Kegagalan demi kegagalan

Perjalanan pertama dimulai saat mengikuti PMDK ke IPB. Saya mengambil jurusan D3-Akuntansi dan D3-Manajemen Agribisnis. Perjalanan pertama ini bisa dibilang spekulasi. Background saya IPS bertolak belakang dengan kampus IPB yang sebetulnya sahabat karibnya jurusan IPA. Namun hasilnya ternyata benar-benar mengagetkan. Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 12 Maret 2010, saya mendapat surat dari kampus IPB dan ternyata saya dinyatakan DITERIMA sebagai calon mahasiswa IPB. Saya sangat bersyukur sekali atas hal itu. Orang tua pun ikut bangga atas keberhasilan saya. Apalagi setelah tahu, ternyata dari semua anak-anak jurusan IPS disekolah tidak ada yang diterima di IPB selain saya. Bangganya saya saat itu. Hehe J.. Tapi ternyata itu bukan tempat terbaik bagi saya untuk menimba ilmu. Setelah diskusi dengan kedua orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil PMDK IPB tersebut. Alasannya karena disana bukan S1, sehingga akan sulit untuk untuk menembus dunia kerja nantinya. Dengan begitu saya harus terus bersabar untuk menemukan tempat terbaik berkuliah. Karena saya yakin ALLAH SWT akan memberikan  yang terbaik.

Sambil menunggu persiapan USM STAN, saya pun tetap mengikuti tes ke universitas yang lainnya. Perjalanan kedua yang dilakukan yaitu SIMAK UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia). Jurusan yang dipilih yaitu, S1 Manajemen, S1 Akuntansi, dan S1 Ilmu Administrasi Fiskal. Pelaksanaan tes pada tanggal 11 April 2010 di SMAN 1 Kota Sukabumi. Saya akui, soal-soal SIMAK UI memiliki tingkat kesukaran yang tinggi. Sehingga agak pesimis juga terhadap tes yang kedua ini. Ternyata benar saja, ketika hari pengumuman tiba ternyata nama saya tidak tercantum. Artinya gagal maning-gagal maning. Namun itu tidak menyulutkan semangat saya. Karena katanya ketika kita sering gagal, maka sebetulnya kesuksesan sudah semakin dekat. Aamiin.

Dengan demikian perjalanan masih harus terus berlanjut. Saya yakin harapan itu pasti ada. Senyum orang tua terus mengiringi perjalan ini. Walau terkadang merasa malu karena belum juga mewujudkan impian mereka.

Akhirnya lanjut kepada perjalanan yang ketiga yaitu PMDK POLBAN (Politeknik Negeri Bandung). Di POLBAN saya mengambil jurusan D3 Akuntansi. Entah kenapa untuk tes yang ketiga ini ada rasa yang begitu optimis untuk menembus POLBAN. Bahkan saya merasa sering melihat tanda-tanda untuk kuliah disana. Hingga akhirnya dengan yakin saya mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya yakin dengan hasil PMDK. Tibalah pada hari pengumuman PMDK. Saya langsung online di lab komputer sekolah. Ketika di searching, nama Fauzi Noerwenda tidak ditemukan. Pikir saya mungkin koneksinya sedang gangguan. Kembali dicari tetap tidak ada. Namun teman saya yang bernama Imam ternyata ada. Berarti dapat dipastikan saya kembali gagal mendapatkan 1 kursi kuliah. Kegagalan kali ini begitu emosional. Keyakinan yang selama ini dirasakan ternyata tidak terwujud. Saya cukup kesal dan juga meneteskan air mata. Orang tua pun gelisah dengan kondisi saya. Bahkan nasihat mereka saya anggap sebagai luapan kemarahan. Padahal itulah sebenarnya yang terus mendorong saya untuk bangkit. Ketulusan sepasang bidadari yang senantiasa ada dikala suka maupun duka. Memang benar bahwa separuh kesuksesan kita adalah peran orang tua.

Beruntung saya memiliki orang tua seperti mereka yang terus mendorong dan percaya pada kesungguhan anaknya.

