Gagal STAN & PTN

Kini saya berfokus pada tujuan terbesar saya yaitu STAN. Pelaksanaan tes tinggal beberapa minggu lagi. Persiapan yang dilakukan semakin matang dan semakin optimis untuk mengikuti tes tersebut.

Dengan penuh keyakinan saya siap untuk tes. Pelaksanaan USM STAN di Universitas Budi Luhur Jakarta. Kami pergi ke Jakarta bersama-sama dengan rombongan SMAN 3 Kota Sukabumi. Pemberangkatan pada pukul 03.00 WIB. Malamnya saya menginap di rumah Kemal. Singkat cerita, saya melalui tes dengan optimisme yang tinggi. Bahkan saya yakin akan lulus ke STAN. Apalagi saya sempat bermimpi bahwa saya diterima di STAN. Semakin sumringah saja. Tinggal menunggu pembuktian saja, apakah ini bisa menjadi nyata atau hanya sekedar mimpi.

Hari-hari ku lalui dengan penuh do’a kepada Sang Maha Kuasa. Ketegangan terus menyelimuti setiap hari saya. Sebelum mendapatkan hasil dari STAN, saya harus mengikuti tes perjalanan yang terakhir yaitu UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pada perjalanan yang ke sembilan ini saya mempunyai kisah yang lebih indah untuk dikenang. Pada UM ini juga saya harus kembali ke Jakarta tepatnya di Ciputat. Lagi-lagi urusan tidur dimana saja, yang penting bisa ikut tes. Saya berangkat ke Jakarta bersama teman kecil saya yaitu Neng Yeni. Dia tinggal bersama teman pesantrennya. Dan Allhamdulillah saya pun mendapat tempat untuk tidur. Dengan dijemput teman sd saya, yaitu Deni. Saya mulai merasa tenang. Allhamdulillah saya mendapat tempat menginap di pesantren tempat ia mengikuti bimbingan masuk UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Malamnya saya sampaikan do’a kepada Yang Maha Kuasa. Dan paginya saya memulai tes dengan indah. Inilah jalan ALLAH yang telah digariskan. Tes terakhir ini begitu spesial karena saya bisa berkumpul dengan teman-teman SD, yaitu Izhar Azmi Faturrahman, Deni Abdul Hakim. Dan Neng Yeni Handayani. Sungguh hal yang tak disangka-sangka. Allhamdulillah, terima kasih Ya Allah atas segala nikmat yang telah Engkau berikan. Kini kami bisa bersilaturahim setelah sekian tahun kita tidak berjumpa. Semoga pertemuan ini bisa berlanjut lagi nantinya. Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

Waktu demi waktu terus dijalani dengan penuh harapan. Bila malampun ada akhirnya dan berganti dengan pagi yang indah, maka saya yakin semua yang saya lalui pasti akan tiba juga masanya saat sang pelangi hadir memberikan kebahagiaan untukku.

Penantian panjang selama ini akhirnya tiba juga. 03 Agustus 2010 menjadi tanggal yang akan menjadi sejarah. Apakah impianku ini akan terwujud ataukah hanya sebuah mimpi indah yang akan menjadi kenangan. Dengan ditemani dua sahabat saya yaitu Iqbal dan Izhar, kami pergi ke warnet untuk melihat hasil USM STAN. Dengan rasa dag-dig-dug saya tak kuasa melihatnya.

Bayangkan saja, dari total ratusan ribu pendaftar hanya beberapa ratus ribu saja yang diterima. Kami mulai melihat satu persatu daftar peserta yang diterima. Terus kami lihat namun juga tak ada nama Fauzi Noerwenda yang tercantum. Kami ulang terus hingga 3 kali namun tetap saja hasilnya nihil. Dari situ saya tak bisa berkata apa-apa. Mungkin inilah akhir dari perjuanganku. Kedua teman saya berusaha menenangkan saya dan mengantar pulang ke rumah. Tak kuasa saya mengatakan ini semua pada orang tua, akhirnya Iqbal yang buka mulut. Tampak raut wajah kekecewaan dari orang tua saya. Mereka ikut sedih dan mulai menasihati dengan nada tingginya. Tak kuat dengan itu semua, saya pergi ke kamar dan menangis meluapkan perasaan itu. Beruntung saya punya sahabat yang selalu menemani perjuanganku. Apalagi Iqbal yang telah sama-sama berjuang sejak kita kecil. Kini Iqbal sudah mencapai impiannya untuk berkuliah di UPI jurusan sastra sunda.

