak-anak SD itulah yang aku dan teman-teman formais lakukan selama 2 hari. Its best experience J

Yang tak kalah berkesan dan membekas adalah pengalaman ketika aku mengikuti suatu acara yang luar biasa, yaitu acara “Muda Mulia”. Itu adalah salah satu acara yang mebuat hidupku berubah 180 derajat. Kenapa ? awalnya aku tidak percaya dengan acara yang seperti itu, namun temanku Galih dan Asifa yang sudah mengikuti acara it uterus-menerus meyakini aku untuk ikut. Karena acara itu akan benar-benar merubah hidupmu menjadi jauh lebih baik, kita akan dipertemukan dengan”berlian” yang ada dalam diri kita yang mungkin masih tersembunyi dan tidak pernah tau. Akhirnya setelah aku mendengar cerita dari beberapa teman formais yang sudah ikut acara itu, aku pun berubah fikiran untuk ikut acara itu. Tepat tanggal 2 dan 3 september aku mengikuti acara Muda Mulia, sebulan training yang benar-benar luar biasa. TERBUKTI ! selama dua hari aku ikut training itu, seperti ada yang berubah dalam jati diriku. Pastinya berubah menjadi seorang yang lebih percaya diri, seorang lebih optimis akan semua mimpi-mimpiku, dan berani mewujudkan semua impian dan mimpi-mimpi itu. Hingga keyakinan itu aku buktikan ketika aku dan temanku Ami mengikuti lomba karya tulis yang diadakan oleh IPB. Aku, Ami dan Defi berhasil masuk ke 5 besar. Ya karya tulis kami berhasil menjadi juara di 5 besar, dan itu sungguh hal-hal yang tidak terduga. Karna saat itu kami pun harus pergi ke Bogor tepatnya ke kampus IPB untuk melakukan persentasi karya tulis kami.

Akhirnya kakiku berhasil berpijak disebuah kampus yang merupakan salah satu kampus idaman, untuk berjuang membawa nama baik kampus dan khususnya FORMAIS dalam persentasi karya tulis. Ini sungguh pengalaman pertamaku selama aku mengikuti berbagai macam lomba menulis dan hasilnya sampai sejauh ini. Karna lomba ini adalah lomba nasional, dimana saingan-saingan kita pun dari berbagai kampus ternama, salah satunya dari Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, STIE Tazkia. Meski pada kenyataannya kami belum berhasil membwa juara 1, tapi aku dan yang lainnya tetap bangga terhadap prestasi ini.

Sejuta pengalaman-pengalaman berharga aku dapatkan di formais, dan semua itu sungguh membuatku takjub akan diriku sendiri.

——ooo0^_^0ooo——

Ada pepatah yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Sungguh salah satu pepatah yang bijak sekali. Semua itu sungguh-sungguh aku rasakan dalam kehidupanku. Aku selalu percaya bahwa setiap detik yang kita lewati, setiap langkah kaki yang kita lalui, dan setiap hembusan nafas yang kita keluarkan pasti aka nada suatu kebiakan yang kita dapatkan.

Hanya dengan niat dan selalu berfikir positif terhadap sesuatu itu membuat kita menemukan pribadi yang baru dan lebih menghargai kehidupan. Perubahan yang terjadi pada diriku selama aku berkecimpung di FORMAIS membuatku seperti menemukan sosok diriku yang baru.

Hidupku seperti lebih terarah, terasa jauh lebih nyaman dari sebelumnya, aku belajar bagaimana aku bisa menjadi manusia yang berharga di mata Allah. Aku belajar bagaimana aku bisa menggantung semua hidupku hanya kepada Allah, aku belajar bagaimana aku selalu berfikir positif terhadap semua takdir Allah, aku belajar bagaimana aku bisa bersyukur terhadap apa yang sudah aku dapat. Aku belajar bahwa segala sesuatu yang akan kita lakukan sebaiknya diniatkan karena Allah dan hanya untuk mencari ridho Allah.

Karena FORMAIS aku belajar banyak hal tentang kehidupan, yang mungkin tidak mampu aku ungkapkan satu per satu atau pun seuntai kalimat. Aku hanya bisa bersyukur karena mungkin inilah jalan yang Allah berikan padaku, dengan masuk FORMAIS aku banyak disadarkan oleh berbagai hal. Terlebih aku dituntut untuk selalu melakukan hal yang bermanfaat setiap harinya, belajar melakukan perbuatan baik kepada sesame, belajar menjadi seorang muslimah yang tunduk akan semua perintah-perintah Allah, belajar menjadi seorang muslimah yang selalu menjaga aurat serta kehormatannya dari orang lain, belajar menebar kebaikkan melalui dakwah.

Satu hal yang paling penting, janganlah kita menunggu bukti untuk suatu kebenaran tapi jadilah bukti itu sendiri dan tunjukkan kebenaran itu kepada orang lain. Begitu pula dengan FORMAIS, meski tak semua orang memandang FORMAIS positif, tapi aku selalu yakin karena disinilah tempat yang paling tepat untuk menegtahui semua kebenaran-kebenaran yang tidak pernah kita ketahui.

Meski di luar sana image sebuah lembaga dakwah itu adalah tempat berkumpulnya teroris, tapi TIDAK untuk FORMAIS. Menjadi lebih baik itu memang sulit dan butuh proses, tapi mau sampai kapan kita terus menunggu perubahan itu datang pada kita ? yuk kita sama-sama ACTION dan belajar dari awal untuk suatu yang lebih baik. Salah satunya dengan gabung dengan FORMAIS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s