Selanjutnya terpaksa melakukan perjalanan yang keempat, melalui jalur SNMPTN. Kesedihan masih melanda ketika mulai melakukan pendaftaran SNMPTN. Rasa takut tidak mendapatkan kampus untuk kuliah terus membayangi alam bawah sadarku. Hingga akhirnya otak saya teracuni dengan keputusasaan. Untuk SNMPTN kali ini saya memilih jurusan yang sedikit peminatnya, karena memang saya hanya ingin mendapat satu tempat yang pasti seperti keinginan kedua orang tua. Jadilah Filsafat UI sebagai pilihan yang pertama dan Ilmu Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pilihan kedua. Tes pun dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2010 di Universitas Muhammadiyah Kota Sukabumi. Selama 2 hari pelaksanaan tes dapat dilalui dengan mudah. Terus saya panjatkan do’a kepada Sang Maha Kuasa untuk meminta yang terbaik bagi kehidupan saya. Hari pengumuman hasil tes akhirnya tiba. Saat itu saya tidak melihat secara langsung hasilnya karena dirumah tidak ada koneksi internet. Namun saya diberi tahu oleh paman bahwa nama saya masuk dan diterima di Ilmu Filsafat Universitas Indonesia. Awalnya saya pikir ini akhir dari perjuanganku mendapatkan satu kursi untuk kuliah. Ternyata kondisinya berbeda dari yang dibayangkan. Diawali paman yang menghubungi orang tua, dia menyarankan agar saya jangan mengambil jurusan filsafat. Intinya mereka menanyakan apa-apaan saya mengambil jurusan itu dan mau jadi apa nantinya. Segala macam pertanyaan terus bergentayangan dari mulai orang tua, paman, dan seluruh keluarga lainnya. Ok, saya akui ini memang kesalahan saya yang waktu itu merasa putus asa untuk berkuliah. Jadilah Ilmu Filsafat sebagai pilihannya. Dan dapat disimpulkan, hasil dari SNMPTN ini pun tidak diambil. Artinya perjalanan yang harus ditempuh masih panjang.

Tenggat waktu memasuki dunia perkuliahan semakin dekat. Dikala teman-teman yang lain sudah berbahagia karena sudah memastikan dimana mereka akan berkuliah. Saya masih harus berkutat dengan tes-tes yang diikuti. Kalau bukan adanya keyakinan saya kepada ALLAH SWT, saya mungkin sudah menyerah begitu saja. Namun saya yakin rasa sedih dari perjuangan ini akan terasa manis suatu saat nanti. Karena hasil itu mengikuti dari usaha yang telah kita lakukan, seperti perkataan sahabat saya dulu Karla Monica.

Perjalanan kelima pun dilakukan. UMB PTN (Ujian Masuk  Bersama Perguruan Tinggi Negeri) menjadi kendaraannya. Tujuan yang dipilih kembali menempatkan UI sebagai pilihan utama dengan jurusan manajemen. Pilihan kedua ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pilihan ketiga ilmu ekonomi pembangunan Universitas Negeri Jakarta. Pada tes kali ini saya benar-benar melakukan sebuah perjalanan yang begitu luar biasa. Tes kali ini dilaksanakan di Bandung, tepatnya di SMAN 2 Pasundan Cihampelas. Dengan modal nekat saya tetap akan berangkat sendirian walaupun saat itu tidak tahu Bandung sama sekali dan tidak tahu akan tidur dimana nantinya. Namun saya yakin ALLAH SWT akan membantu perjalanan yang mulia ini. Dan benar saja, sebelum berangkat. Ada 2 orang teman saya yang juga ikut UMB PTN, yaitu Kemal dan Moedrika. Allhamdulillah akhirnya kami bertiga melakukan perjalanan bersama dan ternyata Kemal mempunyai kaka yang tinggal di bandung dan dekat dengan tempat kami tes. Subhanallah.. Begitu banyak keajaiban yang ALLAH tunjukan selama proses perjalanan menuju dunia kampus. Singkat cerita saya pun mengikuti tes dengan penuh semangat. Dan mengakhiri cerita di Bandung dengan sebuh optimisme yang menggebu.

Namun semuanya berbalik 180° ketika pengumuman hasil tes tiba. Kembali kekecewaan menghampiriku saat nama Fauzi Noerwenda lagi-lagi tidak diterima di UI, UIN, ataupun UNJ. Kali ini tetesan air mata menemani kesendirian saya di kamar. Kesedihan terus menggelayuti, ketakutan tidak mempunyai masa depan cerah seakan-akan menjadi momok yang terus membayangi. Lagi-lagi keimanan yang menyelamatkan diri saya saat itu. Saya mencoba tegar dari kondisi yang ada dan tetap berpikir positif serta semakin yakin bahwa ALLAH pasti memberikan yang terbaik. Apalagi USM STAN belum dilaksanakan. Optimisme berkuliah di STAN seakan menutup kesedihan saya belakangan ini.

Dengan penuh semangat saya mengikuti les privat USM STAN. Satu minggu 3 kali tatap muka yang dilakukan. Karena  hanya tinggal beberapa bulan lagi USM STAN tiba.