Aliran air mata ini tak bisa ku tahan. Entah apalagi yang harus saya lakukan. Berbagai macam tes sudah saya ikuti namun tak jua membuahkan hasil. Ya Allah cobaan apakah yang sedang melanda hamba. Hamba malu sudah menghabiskan banyak uang dari kantong orang tua namun hingga detik ini belum juga membuahkan hasil. Maafkan saya pak… Maafkan saya mah.. Maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan kebahagiaan untuk kalian. Maafkan saya yang belum juga memastikan satu tempat untuk kuliah. Ya Allah tolonglah hambamu ini. Berikanlah kesabaran, ketabahan, dan ketegaran untuk menghadapi semua ini. Hamba yakin janji-Mu itu benar. Kabulkanlah do’a hambamu ini Ya Rabb. Aamiin Yaa Rabbal Alamin.

Memang semua belum berakhir. Masih ada satu lagi yang menjadi harapan yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Dan pengumunannya tinggal beberapa hari lagi yaitu tanggal 08 Agustus 2010. Untuk pertama kalinya saya pasrah dengan hasil tes ini. Berbeda dengan biasanya yang selalu penuh semangat. Kali ini saya ikhlas apapun hasil yang terjadi. Dan saya pun siap bila harus berkuliah di kampung halaman sendiri, Sukabumi.

Tanpa harapan yang besar saya membuka pengumuman dari handphone. Dan Subhanallah ternyata nama Fauzi Noerwenda dinyatakan diterima di jurusan Manajemen Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Langsung saya beritahukan hal ini pada orang tua. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya kami menangis bersama karena mereka merasa bahagia dengan hasil ini. Ayah langsung menelpon nenek sambil menangis memberi tahu hasil ini. Kami bersyukur karena akhirnya perjalanku sampai pada bandara yang tepat. Terima Kasih Ya Allah. Terima kasih atas segala kelancaran ini.

Semoga ini yang terbaik bagi hamba. Aamiin..

Euforia keberhasilan ini terus kami syukuri. Selanjutnya kami harus segera melakukan daftar ulang. Ketika melihat berkas-berkas untuk daftar ulang, ternyata biaya pertama yang harus kami bayar lebih dari 20 juta. Hal itu membuat keluarga kami kembali dirundung kesedihan. Uang sebesar itu tidak sanggup kami membayarnya. Apalagi biaya semesternya yang menyentuh angka diatas 6 juta. Sungguh sangat berat sekali rasanya. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah nenek untuk membahas hal ini. Ternyata hasil dari diskusi tersebut mengharuskan saya untuk melepaskan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Kini habis sudah semua kendaraan yang saya rencanakan untuk digunakan. Artinya saya harus ikhlas untuk menggunakan kendaraan yang ada, berarti saya akan berkuliah di Sukabumi. Rencana saya di STISIP (Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan) dengan mengambil jurusan Ilmu Pemerintahan.

Teringat akan sebuah ayat dalam al-qur’an surat al-baqoroh ayat 216 yang berbunyi :

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.

Mungkin itulah yang saya alami saat ini. Saya yakin ada hikmah dibalik ini semua. Dan pasti setiap ada perjalanan akan ada ujungnya.