Kondisi yang belum aman membuat keluarga saya, termasuk paman saya yang di depok khawatir. Ia menyarankan untuk mengikuti Ujian Mandiri PNJ (Politeknik Negeri Jakarta). Tanpa pikir panjang akhirnya kedua orang tua setuju untuk menjadikan PNJ ini sebagai perjalanan yang keenam untuk menembus dunia kampus. Di PNJ saya memilih jurusan D3 Akuntansi dan D3 Keuangan Perbankan. Pelaksanaan tes pada tanggal 24 Juli 2012 di Kampus PNJ Depok. Dengan begitu saya harus pergi lebih awal dan menginap di rumah paman saya di Depok. Sebelum tes saya mendapat nasihat dari beliau. Allhamdulillah nasihatnya begitu membangun dan membuat saya tetap semangat mengikuti tes ini.

Selama 2 hari tes, saya ditemani oleh saudara sepupu yang bernama Tegar. Dia begitu baik dan ikhlas mengantarkan saya sampai lokasi dan menunggu sampai tes selesai. Satu hal yang patut disyukuri dari kondisi ini yaitu saya memiliki keluarga yang benar-benar sayang kepada saya. Allhamdulillah terima kasih Ya Allah.

Waktu penantian akhirnya tiba. Ku nyalakan komputer dan ku sambungkan dengan internet untuk segera melihat hasil tesku. Ku lihat dan hasilnya membuat saya tak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang harus saya katakan kepada orang tua karena ternyata hingga hari ini saya belum juga diterima di kampus manapun. Ya Allah inikah jalan yang harus hamba tempuh ? Sudah genap enam kali namun belum jua membuahkan hasil. Sedih rasanya karena sampai bulan Juli 2010 ini saya belum memastikan satu kursi untuk kuliah. Padahal waktu sudah semakin menipis. Hanya tinggal bulan Agustus saja. Artinya harapan terbesar saya adalah STAN. Ya, ini memang impian terbesarku. Boleh jadi semua itu terjadi karena ALLAH ingin menguji saya sampai mentok. Untungnya saya masih bisa sabar dengan kondisi tersebut.

Melihat hal itu, keluarga saya yang lain yaitu kaka dari mamah atau Ua menyarankan saya untuk mengikuti Ujian Mandiri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kebetulan putri dari beliau yang bernama Raina Fatia Karima sudah memastikan tempat disana dengan mengambil jurusan psikologi. Atas saran dari beliau, akhirnya saya mendaftar UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, tiba-tiba saya mendapat surat dari Universitas Az-zahra Jakarta. Isi suratnya menyatakan bahwa saya dinyatakan diterima disana. Anehnya saya belum pernah ikut tes disana. Ternyata setelah diberi tahu, bahwasannya peserta UM PNJ yang gagal lolos dinyatakan diterima secara langsung di Universitas Az-zahra.

Sempat kami diskusikan terkait hal ini bersama keluarga. Az-zahra ini menjadi perjalanan ke tujuh saya. Hasil diskusi memutuskan saya tidak mengambil kampus ini. Dengan demikian hanya tinggal dua lagi kendaraan yang bisa digunakan, yaitu USM STAN dan UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengukir bintang kehidupan

Mengukir bintang kehidupan

Advertisements

4 thoughts on “Kegagalan demi kegagalan

  1. Selalu ada hal yg lebih baik yg telah Alloh SWT siapkan untuk kita dibalik kegagalan-kegagalan tersebut. Hal yg menurut kita tidak begitu baik ternyata memberikan hasil yg lebih dari yg kita impi-impikan. Itulah keagungan Tuhan. 🙂

    Sukses selalu kawan..!!

  2. Inilah hidup, saya baru baca artikel ente brader. Kisah anda sama seperti saya, bahkan sampai skrng pun saya masih mengalami kegagalan. Tes masuk perguruan tinggi negeri gagal, sehingga saya mutuskan untuk kuliah di PTS. Setelah lulus saya tes di sejumlah BUMN yang saya mengalami kegagalan sampai 8 kali. Pada hari ini saya tidak lulus seleksi berkas di Kemenkumhan dan ini kegagalan saya yg paling menyedihkan. Saya sudah ujian CPNS sebanayak 6 kali dan ini yang pertama kali saya gagal di seleksi administrasi. Saya kacau saya merasa gagal. Ya mudah2an keimanan ini yang msih menguatkan saya.

  3. wah luar biasa Mas perjuangannya. Yang saya yakini setelah mengalami kegagalan pasti akan ada juga yang terbaik untuk kita. Allah selalu tahu yang terbaik untuk kita. Semoga Mas Azhar mendapat yang terbaik untuk kehidupannya. Sukses selalu mas 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s