Mengukir BIntang Kehidupan

Mengukir BIntang Kehidupan

Advertisements

Kegagalan demi kegagalan

Perjalanan pertama dimulai saat mengikuti PMDK ke IPB. Saya mengambil jurusan D3-Akuntansi dan D3-Manajemen Agribisnis. Perjalanan pertama ini bisa dibilang spekulasi. Background saya IPS bertolak belakang dengan kampus IPB yang sebetulnya sahabat karibnya jurusan IPA. Namun hasilnya ternyata benar-benar mengagetkan. Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 12 Maret 2010, saya mendapat surat dari kampus IPB dan ternyata saya dinyatakan DITERIMA sebagai calon mahasiswa IPB. Saya sangat bersyukur sekali atas hal itu. Orang tua pun ikut bangga atas keberhasilan saya. Apalagi setelah tahu, ternyata dari semua anak-anak jurusan IPS disekolah tidak ada yang diterima di IPB selain saya. Bangganya saya saat itu. Hehe J.. Tapi ternyata itu bukan tempat terbaik bagi saya untuk menimba ilmu. Setelah diskusi dengan kedua orang tua, akhirnya saya memutuskan untuk tidak mengambil PMDK IPB tersebut. Alasannya karena disana bukan S1, sehingga akan sulit untuk untuk menembus dunia kerja nantinya. Dengan begitu saya harus terus bersabar untuk menemukan tempat terbaik berkuliah. Karena saya yakin ALLAH SWT akan memberikan  yang terbaik.

Sambil menunggu persiapan USM STAN, saya pun tetap mengikuti tes ke universitas yang lainnya. Perjalanan kedua yang dilakukan yaitu SIMAK UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia). Jurusan yang dipilih yaitu, S1 Manajemen, S1 Akuntansi, dan S1 Ilmu Administrasi Fiskal. Pelaksanaan tes pada tanggal 11 April 2010 di SMAN 1 Kota Sukabumi. Saya akui, soal-soal SIMAK UI memiliki tingkat kesukaran yang tinggi. Sehingga agak pesimis juga terhadap tes yang kedua ini. Ternyata benar saja, ketika hari pengumuman tiba ternyata nama saya tidak tercantum. Artinya gagal maning-gagal maning. Namun itu tidak menyulutkan semangat saya. Karena katanya ketika kita sering gagal, maka sebetulnya kesuksesan sudah semakin dekat. Aamiin.

Dengan demikian perjalanan masih harus terus berlanjut. Saya yakin harapan itu pasti ada. Senyum orang tua terus mengiringi perjalan ini. Walau terkadang merasa malu karena belum juga mewujudkan impian mereka.

Akhirnya lanjut kepada perjalanan yang ketiga yaitu PMDK POLBAN (Politeknik Negeri Bandung). Di POLBAN saya mengambil jurusan D3 Akuntansi. Entah kenapa untuk tes yang ketiga ini ada rasa yang begitu optimis untuk menembus POLBAN. Bahkan saya merasa sering melihat tanda-tanda untuk kuliah disana. Hingga akhirnya dengan yakin saya mengatakan kepada kedua orang tua bahwa saya yakin dengan hasil PMDK. Tibalah pada hari pengumuman PMDK. Saya langsung online di lab komputer sekolah. Ketika di searching, nama Fauzi Noerwenda tidak ditemukan. Pikir saya mungkin koneksinya sedang gangguan. Kembali dicari tetap tidak ada. Namun teman saya yang bernama Imam ternyata ada. Berarti dapat dipastikan saya kembali gagal mendapatkan 1 kursi kuliah. Kegagalan kali ini begitu emosional. Keyakinan yang selama ini dirasakan ternyata tidak terwujud. Saya cukup kesal dan juga meneteskan air mata. Orang tua pun gelisah dengan kondisi saya. Bahkan nasihat mereka saya anggap sebagai luapan kemarahan. Padahal itulah sebenarnya yang terus mendorong saya untuk bangkit. Ketulusan sepasang bidadari yang senantiasa ada dikala suka maupun duka. Memang benar bahwa separuh kesuksesan kita adalah peran orang tua.

Beruntung saya memiliki orang tua seperti mereka yang terus mendorong dan percaya pada kesungguhan anaknya.

Selanjutnya terpaksa melakukan perjalanan yang keempat, melalui jalur SNMPTN. Kesedihan masih melanda ketika mulai melakukan pendaftaran SNMPTN. Rasa takut tidak mendapatkan kampus untuk kuliah terus membayangi alam bawah sadarku. Hingga akhirnya otak saya teracuni dengan keputusasaan. Untuk SNMPTN kali ini saya memilih jurusan yang sedikit peminatnya, karena memang saya hanya ingin mendapat satu tempat yang pasti seperti keinginan kedua orang tua. Jadilah Filsafat UI sebagai pilihan yang pertama dan Ilmu Ekonomi Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai pilihan kedua. Tes pun dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2010 di Universitas Muhammadiyah Kota Sukabumi. Selama 2 hari pelaksanaan tes dapat dilalui dengan mudah. Terus saya panjatkan do’a kepada Sang Maha Kuasa untuk meminta yang terbaik bagi kehidupan saya. Hari pengumuman hasil tes akhirnya tiba. Saat itu saya tidak melihat secara langsung hasilnya karena dirumah tidak ada koneksi internet. Namun saya diberi tahu oleh paman bahwa nama saya masuk dan diterima di Ilmu Filsafat Universitas Indonesia. Awalnya saya pikir ini akhir dari perjuanganku mendapatkan satu kursi untuk kuliah. Ternyata kondisinya berbeda dari yang dibayangkan. Diawali paman yang menghubungi orang tua, dia menyarankan agar saya jangan mengambil jurusan filsafat. Intinya mereka menanyakan apa-apaan saya mengambil jurusan itu dan mau jadi apa nantinya. Segala macam pertanyaan terus bergentayangan dari mulai orang tua, paman, dan seluruh keluarga lainnya. Ok, saya akui ini memang kesalahan saya yang waktu itu merasa putus asa untuk berkuliah. Jadilah Ilmu Filsafat sebagai pilihannya. Dan dapat disimpulkan, hasil dari SNMPTN ini pun tidak diambil. Artinya perjalanan yang harus ditempuh masih panjang.

Tenggat waktu memasuki dunia perkuliahan semakin dekat. Dikala teman-teman yang lain sudah berbahagia karena sudah memastikan dimana mereka akan berkuliah. Saya masih harus berkutat dengan tes-tes yang diikuti. Kalau bukan adanya keyakinan saya kepada ALLAH SWT, saya mungkin sudah menyerah begitu saja. Namun saya yakin rasa sedih dari perjuangan ini akan terasa manis suatu saat nanti. Karena hasil itu mengikuti dari usaha yang telah kita lakukan, seperti perkataan sahabat saya dulu Karla Monica.

Perjalanan kelima pun dilakukan. UMB PTN (Ujian Masuk  Bersama Perguruan Tinggi Negeri) menjadi kendaraannya. Tujuan yang dipilih kembali menempatkan UI sebagai pilihan utama dengan jurusan manajemen. Pilihan kedua ekonomi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan pilihan ketiga ilmu ekonomi pembangunan Universitas Negeri Jakarta. Pada tes kali ini saya benar-benar melakukan sebuah perjalanan yang begitu luar biasa. Tes kali ini dilaksanakan di Bandung, tepatnya di SMAN 2 Pasundan Cihampelas. Dengan modal nekat saya tetap akan berangkat sendirian walaupun saat itu tidak tahu Bandung sama sekali dan tidak tahu akan tidur dimana nantinya. Namun saya yakin ALLAH SWT akan membantu perjalanan yang mulia ini. Dan benar saja, sebelum berangkat. Ada 2 orang teman saya yang juga ikut UMB PTN, yaitu Kemal dan Moedrika. Allhamdulillah akhirnya kami bertiga melakukan perjalanan bersama dan ternyata Kemal mempunyai kaka yang tinggal di bandung dan dekat dengan tempat kami tes. Subhanallah.. Begitu banyak keajaiban yang ALLAH tunjukan selama proses perjalanan menuju dunia kampus. Singkat cerita saya pun mengikuti tes dengan penuh semangat. Dan mengakhiri cerita di Bandung dengan sebuh optimisme yang menggebu.

Namun semuanya berbalik 180° ketika pengumuman hasil tes tiba. Kembali kekecewaan menghampiriku saat nama Fauzi Noerwenda lagi-lagi tidak diterima di UI, UIN, ataupun UNJ. Kali ini tetesan air mata menemani kesendirian saya di kamar. Kesedihan terus menggelayuti, ketakutan tidak mempunyai masa depan cerah seakan-akan menjadi momok yang terus membayangi. Lagi-lagi keimanan yang menyelamatkan diri saya saat itu. Saya mencoba tegar dari kondisi yang ada dan tetap berpikir positif serta semakin yakin bahwa ALLAH pasti memberikan yang terbaik. Apalagi USM STAN belum dilaksanakan. Optimisme berkuliah di STAN seakan menutup kesedihan saya belakangan ini.

Dengan penuh semangat saya mengikuti les privat USM STAN. Satu minggu 3 kali tatap muka yang dilakukan. Karena  hanya tinggal beberapa bulan lagi USM STAN tiba.

Kondisi yang belum aman membuat keluarga saya, termasuk paman saya yang di depok khawatir. Ia menyarankan untuk mengikuti Ujian Mandiri PNJ (Politeknik Negeri Jakarta). Tanpa pikir panjang akhirnya kedua orang tua setuju untuk menjadikan PNJ ini sebagai perjalanan yang keenam untuk menembus dunia kampus. Di PNJ saya memilih jurusan D3 Akuntansi dan D3 Keuangan Perbankan. Pelaksanaan tes pada tanggal 24 Juli 2012 di Kampus PNJ Depok. Dengan begitu saya harus pergi lebih awal dan menginap di rumah paman saya di Depok. Sebelum tes saya mendapat nasihat dari beliau. Allhamdulillah nasihatnya begitu membangun dan membuat saya tetap semangat mengikuti tes ini.

Selama 2 hari tes, saya ditemani oleh saudara sepupu yang bernama Tegar. Dia begitu baik dan ikhlas mengantarkan saya sampai lokasi dan menunggu sampai tes selesai. Satu hal yang patut disyukuri dari kondisi ini yaitu saya memiliki keluarga yang benar-benar sayang kepada saya. Allhamdulillah terima kasih Ya Allah.

Waktu penantian akhirnya tiba. Ku nyalakan komputer dan ku sambungkan dengan internet untuk segera melihat hasil tesku. Ku lihat dan hasilnya membuat saya tak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang harus saya katakan kepada orang tua karena ternyata hingga hari ini saya belum juga diterima di kampus manapun. Ya Allah inikah jalan yang harus hamba tempuh ? Sudah genap enam kali namun belum jua membuahkan hasil. Sedih rasanya karena sampai bulan Juli 2010 ini saya belum memastikan satu kursi untuk kuliah. Padahal waktu sudah semakin menipis. Hanya tinggal bulan Agustus saja. Artinya harapan terbesar saya adalah STAN. Ya, ini memang impian terbesarku. Boleh jadi semua itu terjadi karena ALLAH ingin menguji saya sampai mentok. Untungnya saya masih bisa sabar dengan kondisi tersebut.

Melihat hal itu, keluarga saya yang lain yaitu kaka dari mamah atau Ua menyarankan saya untuk mengikuti Ujian Mandiri UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kebetulan putri dari beliau yang bernama Raina Fatia Karima sudah memastikan tempat disana dengan mengambil jurusan psikologi. Atas saran dari beliau, akhirnya saya mendaftar UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selain itu, tiba-tiba saya mendapat surat dari Universitas Az-zahra Jakarta. Isi suratnya menyatakan bahwa saya dinyatakan diterima disana. Anehnya saya belum pernah ikut tes disana. Ternyata setelah diberi tahu, bahwasannya peserta UM PNJ yang gagal lolos dinyatakan diterima secara langsung di Universitas Az-zahra.

Sempat kami diskusikan terkait hal ini bersama keluarga. Az-zahra ini menjadi perjalanan ke tujuh saya. Hasil diskusi memutuskan saya tidak mengambil kampus ini. Dengan demikian hanya tinggal dua lagi kendaraan yang bisa digunakan, yaitu USM STAN dan UM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mengukir bintang kehidupan

Mengukir bintang kehidupan

Misteri dibalik kegagalan

Kisah baru dimulai ketika akan menginjakan ke dunia baru yang penuh dengan tantangan, yaitu dunia kampus. Dunia yang selama ini orang-orang inginkan termasuk orang tua saya. Perjuangan untuk menembus kampus ternama begitu besar dan penuh semangat. Saat itu saya sangat berhasrat sekali untuk kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), karena ingin bekerja dan menjadi Direktur Jendral Pajak. Berbagai kursus diikuti untuk mewujudkan impianku kuliah disana. Mulai dari try out USM STAN, Kursus USM STAN, serta les privat bahasa inggris khusus membahas soal-soal USM STAN.

Persaingan untuk menembus STAN begitu ketat. Berbagai orang dari seluruh penjuru nusantara ikut memperebutkan satu kursi disana. Hal itu karena setelah kita lulus kuliah, maka kita akan langsung disalurkan kerja ke dinas-dinas dibawah naungan Kementrian Keuangan Republik Indonesia bahkan kita diberi uang saku selama proses perkuliahan berlangsung dan biaya kuliahnya gratis. Jadi wajar perebutan kursi di STAN sangat sulit.

Sadar akan hal itu, saya pun harus mempunyai cadangan bilamana impian pertama saya tidak terwujud. Maka saya membidik FE UI (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) sebagai target kedua. Untuk menembus UI, saya mengikuti SIMAK UI, UMB PTN, dan SNMPTN.

Perjuanganku untuk mendapat kampus terbaik terus dilakukan. Hal itu semakin bergelora karena orang tua sangat mendukung untuk berkuliah. Saya terus menjaga impian untuk berkuliah di STAN dan UI. Namun untuk mendapatkan satu tempat yang pasti, maka saya harus mencari selain STAN dan UI. Akhirnya setiap ada tes perguruan tinggi, saya selalu ikuti. Jadinya setiap bulan selalu ada tes perguruan tinggi. Hahaha… Dahsyat juga perjuanganku saat itu.

Uniknya saya sangat berhasrat sekali untuk kuliah di Jakarta. Dan sangat menghindari Bandung sebagai tujuan kuliah. Entah kenapa itu bisa terjadi yang pasti inilah indahnya rencana yang telah ALLAH setting. Dan inilah petualangan indah yang telah dilalui.

mengukir bintang kehidupan

mengukir bintang kehidupan

Pelajaran Sempurna

Keluarga adalah harta yang tak akan pernah hilang sampai kapan pun. Beruntung saya dilahirkan di tengah keluarga yang begitu sayang terhadapku. Waktu terus berjalan dan tanpa terasa saya telah tumbuh dewasa. Kami sekeluarga, bersama orang tua dan adik melewati hari-hari dengan berbagai macam warna.

Ayah begitu disiplin dalam mendidik. Beliau selalu tegas dan menghargai waktu dalam setiap harinya. Saya yang saat itu belum paham makna kehidupan merasa sering mengeluh dengan kedisiplinannya.

Ibu yang bawel selalu membuat saya terbayang dalam setiap melakukan aktivitas. Kata-kata yang sering terlontar dalam mulutnya adalah lakukanlah pekerjaan dengan cepat dan jangan ditunda-tunda.

Metode yang diterapkan oleh orang tua saya membuat saya harus terus berlari saat orang lain berjalan. Pada saat kecil memang saya sering membantah karena hal itu. Tapi ternyata, modal itulah yang ternyata membuat saya mampu menjadi pribadi pemenang dalam setiap kegiatan. Dengan modal disiplin dan tegas pada diri sendiri, saya mulai merasakan hasil dari setiap perkataan yang orang tua saya lontarkan.

Kini proses hidupku terus berjalan menuju kebahagiaan. Kebahagiaan yang ingin saya berikan pada keluarga yang tak pernah henti mencintaiku. Sahabat semua, percayalah, seperti apapun keluarga bersikap pada kita, sesungguhnya mereka sedang mempersiapkan kebahagiaan kepada anda semua. Maka bersikaplah baik pada kedua orang tua kita khususnya.

Hal itulah yang menjadi rasa syukurku kepada Allah SWT. Rasa syukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan. Sahabat semua, mari kita sama-sama syukuri atas pemberian rezeki berupa keluarga yang begitu penuh cinta.

Ya Allah, hamba bersyukur pada-Mu, karena Engkau telah memberikan harta yang sangat berupa keluarga yang penuh dengan cinta. Keluarga inilah yang menjadi tempat dimana hamba menempa diri untuk menghadapi berbagai macam tantangan hidup. Terima kasih Ya Allah.

Kekuatan Nama

Kelahiran bayi tersebut membuat bahagia seluruh keluarga. Kini waktunya memberikan identitas pada saya. Ternyata membuat nama bukanlah yang mudah, karena banyak makna yang terkandung dari nama setiap orang.

Percaya atau tidak, kesuksesan seseorang yang telah diraihnya ternyata berawal dari sebuah nama. Nama memiliki makna yang sangat hebat pengaruhnya dalam kehidupan.

Pernah terjadi dalam sebuah dongeng, ada seorang anak yang sering sakit-sakitan. Sudah diobati dengan berbagai macam obat dan berbagai jenis dokter tapi ternyata belum sembuh juga. Kemudian ada yang menyarankan kepada orang tuanya untuk mengganti nama dari anak tersebut. Karena sudah buntu untuk berpikir apalagi. Akhirnya ia mengikuti perkataan itu. Ia pun mengganti nama anak tersebut. Subhnallah, setelah beberapa hari anak tersebut sembuh dengan tanpa pengobatan.

Berbicara nama, saya pun punya sejarah tersendiri. Tentunya memiliki makna yang sangat hebat pula. Adalah ayah yang memberikan nama pada saya.

Menurut cerita dari kedua orang tua, nama Fauzi diambil dari serapan bahasa arab yang akar katanya adalah Faudzul yang artinya kemenangan. Sementara Noerwenda ternyata adalah nama belakang yang diambil ayah saya dari seorang temannya yang berprofesi sebagai pengacara sukses. Sehingga harapannya suatu saat nanti saya harus bisa sukses seperti nama teman ayah. Tapi Noer sendiri memiliki makna cahaya. Karena diambil dari akar kata bahasa arab, yaitu Nur. Dengan begitu Fauzi Noerwenda memiliki makna yang sangat dahsyat, yaitu seseorang yang memiliki cahaya kemenangan sehingga dalam setiap aktivitasnya ia selalu menjadi pemenang. Maka saya sebut diri saya sebagai “SANG PEMENANG”.

Perlu bukti ??? silahkan sahabat baca di bab selanjutnya bagaimana keajaiban dari nama itu ternyata terjadi.

Sahabat, apakah masih meragukan sebuah nama ? Atau bahkan belum tahu makna dari nama kita seperti apa. Segera cari tahu dan rasakan sensasi dari nama yang kita miliki.

Terlahir ke dunia

Dua puluh tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 25 November 1991 lahirlah seorang bayi lucu dari pasangan Suryana dan Ely Sunarti. Bayi tersebut dilahirkan pada hari senin malam di Rumah Sakit Syamsudin S.H Kota Sukabumi. Perjuangan sang ibu untuk melahirkan anak pertamanya begitu luar biasa. Banyak sekali darah yang beliau korbankan. Akhirnya setelah melalui perjalanan yang panjang, lahirlah bayi tersebut dengan operasi cesar. Maka tangisan pun menandai kelahiran Sang Penjemput Pelangi. Sang pemimpin masa depan.

Fauzi Noerwenda

Fauzi Noerwenda

Mengapa Bintang Kehidupan ?

Waktu bergulir dengan cepatnya. Tak terasa 20 tahun sudah saya berada dalam dunia yang sebetulnya hanyalah singgahan belaka. Kadang saya berpikir waktu berjalan begitu cepat saat melewati masa-masa bahagiaku, tapi ternyata terasa lambat saat banyak masalah yang mendera.

Hidup menungguku untuk segera mewujudkan segala apa yang ku impikan. Dengan berbagai macam jalan, saya melewati setiap petualangan kehidupan ini dengan penuh misteri. Mengukir Bintang Kehidupan melalui perjalanan menjemput pelangi ! Itulah tajuk yang akan ku ceritakan pada buku ini. Sebuah perjalanan panjang yang akan ku lewati untuk menemukan bintang kehidupanku.

Bintang adalah sesuatu yang indah. Saat kegelapan tiba, maka bintang hadir untuk memberikan cahayanya pada dunia. Begitu pula saya, bintang itulah yang akan saya berikan. Saat dunia gelap gulita, maka saya akan hadir untuk terus memberikan cahaya untuk menyinari dunia.

Lantas mengapa harus pelangi ? Bagiku pelangi adalah hal yang indah. Hal yang mampu membuat semua orang untuk melihatnya walau sekejap. Ya sekejap, karena pelangi hadir hanya sebentar. Saat hujan mulai turun, kemudian berhenti, maka saat itulah sang pelangi akan hadir memberikan warnanya pada dunia.

Begitu pun saya. Filosofi itulah yang ingin saya hadirkan pada perjalanan ini. Yang ku cari selama ini ternyata adalah sebuah pelangi. Pelangi yang berwujud menjadi sebuah impian dan harapan kita yang berasal dari passion hidup kita. Perjalanan menjemput pelangi itu tak mudah. Jarang sekali orang akan berhasil meraihnya. Hujan dan badai harus dilalui terlebih dahulu. Impian kita pun nantinya akan terbentur dengan segala macam halangan, rintangan, dan tantangan yang akan senantiasa mengawasi kita setiap waktu. Jika kita lengah, maka kita akan hancur disambarnya. Maka, memang dibutuhkan kerja keras dan keyakinan untuk meraihnya.

Mengapa harus menjemput ? Saya beranggapan, bahwa pada dasarnya manusia itu telah memiliki jalan suksesnya masing-masing. Ada pohon kesuksesan yang telah kita miliki. Namun hanya orang-orang yang mampu melihat itu semua yang nantinya akan berhasil.

Maka dengan tegas saya katakan, segera JEMPUT PELANGIMU ! Mulailah dengan melihat pintu mana yang memang adalah dirimu. Lalu jika sudah tahu dimana letak pintu kesuksesan kita, masuk dan melangkahlah dengan yakin. Setelah kau berada di pintu, maka sesungguhnya kau sudah berada di jalur yang tepat, tinggal bagaimana kita terus berjalan dan berlari hingga akhirnya sampai pada jemputan kita, PELANGI.

Apa yang ku lakukan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari perjalanan panjang yang akan segera ku lalui. Kini ku sudah tahu dimana pintuku berada. Untuk itu saya akan terus berlari bahkan terbang untuk menjemput pelangi hidupku.

Sahabat, mari kita jemput bersama-sama untuk mewujudkan segala apa yang telah kita impikan. Membuat bahagia orang-orang yang selalu mencintai kita. Hingga akhirnya kita meraih kebahagiaan yang hakiki, kebahagiaan dunia dan akhirat.

BIntang kehidupan

BIntang kehidupan